Kompas.com - 30/04/2021, 20:55 WIB
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berbicara tentang kebijakan luar negeri di Kementerian Luar Negeri AS, Rabu (3/3/2021) di Washington. Andrew Caballero-Reynolds/Pool via APMenteri Luar Negeri AS Antony Blinken berbicara tentang kebijakan luar negeri di Kementerian Luar Negeri AS, Rabu (3/3/2021) di Washington.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken dijadwalkan mengunjungi Ukraina bulan depan.

Kunjungan tersebut dimaksudkan sebagai bentuk dukungan terhadap Ukraina atas penumpukan pasukan Rusia di sepanjang perbatasan.

Dalam beberapa pekan terakhir, Moskwa telah mengerahkan sekitar 10.000 tentaranya di dekat perbatasan Ukraina dan di Crimea yang diduduki.

Baca juga: Rusia Umumkan Tarik Sebagian Pasukan dari Perbatasan Ukraina

Melansir AFP, Jumat (30/4/2021), pergerakan pasukan Rusia tersebut meningkatkan kekhawatiran atas eskalasi besar-besaran.

Pada Jumat (23/4/2021) pekan lalu, Moskwa mengumumkan bahwa mereka telah menarik sebagian dari pasukannya. Pengumuman itu disambut Kiev dan NATO.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pasca-penarikan pasukan Rusia, Blinken bakal melakukan kunjungan ke Ukraina pada 5 sampai 6 Mei.

Baca juga: Model Ukraina yang Berpose Telanjang di Dubai Dideportasi, Dilarang Kembali selama 5 Tahun

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Ned Price mengatakan, kunjungan tersebut merupakan penegasan kembali dukungan AS bagi kedaulatan Ukraina.

“Dan integritas teritorial dalam menghadapi agresi Rusia yang sedang berlangsung," kata Price.

Dalam kunjungannya, Blinken akan bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky selama di sana.

Baca juga: Presiden Ukraina Ajak Putin Bertemu di Garis Depan Perang

Ukraina sendiri telah memerangi separatis pro-Rusia di wilayah Donetsk dan Lugansk. Pertempuran tersebut semakin meningkat setelah Rusia mencaplok Crimea pada 2014.

Ukraina dan kelompok separatis pro-Rusia sebenarnya menandatangani gencatan senjata pada Juli 2020.

Namun perjanjian tersebut hancur karena bentrokan antara kedua belah pihak pecah pada Januari.

Kelompok separatis ini secara luas dianggap mendapatkan dukungan politik dan militer Rusia. Namun, tudingan itu dibantah oleh Moskwa.

Baca juga: Meski Terus Diserang Rusia, Ukraina Tidak Akan Membalas


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X