Erdogan Tak Terima Dikeluarkan AS dari Program Jet F-35 Setelah Beli Rudal Rusia

Kompas.com - 15/01/2021, 21:55 WIB
Turkeys President Recep Tayyip Erdogan speaks after a cabinet meeting, in Ankara Turkey, Monday, Aug. 10, 2020. The government of Greece slammed Turkeys announcement that it will be conducting energy exploration in an area of the eastern Mediterranean that Athens says overlaps its continental shelf, as tension over the rights to natural resources increased sharply in the region Monday.(Turkish Presidency via AP, Pool) Turkeys President Recep Tayyip Erdogan speaks after a cabinet meeting, in Ankara Turkey, Monday, Aug. 10, 2020. The government of Greece slammed Turkeys announcement that it will be conducting energy exploration in an area of the eastern Mediterranean that Athens says overlaps its continental shelf, as tension over the rights to natural resources increased sharply in the region Monday.(Turkish Presidency via AP, Pool)

ANKARA, KOMPAS.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengkritisi Amerika Serikat yang mengelurkan negaranya dari program jet F-35, setelah Ankara membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia yang memicu sanksi AS.

Erdogan menyampaikan kritiknya setelah shalat Jumat (15/1/2021) di Istanbul. Ia mengatakan bahwa Turki telah membayar "uang dengan sangat banyak" untuk mendapatkan jet siluman F-35.

"Ini adalah kesalahan yang sangat serius yang telah dilakukan Amerika, sebagai negara sekutu, kepada kami," kata Erdogan seperti yang dilansir dari Kathimerini pada Jumat (15/1/2021).

Baca juga: Turki dan Jerman Pertimbangkan Produksi Vaksin Covid-19 Bersama

"Saya berharap dengan Joe Biden menjabat dapat diskusi, dia akan mengambil langkah yang lebih positif dan kita bisa meluruskan ini," tambahnya.

Turki telah dihapus dari program F-35, meskipun telah menghasilkan beberapa bagian untuk jet tersebut.

AS mengatakan sistem Rusia dapat membahayakan keselamatan F-35.

Baca juga: Turki Laporkan 15 Kasus Varian Baru Virus Corona, Semuanya Pelancong dari Inggris.

AS menghentikan pelatihan pilot Turki dan mengatakan Turki tidak akan diizinkan untuk mengambil alih kepemilikan terakhir dari 4 pesawat yang dibelinya.

Erdogan tetap menentang, mengatakan negara itu melanjutkan dialog dengan Rusia tentang "paket kedua" dari sistem rudal darat ke udara, S-400, dan akan membahas rinciannya pada akhir bulan.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Kuil Pemujaan Dewi Yunani Kuno di Turki, Usianya 2.500 Tahun

Turki menerima gelombang pertama sistem pada 2019 dan mengujinya pada musim gugur.

Washington juga memberi sanksi kepada 4 pejabat pertahanan Turki pada Desember di bawah Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi, undang-undang AS yang bertujuan menggagalkan pengaruh Rusia.

Baca juga: Presiden Turki Erdogan Disuntik Vaksin Covid-19 Buatan Sinovac

Sanksi tersebut, termasuk larangan mengeluarkan izin ekspor kepada Kepresidenan Industri Pertahanan Turki, adalah pertama kalinya undang-undang tersebut digunakan untuk menghukum sekutu NATO.

"Tidak ada negara yang dapat memutuskan langkah-langkah yang akan kami ambil untuk industri pertahanan kami," tandas Erdogan.

Baca juga: Yunani-Arab Saudi Gelar Latihan Militer Gabungan, Turki Khawatir

 


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X