Kompas.com - 08/09/2021, 20:24 WIB
Puluhan wanita menikahi puluhan pohon untuk menentang rencana pembangunan kota Bristol, Inggris. BRISTOLLIVE via TWITTER Puluhan wanita menikahi puluhan pohon untuk menentang rencana pembangunan kota Bristol, Inggris.

LONDON, KOMPAS.com - Dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran seputar rencana pembangunan di Bristol, Inggris, lebih dari 70 wanita "menikah" dengan pohon yang ada di lokasi yang diusulkan untuk sejumlah proyek.

Menurut BBC, penyelenggara mengatakan mereka khawatir tentang dampak pembangunan 166 apartemen di tanah di Bristol.

Baca juga: Pasangan Ini Kisahkan Bertengger di Pohon Selama 10 Hari karena Diburu Beruang

Para "pengantin" mengenakan gaun dari berbagai budaya saat upacara berlangsung.

"Menikah dengan pohon adalah hak istimewa yang mutlak," kata Suzan Hackett, seorang juru kampanye dan "pengantin", kepada BBC.

"Ini bukan hanya isyarat sentimental, itu sangat signifikan dan simbolis. Pohon adalah contoh murni dari cinta tanpa syarat, yang sangat cocok dengan seluruh gagasan pernikahan. Pernikahan adalah untuk hidup, bernafas (oksigen dari pohon) untuk hidup."

Penyelenggara acara Siobhan Kierans mengatakan dia berharap upacara tersebut menyampaikan pesan bahwa "pohon adalah mitra hidup kita."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut laporan BBC, penyelenggara mengatakan terinspirasi oleh gerakan Chipko di India.

Sebuah artikel yang diterbitkan di Right Livelihood menjelaskan perempuan dimobilisasi pada 1970-an untuk menghadapi para penebang pohon dalam sebuah gerakan tanpa kekerasan.

Tujuan mereka adalah untuk melindungi hutan India, ketika terjadi peningkatan deforestasi untuk perdagangan. Para pengunjuk rasa memeluk pohon untuk melindungi mereka dari para penebang, yang menginspirasi nama gerakan itu.

Baca juga: Penguburan Pohon, Trik Jepang Tangani Berkurangnya Lahan Permakaman

Dewan Kota Bristol menolak berkomentar kepada BBC karena perencanaan pembangunan saat ini sedang ditinjau, dan tidak menanggapi permintaan komentar dari Newsweek pada waktu pers.

BBC mencatat bahwa perencanaan pembangunan 166 bangunan, termasuk 66 unit perumahan sosial dan terjangkau.

Profesor kedokteran regeneratif di Bristol Veterinary School, John Tarlton, berperan sebagai pendamping laki-laku di acara tersebut. Dia mengatakan kepada BBC bahwa setelah perencanaan disetujui, maka kampanye itu akan terlambat.

"Tidak ada yang akan membalikkan keputusan itu (pembangunan). Itu saja, pohon-pohon akan hilang dan sangat sedikit yang bisa kita lakukan untuk itu," katanya.

"Kita tidak bisa kehilangan 74 pohon ini. Ini adalah sejumlah besar pohon dewasa dan di bagian Bristol yang paling membutuhkannya."

Baca juga: 117 Kematian Korban Covid-19 Per Jam, India Tebang Pohon-pohon di Taman Kota untuk Kremasi

Menurut sebuah unggahan di Save Baltic Wharf Trees, grup Facebook yang dibuat untuk acara tersebut, taman tersebut adalah satu-satunya ruang hijau di tepi pelabuhan Inggris.

"Alih-alih menghargai perlindungan ini karena pentingnya bagi satwa liar dan manusia, Dewan pengembang berencana menyia-nyiakan hubungan ekologis yang vital ini dengan membangun bangunan tinggi dengan kepadatan tinggi, dengan hilangnya 74 pohon dewasa," terang kelompok itu melansir Newsweek pada Selasa (7/9/2021).

Kierans membagikan tautan ke grup pada Senin (6/9/2021) yang menguraikan Kerangka Kebijakan Perencanaan Nasional Inggris.

Pada paragraf ke-131, menyatakan "pohon memberikan kontribusi penting terhadap karakter dan kualitas lingkungan perkotaan, dan juga dapat membantu mengurangi dan beradaptasi dengan perubahan iklim ."

"Kebijakan dan keputusan perencanaan harus memastikan bahwa jalan-jalan baru dipagari pohon, bahwa peluang diambil untuk memasukkan pohon-pohon di tempat lain dalam rencana pembangunan, bahwa langkah-langkah yang tepat ada untuk mengamankan pemeliharaan jangka panjang dari pohon yang baru ditanam dan bahwa pohon yang ada dipertahankan sedapat mungkin," bunyi paragraf itu.

Baca juga: Arab Saudi Berambisi Menanam Pohon Sebanyak 10 Miliar untuk Kurangi Emisi Karbon

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

WHO: Terlalu Dini Memahami Keparahan Varian Omicron, Begini Respons Sejumlah Negara

WHO: Terlalu Dini Memahami Keparahan Varian Omicron, Begini Respons Sejumlah Negara

Global
Seorang Wanita di Australia Didakwa Bakar Hotel Karantina Covid-19

Seorang Wanita di Australia Didakwa Bakar Hotel Karantina Covid-19

Global
Presiden Afrika Selatan Serukan Cabut Larangan Perjalanan dari Negaranya Terkait Omicron

Presiden Afrika Selatan Serukan Cabut Larangan Perjalanan dari Negaranya Terkait Omicron

Global
China Kirim 27 Pesawat Tempur Masuk Zona Pertahanan Udara Taiwan

China Kirim 27 Pesawat Tempur Masuk Zona Pertahanan Udara Taiwan

Global
Usai Positif Covid-19, Presiden Ceko Lantik Pejabat Tinggi Negara dari Balik Kotak Kaca

Usai Positif Covid-19, Presiden Ceko Lantik Pejabat Tinggi Negara dari Balik Kotak Kaca

Global
WHO Kritik Larangan Bepergian untuk Negara Selatan Afrika karena Varian Omicron

WHO Kritik Larangan Bepergian untuk Negara Selatan Afrika karena Varian Omicron

Global
KABAR DUNIA SEPEKAN: Varian Omicron Lebih Buruk dari Delta | Penerbangan dari Afrika Selatan Diblokir Sejumlah Negara

KABAR DUNIA SEPEKAN: Varian Omicron Lebih Buruk dari Delta | Penerbangan dari Afrika Selatan Diblokir Sejumlah Negara

Global
Pemerintah China Larang Keras Selebritinya Pamer Kekayaan di Media Sosial

Pemerintah China Larang Keras Selebritinya Pamer Kekayaan di Media Sosial

Global
Buku Pertama tentang Polandia dalam Bahasa Indonesia Resmi Diterbitkan

Buku Pertama tentang Polandia dalam Bahasa Indonesia Resmi Diterbitkan

Global
Polisi China Berhasil Tangkap Pelarian Korea Utara yang Kabur dari Penjara

Polisi China Berhasil Tangkap Pelarian Korea Utara yang Kabur dari Penjara

Global
Anggota Parlemen Selandia Baru Bersepeda ke RS untuk Melahirkan

Anggota Parlemen Selandia Baru Bersepeda ke RS untuk Melahirkan

Global
Gempa Kuat M 7,5 di Peru, Hampir Separuh Negara Berguncang

Gempa Kuat M 7,5 di Peru, Hampir Separuh Negara Berguncang

Global
Waspada, Covid-19 Varian Omicron Sudah Masuk Australia

Waspada, Covid-19 Varian Omicron Sudah Masuk Australia

Global
PM Kepulauan Solomon Tolak Tekanan untuk Mengundurkan Diri Setelah Kerusuhan

PM Kepulauan Solomon Tolak Tekanan untuk Mengundurkan Diri Setelah Kerusuhan

Global
Dokter Penemu Covid-19 Varian Omicron Sebut Gejalanya Tidak Biasa tapi Ringan

Dokter Penemu Covid-19 Varian Omicron Sebut Gejalanya Tidak Biasa tapi Ringan

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.