Hikmah Ramadhan: Menggapai Ridlo Allah SWT

Kompas.com - 26/04/2020, 04:40 WIB
Jamaah melakukan sholat di Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat, Jumat (20/3/2020). Masjid Istiqlal menghentikan sementara kegiatan shalat Jumat selama dua pekan ke depan. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah penularan Covid-19. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGJamaah melakukan sholat di Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat, Jumat (20/3/2020). Masjid Istiqlal menghentikan sementara kegiatan shalat Jumat selama dua pekan ke depan. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah penularan Covid-19.

Oleh Luqmanul Hakim*

SETIAP individu Muslim seharusnya mempunyai obsesi dalam kehidupannya, baik untuk kebutuhan dunia maupun kepentingan akhiratnya.

Urusan dunia harus ditempatkan pada pemenuhan kebutuhan yang wajar yang diperlukan untuk mendukung aktivitas beribadah kepada Allah SWT dan berbuat baik kepada sesama makhluk ciptaan-Nya. Tidak hanya kepada sesama Muslim tapi kepada semua penghuni alam semesta ini.

Namun kenyataanya banyak orang menempatkan kepentingan dunia menjadi pilihan yang utama, seperti mengejar pangkat, jabatan, kedudukan, harta kekayaan dengan berbagai macam cara dan tipu muslihat. Dan hal seperti itu disadari sebagai perbuatan yang melanggar norma sosial dan agama.

Baca juga: Hikmah Ramadhan: Zuhud

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qurán surah Al Qashash ayat 77, “Tuntutlah dengan karunia Tuhan yang diberikan kepadamu (kepentingan) untuk kehidupan akhirat dan sama sekali jangan lupakan bahagiamu (kenikmatan) hidup dunia ini.”

Kepentingan untuk persiapan hari akhirat merupakan hal yang harus menjadi prioritas pertama dan utama, sedangkan kepentingan dunia hanya sebatas unuk memenuhi kebutuhan hidup dan berbuat baik kepada ciptaan-Nya.

Hal ini bukan berarti seorang Muslim tidak boleh menjadi orang kaya, punya kedudukan, pangkat, gelar, jabatan dan sejenisnya. Akan tetapi, kedudukan, pangkat, gelar, jabatan dan semuanya itu harus diperoleh dengan jalan yang baik dan sekadar sebagai kebutuhan pelengkap hidup untuk bekal akhirat.

Rasulullah SAW memberikan petunjuk dalam sabdanya, “Beramallah untuk (kenikmatan) hidup di dunia ini seolah-olah akan hidup selamanya, beramallah untuk kepentingan dan persiapan akhiratmu seolah-olah kamu akan meninggal besok."

Dalam kehidupan harus tawazun, dapat menyeimbangkan bekal hidup di dunia dan bekal pulang ke akhirat. Namun, kebanyakan manusia lebih condong kepada kepentingan dunia bukan kepentingan akhirat.

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini marilah kita kembali ke jalan Allah dengan mengerahkan seluruh daya upaya, tenaga, dan pikiran kita untuk menggapai ridlo Allah SWT.

Baca juga: Hikmah Ramadhan: Islam Agama Lapang di Tengah Pandemi Covid-19

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar