Zakat dan Pelipur Lara Agar Warteg Kembali Berdaya

Kompas.com - 11/05/2021, 22:52 WIB
Ilustrasi lebaran, idul fitri SHUTTERSTOCK/Nature StyleIlustrasi lebaran, idul fitri

Oleh: Saidah Sakwan, MA*

BAGAI telur di ujung tanduk. Demikian gambaran pepatah tentang nasib pedagang warung tegal (warteg). Bahkan pandemi sudah menyebabkan sebagian mereka terjatuh dengan duka dan air mata yang berderai.

Merespons fakta yang memprihatinkan ini, selama beberapa pekan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melakukan rapat-rapat marathon untuk mencarikan solusi. Pertemuan-pertemuan digelar dengan para pemangku kepentingan ataustakeholders terkait, seperti perkumpulan dan paguyuban pedagang warteg.

Baca juga: Hikmah Ramadhan: Piramid, Tempat Firaun Melihat Tuhan?

Sejumlah media nasional, termasuk Kompas.com, mengutip pernyataan Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), Muchroni, memberitakan, ada sekitar 20.000an warteg di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) terancam dan sebagian sudah gulung tikar karena terdampak waspada wabah Covid-19.

Meski angka itu kemudian diklarifikasi menjadi berkurang separuh, namun hampir sebagian pelaku UMKM kuliner ini memilih pulang kampung. Karena pendapatan mereka terus menurun, akibat permintaan yang terbatas.

Pedagang yang rata-rata berasal dari Tegal dan Brebes, Jawa Tengah ini, biasa bermitra dengan sesama sebagai pihak yang dipercaya menjadi pengelola.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Satu pemilik bisa membawahi sekira tiga pramusaji. Untuk warung berukuran besar, otomatis punya jumlah pegawai lebih banyak.

Melalui perhitungan kasar, dengan asumsi sang pengelola telah menikah, maka ada sekitar lima jiwa yang secara langsung menggantungkan hidup mereka pada satu warung. Jika pengelola memiliki satu anak, berarti jumlah mereka menjadi enam orang.

Angka tersebut akan bertambah bila pebisnis makanan ini, sudah beristri dan beranak, turut dihitung. Jadi, total ada sembilan orang yang menggantungkan hidup secara langsung pada satu warteg.

Baca juga: Hikmah Ramadhan: Antara Mudik 2021 dan Prokes di Zaman Nabi Muhammad SAW

Jika ada 10.000 warteg dipukul rata menjadi sandaran hidup bagi sembilan orang, maka akan muncul angka 90.000 orang. Ibarat kartu domino, angka itu akan terus berlipat ganda jika keluarga para pengelola dan karyawan mereka turut diperhitungkan.

Halaman:

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.