Negara Tetangga Diminta Bersiap Hadapi Kemungkinan “Runtuhnya Demokrasi AS”

Kompas.com - 04/01/2022, 18:33 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara seusai malam pemilihan umum di Ruangan Timur Gedung Putih, Washington DC, pada 4 November 2020. AFP PHOTO/MANDEL NGANPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara seusai malam pemilihan umum di Ruangan Timur Gedung Putih, Washington DC, pada 4 November 2020.

OTTAWA, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) bisa berada di bawah diktator sayap kanan pada 2030, menurut seorang profesor ilmu politik Kanada. Dia pun mendesak negara tetangga melindungi diri dari “runtuhnya demokrasi Amerika”.

“Kita tidak boleh mengabaikan kemungkinan ini hanya karena kelihatannya menggelikan atau terlalu mengerikan untuk dibayangkan,” kata Thomas Homer-Dixon, direktur pendiri Cascade Institute di Royal Roads University di British Columbia, dalam tulisannya di Globe and Mail.

“Pada 2014, ide bahwa Donald Trump akan menjadi presiden juga mengejutkan hampir semua orang dan dinilai sebagai hal yang tidak masuk akal. Tetapi hari ini kita hidup di dunia di mana hal-hal yang absurd secara teratur menjadi nyata dan yang mengerikan menjadi biasa.”

Baca juga: Mayoritas Warga AS Sebut Trump Bertanggung Jawab atas Kerusuhan Capitol

Homer-Dixon secara blak-blakan memperingatkan bahwa pada 2025, demokrasi AS dapat runtuh. Kondisi itu bisa menyebabkan ketidakstabilan politik domestik yang ekstrem, termasuk kekerasan sipil yang luas.

“Pada 2030, jika tidak lebih cepat, negara itu (AS) dapat diatur oleh kediktatoran sayap kanan,” ujarnya melansir Guardian pada Senin (3/1/2022).

Profesor Kanada itu mengaitkan kemungkinan tersebut pada rencana kembalinya Trump ke Gedung Putih pada 2024.

Termasuk kemungkinan legislatif negara bagian yang dipegang Partai Republik, kembali menolak untuk menerima kemenangan Demokrat.

Homer-Dixon memperingatkan bahwa Trump “hanya akan memiliki dua tujuan, pembenaran dan pembalasan” soal kebohongan bahwa kekalahannya pada 2020 oleh Joe Biden adalah hasil dari kecurangan pemilu.

Sarjana konflik kekerasan selama lebih dari empat dekade ini juga mengatakan agar Kanada harus memperhatikan "krisis yang sedang berlangsung".

Pendukung Donald Trump menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. Mereka menolak ratifikasi kemenangan Joe Biden dalam Pilpres AS 2020. Setidaknya lima orang tewas dalam insiden yang kemudian dikenal sebagai Capitol Riot alias Kerusuhan Gedung Capitol. GETTY IMAGES NORTH AMERICA VIA AFP/BRENT STIRTON Pendukung Donald Trump menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. Mereka menolak ratifikasi kemenangan Joe Biden dalam Pilpres AS 2020. Setidaknya lima orang tewas dalam insiden yang kemudian dikenal sebagai Capitol Riot alias Kerusuhan Gedung Capitol.

Baca juga: Sebut Demokrasi sebagai Tantangan Keamanan Nasional AS, Wapres AS Beri Klarifikasi

“Badai yang mengerikan datang dari selatan, dan Kanada sangat tidak siap. Selama setahun terakhir kami telah mengalihkan perhatian kami ke dalam, terganggu oleh tantangan Covid-19, rekonsiliasi, dan efek percepatan perubahan iklim,” ujarnya.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Guardian
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.