Informasi Simpang Siur, Garda Nasional Sempat “Diusir” Sebelum Diminta Kembali Masuk Gedung Capitol

Kompas.com - 23/01/2021, 16:41 WIB
Personel Garda Nasional Washington mendirikan pagar perimeter di Gedung Capitol Hill, pada Minggu (17/1/2021). Pengamanan diperketat jelang pelantikan Joe Biden sebagai presiden ke-46 Amerika Serikat. AP PHOTO/TED S WARRENPersonel Garda Nasional Washington mendirikan pagar perimeter di Gedung Capitol Hill, pada Minggu (17/1/2021). Pengamanan diperketat jelang pelantikan Joe Biden sebagai presiden ke-46 Amerika Serikat.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Serangkaian miskomunikasi seputar situasi keamanan di Gedung Capitol membuat pasukan Pengawal Nasional sempat diminta keluar dari Gedung Parlemen.

Mereka dipindahkan dari Capitol ke garasi parkir terdekat untuk beristirahat di beton di garasi parkir, pada Kamis malam (21/1/2021). Namun setelah banyak mendapat sorotan, kesalahan itu diperbaiki dan mereka dipindahkan kembali ke Gedung Capitol.

Tidak jelas mengapa pasukan diberi kesan bahwa mereka tidak lagi diterima di Capitol, bahkan saat tugas mereka untuk melindunginya sedang berlangsung.

Melansir CNN pada Jumat (22/1/2021), masih belum jelas apa penyebab kejadian tersebut. Sejumlah pihak memberikan informasi yang saling bertentangan dan saling tuding, sehingga hanya menambah kebingungan.

Garda Nasional dengan cepat menyalahkan Polisi Capitol sebagai otoritas yang mengarahkan pasukan mereka untuk mengosongkan tempat itu Kamis malam. Tetapi Polisi Capitol segera membantah tudingan itu.

Hingga Jumat sore, kedua unit telah mengeluarkan pernyataan bersama untuk menyelesaikan konflik. Tetapi surat tersebut masih menyisakan pertanyaan tentang siapa yang memberi perintah awal pemindahan.

Baca juga: Lebih dari 150 Garda Nasional yang Berjaga di Pelantikan Joe Biden Positif Covid-19


 

Menurut satu sumber di Kantor Administratif Pengadilan, sebuah agen yang menempati gedung Peradilan Federal Thurgood Marshall di mana garasi itu berada, Garda Nasional memutuskan menggunakan garasi parkir setelah diperlihatkan fasilitas tersebut pada 19 Januari.

Menurut sumber di Komite Senat, rencana telah dibuat untuk memindahkan lokasi peristirahatan pasukan tersebut dari Capitol. Mereka masih ditugaskan atas kekhawatiran ancaman keamanan bahkan beberapa hari setelah pelantikan.

Panitia menyiapkan akomodasi alternatif bagi pasukan untuk pindah ke gedung perkantoran selama jangka waktu tersebut, dengan harapan mereka dapat kembali pada Kamis (21/1/2021).

Tetapi masalah komunikasi tampaknya terjadi selama diskusi, dalam perencanaan penempatan pasukan di lingkungan Capitol.

Halaman:

Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PM Muhyiddin Tatap Pemilu Dini untuk Akhiri Kemelut Politik Malaysia

PM Muhyiddin Tatap Pemilu Dini untuk Akhiri Kemelut Politik Malaysia

Global
Mengeluh Mainan Seks Miliknya Rusak, PNS Ukraina Ini Di-bully

Mengeluh Mainan Seks Miliknya Rusak, PNS Ukraina Ini Di-bully

Global
Paus Fransiskus Mengutuk Ekstremisme sebagai Pengkhianatan Terhadap Agama

Paus Fransiskus Mengutuk Ekstremisme sebagai Pengkhianatan Terhadap Agama

Global
Kejutkan Umatnya, Pastor Ini Putar Musik Rap Saat Pimpin Ibadat Online

Kejutkan Umatnya, Pastor Ini Putar Musik Rap Saat Pimpin Ibadat Online

Global
Berusia 95 Tahun, Mahathir Jadi Warga Tertua Malaysia yang Terima Vaksin Covid-19

Berusia 95 Tahun, Mahathir Jadi Warga Tertua Malaysia yang Terima Vaksin Covid-19

Internasional
India Klaim Banyak Warga Myanmar yang Antre di Perbatasan untuk Mengungsi

India Klaim Banyak Warga Myanmar yang Antre di Perbatasan untuk Mengungsi

Global
Militer Myanmar Menolak Jadi Boneka China, Justru Ingin Kerja Sama dengan Barat

Militer Myanmar Menolak Jadi Boneka China, Justru Ingin Kerja Sama dengan Barat

Global
Paus Fransiskus Tiba di Mosul, Kota yang Dihancurkan ISIS, Ini Doanya

Paus Fransiskus Tiba di Mosul, Kota yang Dihancurkan ISIS, Ini Doanya

Global
PM Malaysia Jadi Pemimpin Pertama di Dunia yang Umrah saat Pandemi Covid-19

PM Malaysia Jadi Pemimpin Pertama di Dunia yang Umrah saat Pandemi Covid-19

Global
Dalai Lama Terima Dosis Pertama Covid-19, Desak Semua Orang Divaksin

Dalai Lama Terima Dosis Pertama Covid-19, Desak Semua Orang Divaksin

Global
Demonstran di Negara Bagian AS Ini Bakar Masker: Hiruplah Kebebasan, Sayang!

Demonstran di Negara Bagian AS Ini Bakar Masker: Hiruplah Kebebasan, Sayang!

Global
5 Pesawat Era Perang Dingin yang Masih Andal untuk Bertempur

5 Pesawat Era Perang Dingin yang Masih Andal untuk Bertempur

Internasional
Makam Kyal Sin, Gadis 19 Tahun yang Ditembak Mati, Digali Aparat Myanmar

Makam Kyal Sin, Gadis 19 Tahun yang Ditembak Mati, Digali Aparat Myanmar

Global
Bermodal Rp 100.000, Bisa Jadi 'Jutawan' di Venezuela

Bermodal Rp 100.000, Bisa Jadi "Jutawan" di Venezuela

Global
Ketika Pakaian Dalam dan Rok Perempuan Jadi Senjata Melawan Militer Myanmar

Ketika Pakaian Dalam dan Rok Perempuan Jadi Senjata Melawan Militer Myanmar

Global
komentar
Close Ads X