Kompas.com - 26/02/2021, 10:02 WIB
Banjir yang masih menggenangi wilayah RW 011, Kelurahan Periuk, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Banten sampai Senin (22/2/2021) siang sejak Sabtu (20/2/2021). Banjir di wilayah tersebut akibat luapan Kali Ciracap dan hujan dengan intensitas tinggi pada Sabtu pekan lalu. KOMPAS.com/MUHAMMAD NAUFALBanjir yang masih menggenangi wilayah RW 011, Kelurahan Periuk, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Banten sampai Senin (22/2/2021) siang sejak Sabtu (20/2/2021). Banjir di wilayah tersebut akibat luapan Kali Ciracap dan hujan dengan intensitas tinggi pada Sabtu pekan lalu.
-


KOMPAS.com- Indonesia sedang mengalami musim hujan. Setiap hari, hujan turun dan tidak jarang dengan intensitas tinggi dan durasi turunnya hujan bisa seharian penuh, sehingga dapat menyebabkan banjir.

Dalam Rahasia Alam Semesta ini, peneliti Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan mengapa hujan seharian bisa menyebabkan bencana banjir.

Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI, M Fakhrudin mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor yang bisa menyebabkan banjir.

Faktor penyebab banjir yang paling utama adalah curah hujan. Intensitas curah hujan sendiri bervariasi, ada hujan lebat sampai hujan sangat lebat dan menghasilkan air yang banyak.

Hal ini juga berkaitan dengan durasi atau waktu lama terjadinya hujan.

Baca juga: Banjir di Mana-mana, Benarkah Musim Hujan Tahun Ini Lebih Basah?

"Misalnya, saat hujan (turun) 100 mm dalam 1 hari (100mm/hari) berbeda dengan 100 mm dalam 1 jam. Ini akan memberikan respons yang berbeda," jelas Fakhrudin ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (25/2/2021).

Fakhrudin menambahkan bahwa hal ini juga ada kaitannya dengan seberapa kuat kemampuan infiltrasi pada tanah itu sendiri. Infiltrasi adalah proses penyerapan air hujan yang turun dan diserap oleh tanah.

Daya serap tanah yang kecil bisa dipengaruhi oleh beberapa hal, bisa karena jenis penggunaan lahan, kadar lengas tanah, atau bisa juga karena semakin minimnya kawasan hijau yang ditumbuhi pohon. 

Kemudian, air yang tidak dapat diserap oleh tanah ini, akan mengalir ke tempat yang lebih rendah dan masuk ke saluran kecil atau sistem drainase yang biasanya ada di pemukiman. 

Baca juga: Banjir Jakarta dan Bekasi, Ini Daftar Wilayah Masih Berpeluang Hujan

Kemampuan sistem drainase untuk membawa air hujan kembali ke sungai atau laut ini juga berpengaruh. Di permukiman seperti Jakarta, sistem drainase cenderung datar dan sekitar 40 persen berada di bawah permukaan laut. 

"Terlebih pada saat air yang tidak bisa diserap oleh tanah jumlahnya sangat banyak melebihi biasanya," lanjut Fakhrudin. 

Ini akan menyebabkan sungai penuh dan meluap, kemudian menyebabkan genangan air atau yang kita kenal dengan banjir.

Saat ini, akibat curah hujan tinggi di beberapa wilayah Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya menyebabkan bencana banjir. Banjir Jakarta dan Bekasi, bahkan merendam rumah warga dengan beragam ketinggian air.

Baca juga: Kenapa Udara Panas Saat Mau Hujan?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hari Ini, Ada Fenomena Konjungsi Superior Merkurius dan Bulan-Pollux

Hari Ini, Ada Fenomena Konjungsi Superior Merkurius dan Bulan-Pollux

Fenomena
BMKG: Siklon Tropis Surigae Melemah, tapi Masih Memengaruhi Cuaca di Wilayah Ini

BMKG: Siklon Tropis Surigae Melemah, tapi Masih Memengaruhi Cuaca di Wilayah Ini

Fenomena
Kebanyakan Orang Kesulitan Menurunkan Berat Badan dalam Jangka Panjang

Kebanyakan Orang Kesulitan Menurunkan Berat Badan dalam Jangka Panjang

Oh Begitu
Asal-usul Nama Magelang, Taktik Pangeran Purbaya Mengepung Jin

Asal-usul Nama Magelang, Taktik Pangeran Purbaya Mengepung Jin

Oh Begitu
Manfaat Tertawa untuk Kesehatan, Tingkatkan Imun hingga Bakar Kalori

Manfaat Tertawa untuk Kesehatan, Tingkatkan Imun hingga Bakar Kalori

Kita
[POPULER SAINS] Konten TikTok Pembukaan Persalinan Dikecam | Cat Terputih di Dunia untuk Perangi Pemanasan Global

[POPULER SAINS] Konten TikTok Pembukaan Persalinan Dikecam | Cat Terputih di Dunia untuk Perangi Pemanasan Global

Oh Begitu
Tenggorokan Kering dan Gatal saat Puasa, Apa yang Harus Dilakukan?

Tenggorokan Kering dan Gatal saat Puasa, Apa yang Harus Dilakukan?

Kita
Anjing Terlatih Bisa Mendeteksi Virus Corona dari Urine Manusia

Anjing Terlatih Bisa Mendeteksi Virus Corona dari Urine Manusia

Oh Begitu
Ilmuwan: Risiko Pembekuan Darah akibat Covid-19 Delapan Kali Lebih Tinggi dari Vaksin AstraZeneca

Ilmuwan: Risiko Pembekuan Darah akibat Covid-19 Delapan Kali Lebih Tinggi dari Vaksin AstraZeneca

Oh Begitu
Fakta Blobfish, Ikan Wajah Gendut yang Dijuluki Hewan Terjelek Sedunia

Fakta Blobfish, Ikan Wajah Gendut yang Dijuluki Hewan Terjelek Sedunia

Oh Begitu
Hasil Uji Vaksin Covid-19 Sinovac di Dunia Nyata, 80 Persen Efektif Cegah Kematian

Hasil Uji Vaksin Covid-19 Sinovac di Dunia Nyata, 80 Persen Efektif Cegah Kematian

Oh Begitu
6 Gejala Infeksi Sinusitis, Sakit Kepala hingga Hidung Tersumbat

6 Gejala Infeksi Sinusitis, Sakit Kepala hingga Hidung Tersumbat

Kita
Jangan Abaikan Jamur di Makanan, Berisiko Sebabkan Penyakit Termasuk Kanker

Jangan Abaikan Jamur di Makanan, Berisiko Sebabkan Penyakit Termasuk Kanker

Oh Begitu
Konten TikTok Pembukaan Persalinan Dinilai Pelecehan, IDI Diminta Beri Sanksi Tegas

Konten TikTok Pembukaan Persalinan Dinilai Pelecehan, IDI Diminta Beri Sanksi Tegas

Oh Begitu
Perangi Pemanasan Global, Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia

Perangi Pemanasan Global, Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia

Oh Begitu
komentar
Close Ads X