Potensi Ekstremis, 12 Anggota Garda Nasional Dicopot dari Tim Keamanan Biden

Kompas.com - 20/01/2021, 13:40 WIB
Personel Garda Nasional berjaga di depan Gedung Capitol Hill, Washington DC, pada 17 Januari 2021. Pengamanan diperketat jelang pelantikan Joe Biden pada 20 Desember. AFP PHOTO/ANDREW CABALLERO-REYNOLDSPersonel Garda Nasional berjaga di depan Gedung Capitol Hill, Washington DC, pada 17 Januari 2021. Pengamanan diperketat jelang pelantikan Joe Biden pada 20 Desember.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Sebanyak 12 anggota Garda Nasional Amerika Serikat (AS) telah dicopot dari tim keamanan pelantikan Presiden AS terpilih Joe Biden, Selasa (19/1/2021).

Melansir Associated Press (AP), dari 12 anggota itu, termasuk 2 orang yang membuat pernyataan ekstremis dalam unggahan maupun teks secara daring tentang pelantikan yang akan diselenggarakan pada Rabu, ujar pejabat Pentagon.

Walau begitu, tidak ada ancaman khusus yang diarahkan kepada Biden.

Baca juga: FBI Turun Tangan Cegah Penyusup Masuk dalam Garda Nasional untuk Pelantikan Biden

Sebanyak 12 anggota Garda Nasional itu memiliki hubungan dengan kelompok milisi sayap kanan dan 2 di antaranya mengunggah pandangan ekstremis secara daring.

Para pejabat tidak mengatakan dari unit mana para anggota yang diringkus itu bertugas, karena mereka tidak berwenang menginformasikan hal itu kepada media dan harus berbicara dengan syarat anonim.

Meski begitu, para pejabat mengatakan bahwa mereka telah memindahkan 12 orang itu dengan alasan keamanan.

Baca juga: FBI Cek Personel Garda Nasional, Cegah Adanya Pembangkang Saat Pelantikan Biden

Jenderal Daniel Hokanson, kepala Garda Nasional, membenarkan bahwa 12 anggota Garda Nasional telah dipindahkan dan dipulangkan tetapi dia mengatakan hanya dua orang yang berkomentar atau menulis teks yang tidak pantas terkait dengan pelantikan.

Dia mengatakan 10 anggota lainnya punya potensi masalah lain yang mungkin melibatkan perilaku kriminal mereka sebelumnya atau kegiatan lain, tetapi tidak terkait langsung dengan acara pelantikan Biden.

Pencopotan 12 anggota tersebut terjadi di tengah keamanan besar-besaran di ibu kota AS karena khawatir potensi serangan orang dalam dan ancaman lain setelah kerusuhan mematikan di Capitol AS 6 Januari lalu.

Baca juga: Kendaraan Lapis Baja Garda Nasional Dicuri Jelang Pelantikan Biden, FBI Hadiahi Rp 141 Juta Bagi yang Menemukan

Temuan 12 anggota itu terjadi setelah FBI memeriksa sebanyak 25.000 anggota Garda Nasional di Washington dan para pejabat mengatakan bahwa Pentagon sejauh ini tidak menemukan potensi ancaman dari orang dalam.

Namun, FBI kemudian diperingatkan pejabat penegak hukum tentang kemungkinan kelompok sayap kanan yang berperan sebagai anggota Garda Nasional. Dari situlah, 12 orang anggota berhasil diringkus.

Pihak Washington telah gelisah sejak pemberontakan mematikan di Capitol, sehingga mendorong langkah-langkah keamanan luar biasa menjelang pelantikan Biden.

Kebakaran di sebuah kamp tunawisma kira-kira 1,6 kilometer dari kompleks Capitol memicu penguncian pada Senin selama gladi bersih pelantikan.

Baca juga: Siaga 24 Jam, Gedung Capitol Berubah Jadi “Barak” Garda Nasional AS


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PM Muhyiddin Tatap Pemilu Dini untuk Akhiri Kemelut Politik Malaysia

PM Muhyiddin Tatap Pemilu Dini untuk Akhiri Kemelut Politik Malaysia

Global
Mengeluh Mainan Seks Miliknya Rusak, PNS Ukraina Ini Di-bully

Mengeluh Mainan Seks Miliknya Rusak, PNS Ukraina Ini Di-bully

Global
Paus Fransiskus Mengutuk Ekstremisme sebagai Pengkhianatan Terhadap Agama

Paus Fransiskus Mengutuk Ekstremisme sebagai Pengkhianatan Terhadap Agama

Global
Kejutkan Umatnya, Pastor Ini Putar Musik Rap Saat Pimpin Ibadat Online

Kejutkan Umatnya, Pastor Ini Putar Musik Rap Saat Pimpin Ibadat Online

Global
Berusia 95 Tahun, Mahathir Jadi Warga Tertua Malaysia yang Terima Vaksin Covid-19

Berusia 95 Tahun, Mahathir Jadi Warga Tertua Malaysia yang Terima Vaksin Covid-19

Internasional
India Klaim Banyak Warga Myanmar yang Antre di Perbatasan untuk Mengungsi

India Klaim Banyak Warga Myanmar yang Antre di Perbatasan untuk Mengungsi

Global
Militer Myanmar Menolak Jadi Boneka China, Justru Ingin Kerja Sama dengan Barat

Militer Myanmar Menolak Jadi Boneka China, Justru Ingin Kerja Sama dengan Barat

Global
Paus Fransiskus Tiba di Mosul, Kota yang Dihancurkan ISIS, Ini Doanya

Paus Fransiskus Tiba di Mosul, Kota yang Dihancurkan ISIS, Ini Doanya

Global
PM Malaysia Jadi Pemimpin Pertama di Dunia yang Umrah saat Pandemi Covid-19

PM Malaysia Jadi Pemimpin Pertama di Dunia yang Umrah saat Pandemi Covid-19

Global
Dalai Lama Terima Dosis Pertama Covid-19, Desak Semua Orang Divaksin

Dalai Lama Terima Dosis Pertama Covid-19, Desak Semua Orang Divaksin

Global
Demonstran di Negara Bagian AS Ini Bakar Masker: Hiruplah Kebebasan, Sayang!

Demonstran di Negara Bagian AS Ini Bakar Masker: Hiruplah Kebebasan, Sayang!

Global
5 Pesawat Era Perang Dingin yang Masih Andal untuk Bertempur

5 Pesawat Era Perang Dingin yang Masih Andal untuk Bertempur

Internasional
Makam Kyal Sin, Gadis 19 Tahun yang Ditembak Mati, Digali Aparat Myanmar

Makam Kyal Sin, Gadis 19 Tahun yang Ditembak Mati, Digali Aparat Myanmar

Global
Bermodal Rp 100.000, Bisa Jadi 'Jutawan' di Venezuela

Bermodal Rp 100.000, Bisa Jadi "Jutawan" di Venezuela

Global
Ketika Pakaian Dalam dan Rok Perempuan Jadi Senjata Melawan Militer Myanmar

Ketika Pakaian Dalam dan Rok Perempuan Jadi Senjata Melawan Militer Myanmar

Global
komentar
Close Ads X