Kompas.com - 21/01/2022, 18:32 WIB
Fenomena salju turun di Gurun Sahara, telah sejak lama terjadi. Kendati fenomena salju turun di kawasan padang pasir adalah hal yang tidak biasa, namun menurut ahli peristiwa itu bukan hal yang jarang didengar. SHUTTERSTOCK/derdour rachidFenomena salju turun di Gurun Sahara, telah sejak lama terjadi. Kendati fenomena salju turun di kawasan padang pasir adalah hal yang tidak biasa, namun menurut ahli peristiwa itu bukan hal yang jarang didengar.


KOMPAS.com - Fenomena turunnya salju di Gurun Sahara termasuk kejadian langka. Berdasarkan laporan, kejadian turunnya salju pernah terjadi di gurun ini pada tahun 1979, 2017, 2018 dan 2021 lalu.

Melansir Independent, Kamis (20/1/2022) hujan salju kali ini menyisakan suatu pola yang indah di bukit pasir Gurun Sahara setelah penurunan suhu tajam di bawah nol derajat.

Kepala di Federal Service for Hydrometeorology and Environmental Monitoring Rusia, Roman Vilfand mengungkapkan bahwa perubahan iklim dapat berperan dalam hujan salju Gurun Sahara.

“Situasi seperti itu, termasuk hujan salju di Sahara, musim dingin yang panjang di Amerika Utara, cuaca yang sangat hangat di bagian Eropa Rusia serta hujan berkelanjutan yang memicu banjir di negara-negara Eropa Barat lebih sering terjadi,” terangnya.

Dia menambahkan, cuaca ekstrem yang terus berulang saat ini mungkin disebabkan dari pemanasan global.

Baca juga: Keempat Kalinya dalam 42 Tahun, Salju Turun di Sahara

 

"Ini bukan hanya sudut pandang saya, tetapi juga pendapat yang dibagikan oleh anggota panel antar pemerintah terkait perubahan iklim,” sambung Vilfand menanggapi kemungkinan perubahan iklim menjadi penyebab fenomena salju turun di Gurun Sahara.

Sementara itu, Juru Bicara Badan Meteorologi Inggris yang tidak disebutkan namanya menjelaskan bahwa turunnya salju di Gurun Sahara adalah kejadian yang tidak biasa.

Namun, bukan hal yang tidak pernah didengar sebelumnya.

Menurutnya, saat ini cukup sulit untuk menentukan peran dari perubahan iklim dalam satu peristiwa cuaca, tetapi bidang keilmuan yang ada mungkin bisa menjelaskan fenomen tersebut.

Sebelumnya, Intergovernmental Panel on Climate Change PBB (IPCC), otoritas dunia untuk ilmu iklim pada 2018 juga mengatakan bahwa mengidentifikasi iklim yang ekstrem di wilayah gurun ini terhambat oleh kurangnya data dan studi ilmiah terkait fenomena salju turun di Gurun Sahara.

Baca juga: Mendadak Diselimuti Salju Setebal 40 Cm, Ada Apa di Sahara?

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.