Kompas.com - 24/02/2021, 16:37 WIB
Kondisi stasiun kereta api Tawang Semarang, Rabu (23/2/2021). KOMPAS.com/RISKA FARASONALIAKondisi stasiun kereta api Tawang Semarang, Rabu (23/2/2021).

KOMPAS.com - Sejak awal Januari hingga Februari 2021, banjir dan banjir bandang telah merendam ribuan rumah masyarakat Indonesia di sejumlah wilayah provinsi.

Beberapa daerah yang turut dilanda banjir awal tahun 2021 ini adalah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Jombang, Karawang, Malang, Kalimantan Selatan, Kota Manado, Palopo, dan lainnya. 

Lantas, apakah ini pertanda musim hujan di tahun 2020-2021 ini lebih ekstrem daripada tahun sebelumnya?

Baca juga: Wilayah Indonesia yang Berpotensi Cuaca Ekstrem dan Banjir Bandang Pekan Ini

Mengenai persoalan ini, Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Supari PhD mengatakan bahwa memang benar musim hujan periode tahun 2020-2021 ini cenderung lebih basah daripada tahun-tahun sebelumnya.

"Dari analisis umumnya memng tahun 2020 (periode musim hujan 2020-2021) itu kecenderungannya (musim hujan) basah," kata Supari kepada Kompas.com, Rabu (24/2/2021).

Bahkan menurut Supari, dengan menghitung perbandingan untuk 40 tahun ke belakang yaitu sejak tahun 1981, periode musim hujan 2020-2021 ini masuk dalam 5 besar tahun cenderung basah.

"Jadi kalau kita rangking (secara) nasional begitu, tahun 2020-2021 itu masuk dalam 5 besar tahun terbasah," ujarnya.

Seperti diketahui, perhitungan musim hujan tidak hanya dihitung sejak awal setiap tahunnya. Sebab umumnya wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan sejak bulan Oktober akhir hingga awal November.

BMKG sendiri pada tahun 2020 yang lalu, telah mengeluarkan keterangan resminya bahwa musim hujan di Indonesia periode 2020-2021 pada sebagian wilayahnya sudah terjadi sejak akhir Oktober, dan sebagian lagi baru memasuki musim hujan pada November.

Periode musim hujan tersebut, telah dinyatakan dan diprediksikan akan berlangsung hingga bulan Maret-April 2021 ini.

Baca juga: Banjir Jakarta Akibat Cuaca Ekstrem, 4 Faktor Pemicunya Menurut BMKG

Namun, Supari mengatakan meskipun diprediksikan akan berakhir pada bulan Maret-April 2021, tetapi ada kecenderungan berakhirnya musim hujan akan mundur sekitar satu bulan.

"Ada kecenderungan bahwa awal musim kemarau tahun 2021 itu mundur, sehingga itu bisa diintrepretasikan bahwa akhir musim penghujannya juga mundur," jelasnya.

Oleh karena itu, ia menegaskan kepada masyarakat di wilayah rawan bencana masih harus siap siaga dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi curah hujan tinggi yang berisiko atau berdampak terhadap bencana hidrometeorologi.

"Terutama kalau di wilayah Jawa itu belum berakhir (musim hujan), sehingga potensi terjadi hujan itu masih cukup tinggi," ucap dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gempa Hari Ini, M 5,5 Guncang Nias di Zona Outer-rise Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini, M 5,5 Guncang Nias di Zona Outer-rise Tak Berpotensi Tsunami

Oh Begitu
Pasangan Pengantin Gay Thailand Dihujat Netizen Indonesia, Psikolog Sebut Ada Faktor Stres

Pasangan Pengantin Gay Thailand Dihujat Netizen Indonesia, Psikolog Sebut Ada Faktor Stres

Oh Begitu
Kutu Infeksi Anjing Peliharaan, Begini Cara Membasminya

Kutu Infeksi Anjing Peliharaan, Begini Cara Membasminya

Oh Begitu
Jejak Kaki Berumur 100.000 Tahun Ungkap Anak Neanderthal Bermain Pasir di Pantai

Jejak Kaki Berumur 100.000 Tahun Ungkap Anak Neanderthal Bermain Pasir di Pantai

Oh Begitu
Kotoran Kelelawar Berusia 4300 Bantu Ungkap Masa Lalu Bumi

Kotoran Kelelawar Berusia 4300 Bantu Ungkap Masa Lalu Bumi

Fenomena
Maia Estianty 2 Kali Positif Covid-19, Mengapa bisa Tertular Lagi?

Maia Estianty 2 Kali Positif Covid-19, Mengapa bisa Tertular Lagi?

Kita
Gempa Hari Ini: Selatan Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi M 5,1

Gempa Hari Ini: Selatan Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi M 5,1

Fenomena
BMKG: Awas Siklon Tropis Surigae Bisa Berkembang Jadi Badai Topan

BMKG: Awas Siklon Tropis Surigae Bisa Berkembang Jadi Badai Topan

Fenomena
7 Polemik Vaksin Nusantara, Uji Klinis Lanjut Meski Tak Ada Izin BPOM

7 Polemik Vaksin Nusantara, Uji Klinis Lanjut Meski Tak Ada Izin BPOM

Oh Begitu
Vaksin Nusantara Belum Diuji pada Hewan, Ahli Sebut Tak Wajar Diuji Langsung ke DPR

Vaksin Nusantara Belum Diuji pada Hewan, Ahli Sebut Tak Wajar Diuji Langsung ke DPR

Oh Begitu
Kemacetan Terusan Suez Picu Lonjakan Polusi, Tampak dari Luar Angkasa

Kemacetan Terusan Suez Picu Lonjakan Polusi, Tampak dari Luar Angkasa

Fenomena
BMKG Ungkap 4 Penyebab Ribuan Rumah Rusak Akibat Gempa Malang

BMKG Ungkap 4 Penyebab Ribuan Rumah Rusak Akibat Gempa Malang

Fenomena
Bibit Siklon Tropis 94W Terdeteksi, BMKG Minta Jangan Anggap Sepele

Bibit Siklon Tropis 94W Terdeteksi, BMKG Minta Jangan Anggap Sepele

Oh Begitu
Demi Kesehatan Tubuh, Ini 4 Jenis Makanan Terbaik untuk Berbuka Puasa

Demi Kesehatan Tubuh, Ini 4 Jenis Makanan Terbaik untuk Berbuka Puasa

Oh Begitu
Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Kotamobagu Sulut, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Kotamobagu Sulut, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
komentar
Close Ads X