Kompas.com - 26/10/2021, 07:45 WIB
Demonstran Sudan turun ke jalan-jalan untuk menuntut transisi pemerintah ke pemerintahan sipil di Khartoum, Sudan, Kamis (21/10/2021). Hubungan antara militer dan kelompok pro-demokrasi Sudan telah memburuk dalam beberapa pekan terakhir karena konflik di negara itu. AP PHOTO/MARWAN ALIDemonstran Sudan turun ke jalan-jalan untuk menuntut transisi pemerintah ke pemerintahan sipil di Khartoum, Sudan, Kamis (21/10/2021). Hubungan antara militer dan kelompok pro-demokrasi Sudan telah memburuk dalam beberapa pekan terakhir karena konflik di negara itu.

KHARTOUM, KOMPAS.com - Setidaknya 7 orang tewas dan 140 orang terluka setelah militer menembaki massa yang berunjuk rasa menentang kudeta Sudan.

Para pengunjuk rasa turun ke jalan setelah militer membubarkan pemerintahan sipil, menangkap para pemimpin politik dan menyerukan keadaan darurat pada Senin (25/10/2021).

Pasukan militer dilaporkan pergi dari rumah ke rumah di ibu kota Khartoum untuk menangkap para provokator lokal yang menggerakkan unjuk rasa.

Baca juga: Kudeta Sudan: Militer Bubarkan Pemerintah, Umumkan Keadaan Darurat

Saat ini negara-negara di dunia telah memprotes aksi militer untuk kudeta Sudan. Menurut laporan BBC pada Selasa (26/10/2021), AS menahan dana bantuan sebesar 700 juta dollar AS (Rp 10 triliun) sebagai bentuk protes kudeta Sudan.

Pemimpin kudeta Sudan, Gen Abdel Fattah Burhan, membenarkan tindakan militer dengan menyalahkan konflik politik pemerintahan sipil yang dinggap sudah merugikan negara.

Para pemimpin sipil dan pihak militer telah berselisih sejak penguasa lama Omar al-Bashir digulingkan pada 2 tahun lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat malam tiba pada Senin (25/10/2021), sejumlah besar pengunjuk rasa berada di jalan-jalan Khartoum dan kota-kota lain, menuntut kembalinya pemerintahan sipil, kata reporter BBC Arab Mohamed Osman melaporkan dari ibu kota.

Baca juga: Kudeta Sudan: PM Abdalla Hamdok Dibawa ke Tempat Rahasia

Salah satu demonstran yang terluka mengatakan kepada BBC bahwa kakinya tertembak oleh tentara di luar markas besar militer.

Demonstran lainnya mengatakan bahwa militer menembakkan granat kejut, kemudian menghujani massa dengan peluru tajam.

"Dua orang meninggal, saya melihat mereka dengan mata kepala sendiri," kata Al-Tayeb Mohamed Ahmed, salah satu pengunjuk rasa.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber BBC
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.