Menjelang Pemilu, Palestina Justru Hadapi Konflik Internal

Kompas.com - 22/12/2020, 13:08 WIB
Simpatisan Mohammed Dahlan di Gaza City, 2014. DW IndonesiaSimpatisan Mohammed Dahlan di Gaza City, 2014.

RAMALLAH, KOMPAS.com - Mahmoud Abbas yang kini berusia 85 tahun diyakini akan lengser menyusul janjinya menggelar pemilihan umum di Tepi Barat Yordan pada 2021 mendatang.

Pemilu Kepresidenan ini adalah pemilihan pertama di Palestina sejak dia naik takhta pada 2005 silam.

Pengumuman Abbas tersebut sekaligus mengawali perebutan kekuasaan di antara faksi Palestina.

Kantor berita AFP mengabarkan, rival politik Abbas di Jalur Gaza yang selama ini terpinggirkan mulai giat membangun basis dukungan.

Menurut analisa Middle East Institute, saat ini ada tiga figur sentral Palestina sedang bergulat untuk menjadi pewaris kekuasaan Abbas.

Baca juga: Pekan Depan Israel Mulai Vaksinasi Lawan Covid-19, Palestina Gigit Jari

Mereka adalah dua tokoh kuat Hamas, Yahya Sinwar dan Ismail Haniyeh, serta pelarian politik Fatah, Mohammed Dahlan, yang juga bekas kepala keamanan di Gaza.

Dahlan pernah menggalang perang saudara melawan Hamas pada 2007. Dalam pertempuran singkat itu pasukan Fatah yang dia pimpin kalah telak dan dibuat kocar-kacir.

Alhasil Hamas merebut Gaza dan Dahlan beberapa tahun kemudian dilengserkan Abbas.

Dia lalu melarikan diri ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) dan menjadi penasehat politik bagi Pangeran Mohammed bin Zayed.

Bertahun setelahnya, nama Dahlan kembali mencuat usai dituduh ikut membidani normalisasi hubungan diplomatik antara UEA dan Israel.

Tapi ketika pengaruh Sinwar dan Haniyeh dianggap terbatas di Jalur Gaza, di Tepi Barat, Dahlan menjelma menjadi momok politik bagi Fatah dan Otoritas Palestina.

Baca juga: Remaja Palestina Dibunuh Tentara Israel Saat Hari Ulang Tahunnya

Kisruh di Tepi Barat

Di kamp Balata, sebuah pemukiman padat pengungsi di luar kota Nablus, tembok-tembok rumah dipenuhi poster bergambar wajah Hatem Abu Rizq, yang dituliskan sebagai martir dalam perang saudara di Palestina.

Pria berusia 35 tahun itu tewas pada 31 Oktober, ketika polisi Palestina bentrok dengan penghuni kamp.

Pemerintah menuduh Abu Rizq meninggal oleh bom yang dibuatnya sendiri. Tapi pihak keluarga membantah laporan tersebut.

“Yang benar dia ditembak oleh otoritas Palestina,” kata sang ibu, Um Hatem, di sebuah apartemen mungil bertembok polos tanpa cat di Balata.

“Dia sedang memerangi praktik korupsi di tubuh pemerintah. Sebabnya mereka tidak menyukainya,” kata Um Hatem sebelum mencium poster raksasa bergambar putranya.

Baca juga: Tentaranya Dituduh Bunuh Remaja Palestina, Israel Luncurkan Penyelidikan

Di luar, aparat Palestina berseragam lengkap terlihat berjaga-jaga di sekirar kendaraan lapis baja yang diparkir di gerbang masuk utama.

Sementara penembak jitu disebar di atap-atap gedung untuk memantau situasi.

Jendral Wael Shitawi, seorang pejabat senior Palestina, meyakini Abu Rizq bekerja untuk Dahlan dalam menggalang kerusuhan berdarah di Balata.

“Dahlan memberikan uang kepada penganguran muda untuk melemparkan bom molotov kepada aparat keamanan,” kata dia kepada AFP.

“Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Otoritas Palestina tidak mampu mengontrol kamp," sambung Abu Rizq.

Baca juga: Bentrokan Warga Palestina dan Pasukan Israel Pecah di Pemakaman Remaja yang Tewas Ditembak

Hal senada diungkapkan Gubernur Nablus, Ibrahim Ramadan.

“Hatem bersama Dahlan. Orang-orang ini hanya mengerti bahasa kekerasan dan kita harus membuat mereka paham bahwa kita kia,” kata dia.

Namun bagi simpatisan Dahlan dan anggota Fatah, Dimitri Diliani, Otoritas Palestina gagal memahami fenomena Dahlan sebagai representasi kemarahan pengungsi yang merasa dipinggirkan.

“Dahlanfobia sedang menghinggapi Otoritas Palestina. Wabah ini lebih parah ketimbang pandemi Covid-19,” ujar Diliani.

Baca juga: Arab Saudi: Asalkan Kedaulatan Palestina Diberikan, Normalisasi dengan Israel dapat Terjadi

Diliani meyakini dukungan luas bagi Dahlan adalah reaksi terhadap penganiayaan politik yang dilakukan Otoritas Palestina.

Di lingkaran kekuasaan Palestina di Tepi Barat, isu suksesi jelang pemilu kepresidenan tahun depan masih dianggap tabu.

Sejauh ini belum jelas siapa yang bakal menggantikan Abbas di pucuk pimpinan Fatah. Hal ini diakui oleh seorang petinggi partai yang enggan disebut namanya.

“Di tempat ini, kami tidak suka membicarakan kehidupan setelah mati.”

Baca juga: Seorang Remaja Palestina Tewas ketika Bentrok dengan Tentara Israel


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Perempuan Berdaya: Noor Inayat Khan, Mata-mata Bangsawan Muslim India yang Dibunuh Nazi

Perempuan Berdaya: Noor Inayat Khan, Mata-mata Bangsawan Muslim India yang Dibunuh Nazi

Global
Trump Disebut Hasilkan Rp 22,5 Triliun Selama 4 Tahun Jadi Presiden AS

Trump Disebut Hasilkan Rp 22,5 Triliun Selama 4 Tahun Jadi Presiden AS

Global
Pasangan Ini Berhubungan Seks di Taman Umum, Tak Peduli Meski Ada Anak-anak

Pasangan Ini Berhubungan Seks di Taman Umum, Tak Peduli Meski Ada Anak-anak

Global
Menlu dari Junta Militer Myanmar Berdiskusi dengan Thailand dan Indonesia

Menlu dari Junta Militer Myanmar Berdiskusi dengan Thailand dan Indonesia

Global
Tato Wajah Aung San Suu Kyi Jadi Tren Atribut Massa Anti-Kudeta Militer Myanmar

Tato Wajah Aung San Suu Kyi Jadi Tren Atribut Massa Anti-Kudeta Militer Myanmar

Global
Raja Malaysia Izinkan Parlemen Bersidang, Pukulan Telak bagi PM Muhyiddin Yassin

Raja Malaysia Izinkan Parlemen Bersidang, Pukulan Telak bagi PM Muhyiddin Yassin

Global
Rusia Pamer Laboratorium Senjata Biologis yang Diubah Jadi Pabrik Vaksin Covid-19, Begini Isinya

Rusia Pamer Laboratorium Senjata Biologis yang Diubah Jadi Pabrik Vaksin Covid-19, Begini Isinya

Global
Pria Ini Menginap di Hotel Mewah Setelah Istrinya Jatuh dari Ketinggian 304 Meter

Pria Ini Menginap di Hotel Mewah Setelah Istrinya Jatuh dari Ketinggian 304 Meter

Global
Demi Selamatkan Seorang Gadis, Pasangan Ini Donor Darah di Hari Pernikahan Mereka

Demi Selamatkan Seorang Gadis, Pasangan Ini Donor Darah di Hari Pernikahan Mereka

Global
Geng Kriminal Bentrok di Penjara, Sedikitnya 75 Narapidana Tewas

Geng Kriminal Bentrok di Penjara, Sedikitnya 75 Narapidana Tewas

Global
Video Perlihatkan Istri Dibawa Suami ke Tebing, Sebelum Jatuh dari Ketinggian 304 Meter

Video Perlihatkan Istri Dibawa Suami ke Tebing, Sebelum Jatuh dari Ketinggian 304 Meter

Global
Seorang Wanita dalam Program Hamil Dipecat karena Tolak Vaksinasi Covid-19

Seorang Wanita dalam Program Hamil Dipecat karena Tolak Vaksinasi Covid-19

Global
Pemimpin Tertinggi Iran Minta Karakter Kartun Perempuan Pakai Hijab

Pemimpin Tertinggi Iran Minta Karakter Kartun Perempuan Pakai Hijab

Global
Arab Saudi Sekarang Izinkan Wanita Bergabung dalam Militer

Arab Saudi Sekarang Izinkan Wanita Bergabung dalam Militer

Global
Putus Asa Cari Suaka, Puluhan Migran Ditemukan Sembunyi dalam Pecahan Kaca dan Abu Beracun

Putus Asa Cari Suaka, Puluhan Migran Ditemukan Sembunyi dalam Pecahan Kaca dan Abu Beracun

Global
komentar
Close Ads X