Kompas.com - 09/06/2021, 11:25 WIB
Foto tertanggal 6 Januari 2021 memperlihatkan massa pro-Donald Trump coba menjebol barikade polisi di Gedung Capitol, Washington DC. AP PHOTO/JOHN MINCHILLOFoto tertanggal 6 Januari 2021 memperlihatkan massa pro-Donald Trump coba menjebol barikade polisi di Gedung Capitol, Washington DC.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Sekelompok senator bipartisan pada Selasa (8/6/2021), merilis temuan yang menunjukkan kesalahan pemerintah, militer, dan penegak hukum selama kerusuhan 6 Januari lalu di Gedung Capitol, Washington DC.

Dilansir NY Times, laporan setebal 128 halaman yang merinci penyelidikan terhadap kerusuhan, menunjukkan lengahnya badan intelijen AS.

Di samping itu, kurangnya pelatihan dan persiapan, dinilai membuat petugas dari Kepolisian Capitol kewalahan saat terjadi kerumunan.

Baca juga: Kronologi Serangan Gedung Capitol, Tersangka Tabrak Polisi dan Hantam Barikade

Laporan juga menjelaskan bagaimana Garda Nasional tertunda selama berjam-jam karena pejabat di berbagai lembaga terikat birokrasi.

Bahkan, beberapa pihak juga disebut kurang cermat karena tidak bisa memprediksi aksi amukan massal di Capitol, meski para peserta sudah merencanakannya secara terbuka di internet.

Baca juga: Tersangka Penyerangan Gedung Capitol adalah Lone Wolf, Mengaku Pengikut Nation of Islam

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Unit intelijen polisi tahu tentang posting media sosial yang menyerukan kekerasan di Capitol pada 6 Januari lalu, termasuk rencana untuk menerobos Capitol, berbagi peta sistem terowongan kompleks Capitol secara online, dan ancaman kekerasan spesifik lainnya,” tulis laporan itu.

"Tapi para agen tidak memberi tahu pimpinan dengan benar tentang semua yang mereka temukan."

Baca juga: Daftar Serangan Gedung Capitol AS Selama 50 Tahun Terakhir

Selama serangan itu, tulis laporan itu, polisi Capitol dianggap gagal. Intelijen dan perencanaannya buruk, peralatan serba salah, dan yang paling penting, kurangnya kepemimpinan.

Sistem komando pasukan dinilai "rusak selama serangan" karena meninggalkan petugas di garis depan tanpa perintah.

Tak ada komandan insiden fungsional, dan beberapa perwira senior malah ikut bertempur, bukannya memberi perintah.

Baca juga: Buntut Kerusuhan di Gedung Capitol, Facebook Tangguhkan Akun Trump 2 Tahun

Insiden di Capitol terjadi 6 Januari lalu, saat Kongres AS akhirnya mengesahkan kemenangan Joe Biden menjadi Presiden AS, mengalahkan rivalnya, Donald Trump.

Pendukung Trump yang marah langsung menyerbu Capitol, menerobos masuk ke gedung parlemen yang biasanya dijaga sangat ketat.

Para anggota senat sampai harus dievakuasi satuan pengaman khusus. Sementara para pemrotes berusaha mencegah pengesahan pemilihan Biden.

Dalam insiden ini, lima orang dilaporkan tewas.


Sumber NY Times
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bakal Diselidiki soal Penyalahgunaan Jabatan, Presiden Brasil Klaim Negaranya Diserang

Bakal Diselidiki soal Penyalahgunaan Jabatan, Presiden Brasil Klaim Negaranya Diserang

Global
Jepang Batasi Perawatan Rumah Sakit, Pasien Covid-19 Diminta Isolasi di Rumah

Jepang Batasi Perawatan Rumah Sakit, Pasien Covid-19 Diminta Isolasi di Rumah

Global
Perketat Pembatasan Covid-19, Aparat Singapura Bisa Sampai Masuk ke Rumah Warga Tanpa Surat Perintah

Perketat Pembatasan Covid-19, Aparat Singapura Bisa Sampai Masuk ke Rumah Warga Tanpa Surat Perintah

Global
Polisi AS yang Tangani Kerusuhan Gedung Capitol Kembali Dilaporkan Bunuh Diri

Polisi AS yang Tangani Kerusuhan Gedung Capitol Kembali Dilaporkan Bunuh Diri

Global
Kisah Pencak Silat Indonesia yang Kini Digemari Warga AS

Kisah Pencak Silat Indonesia yang Kini Digemari Warga AS

Global
Kapal Perang Asing di Laut China Selatan Bertambah, India Menyusul Kirim Pasukannya

Kapal Perang Asing di Laut China Selatan Bertambah, India Menyusul Kirim Pasukannya

Global
PM Singapura Minta AS Tak Bersikap Keras terhadap China, Ini Alasannya

PM Singapura Minta AS Tak Bersikap Keras terhadap China, Ini Alasannya

Global
Israel Dihantam Roket dari Wilayah Lebanon

Israel Dihantam Roket dari Wilayah Lebanon

Global
Studi Terbaru: Konsumsi Minuman Beralkohol Jadi Penyebab 700.000 Kasus Kanker Baru

Studi Terbaru: Konsumsi Minuman Beralkohol Jadi Penyebab 700.000 Kasus Kanker Baru

Global
Buku Terlaris tahun 1919 Ternyata Ditulis Bocah Inggris Berusia 9 Tahun, Bagaimana Kisahnya?

Buku Terlaris tahun 1919 Ternyata Ditulis Bocah Inggris Berusia 9 Tahun, Bagaimana Kisahnya?

Global
Cerita Penerjemah Afghanistan untuk Pasukan AS yang Terlantar di Penampungan Tunawisma

Cerita Penerjemah Afghanistan untuk Pasukan AS yang Terlantar di Penampungan Tunawisma

Global
24 Diplomat Rusia Diminta Hengkang dari AS, Ini Alasannya

24 Diplomat Rusia Diminta Hengkang dari AS, Ini Alasannya

Global
Tanpa AS, Pasukan Khusus Afghanistan Akui Kondisi Sulit dan Terus Terpojok Lawan Taliban

Tanpa AS, Pasukan Khusus Afghanistan Akui Kondisi Sulit dan Terus Terpojok Lawan Taliban

Global
AS Segera Kembalikan 17.000 Artefak Kuno Hasil Jarahan ke Irak

AS Segera Kembalikan 17.000 Artefak Kuno Hasil Jarahan ke Irak

Global
Nenek Buyut Asal California Ini Memulai Debut Modeling di Usia 99 Tahun

Nenek Buyut Asal California Ini Memulai Debut Modeling di Usia 99 Tahun

Global
komentar
Close Ads X