Mayoritas Warga AS Sebut Trump Bertanggung Jawab atas Kerusuhan Capitol

Kompas.com - 04/01/2022, 13:22 WIB
Pendukung Donald Trump menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. Mereka menolak ratifikasi kemenangan Joe Biden dalam Pilpres AS 2020. Setidaknya lima orang tewas dalam insiden yang kemudian dikenal sebagai Capitol Riot alias Kerusuhan Gedung Capitol. GETTY IMAGES NORTH AMERICA VIA AFP/BRENT STIRTONPendukung Donald Trump menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. Mereka menolak ratifikasi kemenangan Joe Biden dalam Pilpres AS 2020. Setidaknya lima orang tewas dalam insiden yang kemudian dikenal sebagai Capitol Riot alias Kerusuhan Gedung Capitol.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Mayoritas orang Amerika mengutuk kerusuhan 6 Januari 2021 lalu.

Mereka percaya bahwa mantan presiden Donald Trump bertanggung jawab atas serangan kekerasan di Capitol.

Dilansir The Hill, jajak pendapat ABC News-Ipsos menemukan bahwa 72 persen orang Amerika mengatakan bahwa orang-orang yang terlibat dalam kerusuhan sebagian besar mengancam demokrasi.

Baca juga: Trump Minta Mahkamah Agung AS Tidak Rilis Dokumen Penyerbuan Capitol Hill

Sementara 25 persen mengatakan mereka sebagian besar melindungi demokrasi.

Jajak pendapat juga menemukan bahwa 58 persen orang yang disurvei mengatakan Trump memikul tanggung jawab yang besar atau cukup besar atas kerusuhan Capitol.

Sementara 41 persen yang mengatakan dia tidak memikul tanggung jawab atau hanya beberapa tanggung jawab saja.

Mayoritas orang Amerika juga mengatakan bahwa mereka percaya bahwa kemenangan pemilihan presiden tahun 2020 Joe Biden adalah sah, dengan 65 persen orang Amerika setuju.

Namun, sepertiga, atau sekitar 33 persen, mengatakan bahwa mereka menganggap kemenangan Biden tidak sah, bahkan setelah hampir satu tahun setelah dia dilantik.

Baca juga: Gedung Capitol AS Lockdown, Ada Staf Lolos Masuk Bawa Pistol

Temuan utama juga mulai menyimpang di sepanjang garis partisan.

ABC melaporkan, 45 persen dari Partai Republik percaya bahwa orang-orang yang terlibat dalam serangan di Capitol mengancam demokrasi, sementara 52 persen merasa mereka melindungi demokrasi.

Sebagai perbandingan, 96 persen Demokrat percaya mereka yang terlibat dalam serangan itu mengancam demokrasi.

Baca juga: Pengadilan Tolak Permintaan Trump Tidak Rilis Catatan Gedung Putih di Penyerbuan Capitol Hill

Jajak pendapat baru datang tepat sebelum peringatan satu tahun kerusuhan di mana para pendukung Trump menggeledah Capitol.

Mereka mencoba menghentikan Kongres untuk mengesahkan kemenangan Biden.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber The Hill
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kenapa Beberapa Orang Tak Segan Menonton Film Porno di Tempat Umum, Ini 3 Alasannya

Kenapa Beberapa Orang Tak Segan Menonton Film Porno di Tempat Umum, Ini 3 Alasannya

Global
Terungkap Motif Pelaku Penembakan Massal di Gereja AS: Punya “Kebencian Terhadap Taiwan”

Terungkap Motif Pelaku Penembakan Massal di Gereja AS: Punya “Kebencian Terhadap Taiwan”

Global
AS Peringatkan Agar Bisnis Tak Pekerjakan Pekerja IT dari Korea Utara

AS Peringatkan Agar Bisnis Tak Pekerjakan Pekerja IT dari Korea Utara

Global
Diboikot Negara Barat, Ekspor Minyak Rusia ke India Melonjak, Naik Jadi Pemasok Terbesar Keempat

Diboikot Negara Barat, Ekspor Minyak Rusia ke India Melonjak, Naik Jadi Pemasok Terbesar Keempat

Global
Warga Jepang dan Korsel Patuh Pakai Masker Meski Covid-19 Kian Mereda

Warga Jepang dan Korsel Patuh Pakai Masker Meski Covid-19 Kian Mereda

Global
AS Sukses Uji Coba Senjata Hipersonik 'Lima Kali Kecepatan Suara'

AS Sukses Uji Coba Senjata Hipersonik 'Lima Kali Kecepatan Suara'

Global
PM Estonia ke Para Pemimpin Dunia: Setop Telepon Putin Biar Rasakan Isolasi Sesungguhnya

PM Estonia ke Para Pemimpin Dunia: Setop Telepon Putin Biar Rasakan Isolasi Sesungguhnya

Global
Anjing Korban Kekerasan di Hongaria Dilatih Jadi Tim Misi NATO

Anjing Korban Kekerasan di Hongaria Dilatih Jadi Tim Misi NATO

Global
Bernama Sama dengan Majalah, Pub Bernama Vogue Diminta Ganti Nama

Bernama Sama dengan Majalah, Pub Bernama Vogue Diminta Ganti Nama

Global
Rusia: 265 Tentara Ukraina di Pabrik Baja Azovstal Mariupol Menyerahkan Diri

Rusia: 265 Tentara Ukraina di Pabrik Baja Azovstal Mariupol Menyerahkan Diri

Global
Kisah Penggalian Makam Firaun Tutankhamun 100 Tahun Lalu dan Sayatan Pertama yang Membedahnya

Kisah Penggalian Makam Firaun Tutankhamun 100 Tahun Lalu dan Sayatan Pertama yang Membedahnya

Global
Pasca-pemilu, Sekjen PBB Minta Lebanon Bentuk Pemerintah Inklusif

Pasca-pemilu, Sekjen PBB Minta Lebanon Bentuk Pemerintah Inklusif

Global
Imigrasi Batam Pastikan Dokumen UAS Lengkap Saat Mau ke Singapura

Imigrasi Batam Pastikan Dokumen UAS Lengkap Saat Mau ke Singapura

Global
Alasan Turki Tolak Swedia dan Finlandia Gabung NATO

Alasan Turki Tolak Swedia dan Finlandia Gabung NATO

Global
UAS Tak Diizinkan Masuk Singapura, Begini Tanggapan Dubes RI dan Kronologinya

UAS Tak Diizinkan Masuk Singapura, Begini Tanggapan Dubes RI dan Kronologinya

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.