Langgar Karantina Covid-19 Selama 8 Detik, Pria Ini Didenda Rp 49 Juta

Kompas.com - 08/12/2020, 15:47 WIB
Seorang pekerja migran Filipina di Taiwan didenda $ 3.500 setelah melanggar karantina COVID-19 negara itu selama delapan detik. New York Daily NewsSeorang pekerja migran Filipina di Taiwan didenda $ 3.500 setelah melanggar karantina COVID-19 negara itu selama delapan detik.

Ilustrasi karantina virus corona dilakukan setelah diduga terpapar atau terinfeksi virus corona. CDC memperbarui pedoman terkait penerapan karantina.SHUTTERSTOCK/Sergey Bezgodov Ilustrasi karantina virus corona dilakukan setelah diduga terpapar atau terinfeksi virus corona. CDC memperbarui pedoman terkait penerapan karantina.
TAIPEI, KOMPAS.com - Seorang pria di Taiwan didenda 3.500 dollar AS (Rp 49 juta) setelah melanggar karantina Covid-19 di negara itu selama delapan detik.

Diberitakan CNN, Senin (7/12/2020), diketahui pria yang merupakan pekerja migran dari Filipina itu sedang menjalani karantina di sebuah hotel di Kota Kaohsiung, barat daya Taiwan.

Pelanggaran selama beberapa detik itu terekam kamera pengintai (CCTV) yang dipantau staf hotel. Terlihat pria itu melangkah ke lorong hotel sebentar.

Menurut Taiwan News, pria yang telah menjalani karantina selama lima hari saat itu berusaha memberikan sesuatu kepada temannya di kamar sebelah.

Staf hotel yang melihat pelanggaran itu dengan kamera keamanan lalu menghubungi departemen kesehatan kota yang kemudian mengenakan denda 100.000 dollar Taiwan, yaitu sekitar 3.500 dollar AS (Rp 49 juta).

Di bawah aturan karantina Taiwan, orang tidak diizinkan meninggalkan kamar mereka, tidak peduli berapa lama.

“Orang-orang di karantina seharusnya tidak berpikir mereka tidak akan didenda karena meninggalkan kamar hotel mereka,” kata Departemen Kesehatan kepada kantor berita CNA.

Departemen kesehatan kota mengatakan, denda diberikan sebagai bentuk peringatan kepada sekitar 3.000 orang lainnya yang menginap di 56 hotel karantina kota itu.

Baca juga: Positif Covid-19, Chungha Hentikan Aktivitas dan Jalani Karantina Mandiri

Taiwan telah dipuji secara luas karena pendekatannya yang sigap dalam mengatasi pandemi Covid-19.

Ia tidak pernah sampai harus memberlakukan penguncian yang ketat atau menerapkan pembatasan drastis pada kebebasan sipil, seperti di daratan China.

Sebaliknya, tanggapan Taiwan berfokus pada kecepatan. Otoritas Taiwan mulai menyaring penumpang pada penerbangan langsung dari Wuhan, tempat virus pertama kali diidentifikasi.

Penyaringan sudah dilakukan sejak 31 Desember 2019, ketika virus sebagian besar menjadi subyek rumor dan pelaporan terbatas.

Pemerintah juga berinvestasi dalam pengujian massal dan pelacakan kontak yang cepat dan efektif.

Pulau berpenduduk 23 juta orang itu mencatat hanya 716 kasus virus corona dan tujuh kematian, menurut data dari Universitas Johns Hopkins.

Baca juga: Ini Alasan RI Pilih Calon Vaksin Covid-19 Buatan Sinovac

Baca tentang

Sumber CNN, CNA
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[Sejarah Islam] Perjalanan Unta dari Andalan Transportasi hingga Jadi Ikon Bangsa

[Sejarah Islam] Perjalanan Unta dari Andalan Transportasi hingga Jadi Ikon Bangsa

Global
139 Petugas Medis di Myanmar Hadapi Ancaman Penjara Junta Militer

139 Petugas Medis di Myanmar Hadapi Ancaman Penjara Junta Militer

Global
Nelayan Inggris Temukan Lobster Biru Langka, 1 dari 2 Juta Kemungkinan

Nelayan Inggris Temukan Lobster Biru Langka, 1 dari 2 Juta Kemungkinan

Global
Derek Chauvin Dijebloskan ke Sel Keamanan Maksimum, 23 Jam Diisolasi

Derek Chauvin Dijebloskan ke Sel Keamanan Maksimum, 23 Jam Diisolasi

Global
Kisah Gado-gado yang Jadi 'Raja Salad' di Ibu Kota Finlandia...

Kisah Gado-gado yang Jadi "Raja Salad" di Ibu Kota Finlandia...

Global
Masjid-masjid di Gaza Tutup untuk Shalat Tarawih, Ikuti Aturan Malam Covid-19

Masjid-masjid di Gaza Tutup untuk Shalat Tarawih, Ikuti Aturan Malam Covid-19

Global
Perbaiki Hubungan dengan AS, NATO Bakal Gelar Pertemuan Tingkat Tinggi

Perbaiki Hubungan dengan AS, NATO Bakal Gelar Pertemuan Tingkat Tinggi

Global
Ada Patung Wanita Menyusui Ibu Mertua, Taman di China Banjir Kritikan

Ada Patung Wanita Menyusui Ibu Mertua, Taman di China Banjir Kritikan

Global
Video Viral Pengemudi Tesla Marah-marah karena Rem Blong dan Hampir Tewas

Video Viral Pengemudi Tesla Marah-marah karena Rem Blong dan Hampir Tewas

Global
Penampakan 'Bayi Dinosaurus' Berlari di Halaman Rumah Tertangkap Kamera

Penampakan "Bayi Dinosaurus" Berlari di Halaman Rumah Tertangkap Kamera

Global
Ukur Kesehatan Tanah, Ilmuwan Akan Kubur Celana Dalam

Ukur Kesehatan Tanah, Ilmuwan Akan Kubur Celana Dalam

Global
Kisah Terlupakan 6 Orang China Saksi Hidup Titanic Dibuatkan Film Dokumenter

Kisah Terlupakan 6 Orang China Saksi Hidup Titanic Dibuatkan Film Dokumenter

Global
PM Perancis Dapat Kiriman 200 Paket Pakaian Dalam Wanita karena Aturan Lockdown

PM Perancis Dapat Kiriman 200 Paket Pakaian Dalam Wanita karena Aturan Lockdown

Global
Covid-19 di India Makin Gawat, Lampaui 300.000 Kasus dalam Sehari

Covid-19 di India Makin Gawat, Lampaui 300.000 Kasus dalam Sehari

Global
Seorang Pria Spanyol Didakwa 15 Tahun Penjara Setelah Bunuh, Mutilasi, dan Makan Jasad Ibunya

Seorang Pria Spanyol Didakwa 15 Tahun Penjara Setelah Bunuh, Mutilasi, dan Makan Jasad Ibunya

Global
komentar
Close Ads X