Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Perang Anglo-Zanzibar: Baru 2 Menit Sultan Kabur, Istana Hancur, 38 Menit Selesai

Kompas.com - Diperbarui 29/09/2021, 20:21 WIB
Aditya Jaya Iswara

Penulis

ZANZIBAR, KOMPAS.com - Tak banyak orang pernah mendengar atau mengetahui kisah perang Anglo-Zanzibar, padahal pertempuran itu menorehkan rekor sebagai konflik tersingkat dalam sejarah.

Perang ini hanya berlangsung selama 38 menit, bahkan lebih cepat dari satu babak pertandingan sepak bola.

Perang Anglo-Zanzibar mengalahkan singkatnya durasi perang Israel-Mesir-Jordania-Suriah (6 hari), perang Indo-Pakistani 1971 (13 hari), perang Serbia-Bulgaria (14 hari), dan perang Georgia-Armenia (24 hari) dalam jajaran perang tersingkat di dunia.

Baca juga: Kisah Perang: Inilah 5 Perang Tersingkat, Ada yang Cuma 38 Menit

Dilansir Kompas.com dari Historic UK, perang Anglo-Zanzibar bermula dari penandatanganan perjanjian Heligoland -Zanzibar antara Inggris dengan Jerman pada 1890.

Perjanjian itu secara teori membagi kekuatan-kekuatan imperial di Afrika Timur. Zanzibar diserahkan ke Inggris, dan Jerman kebagian memegang kendali di daratan Tanzania.

Berbekal kesepakatan itu Inggris pun mendeklarasikan Zanzibar sebagai protektorat kerajaan mereka, dan memasang Sultan 'boneka' mereka sendiri untuk memerintah di sana.

Posisi itu diberikan ke Hamad bin Thuwaini pada 1893. Ia pernah menjadi pendukung Inggris di kawasan tersebut.

Baca juga: Kisah Perang: 5 Sniper yang Diabadikan Aksinya di Film Layar Lebar

Permulaan konflik

Hamad memerintah di protektorat yang relatif damai selama lebih dari 3 tahun, sampai akhirnya dia tiba-tiba meninggal pada 25 Agustus 1896 di istananya.

Penyebab kematiannya tidak diketahui, tapi diyakini dia diracuni oleh sepupunya, Khalid bin Barghash.

Keyakinan itu semakin menguat karena beberapa jam setelah kematian Hamad, Khalid menduduki istana dan mengambil alih posisi Sultan tanpa persetujuan Inggris.

Sejumlah pelaut Inggris berdiri di dekat sebuah meriam milik Kesultana Zanzibar yang mereka rebut usai perang pada 27 Agustus 1896.Richard Dorsey Mohun Sejumlah pelaut Inggris berdiri di dekat sebuah meriam milik Kesultana Zanzibar yang mereka rebut usai perang pada 27 Agustus 1896.
Keputusan sepihak itu jelas membuat Inggris berang, dan kepala diplomat Inggris di sana, Basil Cave, langsung memerintahkan Khalid untuk meletakkan jabatan.

Khalid mengabaikan perintah itu dan justru mengumpulkan pasukannya di sekitar istana.

Baca juga: Kisah Perang: Chris Kyle, Sosok di Balik Legenda American Sniper

Pasukan pimpinan Khalid bin Barghash bersenjata lengkap, yang ternyata adalah hadiah dari Inggris untuk Hamad bin Thuwaini selama bertahun-tahun.

Kemudian jelang 25 Agustus larut malam, Khalid sudah membentengi istananya dengan hampir 3.000 pasukan. Beberapa dilengkapi senjata artileri, bahkan Royal Yacht juga dipersenjatai secara sederhana di pelabuhan.

Pada saat bersamaan Inggris sudah melabuhkan dua kapal perangnya di sana, yaitu HMS Philomel dan HMS Rush. Mereka pun dengan cepat menerjunkan pasukan ke darat untuk melindungi Konsulat Inggris dan menjaga warga setempat dari dampak perang.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Pejabat Hamas: Tak Ada yang Tahu Berapa Banyak Sandera Israel yang Masih Hidup

Pejabat Hamas: Tak Ada yang Tahu Berapa Banyak Sandera Israel yang Masih Hidup

Internasional
Tzav 9, Kelompok Warga Israel yang Rutin Blokir, Jarah, dan Bakar Bantuan untuk Gaza

Tzav 9, Kelompok Warga Israel yang Rutin Blokir, Jarah, dan Bakar Bantuan untuk Gaza

Global
Ukraina Serang Perbatasan, 5 Warga Rusia Tewas

Ukraina Serang Perbatasan, 5 Warga Rusia Tewas

Global
Korut Bangun Jalan dan Tembok di Zona Demiliterisasi

Korut Bangun Jalan dan Tembok di Zona Demiliterisasi

Global
Di Gaza Utara Bawang Sekilo Rp 1,1 Juta, Warga Pilih Makan Roti

Di Gaza Utara Bawang Sekilo Rp 1,1 Juta, Warga Pilih Makan Roti

Global
WHO: Pasien Flu Burung di Meksiko Meninggal karena Kondisi Lain

WHO: Pasien Flu Burung di Meksiko Meninggal karena Kondisi Lain

Global
Tak Terima Diremehkan, Wanita Ini Resign Lalu Kuliah Lagi, Kini Kembali Bekerja dengan Gaji 2 Kali Lipat

Tak Terima Diremehkan, Wanita Ini Resign Lalu Kuliah Lagi, Kini Kembali Bekerja dengan Gaji 2 Kali Lipat

Global
Rangkuman Hari Ke-842 Serangan Rusia ke Ukraina: Kiriman Paket Bantuan Militer Jerman | Ultimatum Putin Dibalas Zelensky

Rangkuman Hari Ke-842 Serangan Rusia ke Ukraina: Kiriman Paket Bantuan Militer Jerman | Ultimatum Putin Dibalas Zelensky

Global
1,5 Juta Lebih Jemaah Shalat di Arafah pada Puncak Haji Hari Ini

1,5 Juta Lebih Jemaah Shalat di Arafah pada Puncak Haji Hari Ini

Global
Militer AS Hancurkan Radar dan Drone Kapal Houthi

Militer AS Hancurkan Radar dan Drone Kapal Houthi

Global
Rusia Kirim Kapal Perang Ke Kuba, untuk Apa?

Rusia Kirim Kapal Perang Ke Kuba, untuk Apa?

Internasional
 Cyril Ramaphosa Terpilih Kembali Sebagai Presiden Afrika Selatan

Cyril Ramaphosa Terpilih Kembali Sebagai Presiden Afrika Selatan

Global
 Kondisi Kate Middleton yang Tak Henti Berjuang Sembuh dari Kanker

Kondisi Kate Middleton yang Tak Henti Berjuang Sembuh dari Kanker

Global
Kelompok Israel Bakar Truk Bantuan Gaza, AS Berani Beri Sanksi

Kelompok Israel Bakar Truk Bantuan Gaza, AS Berani Beri Sanksi

Global
Bertemu di Resor Mewah Italia, Negara-negara G7 Serukan Keprihatinan untuk Gaza

Bertemu di Resor Mewah Italia, Negara-negara G7 Serukan Keprihatinan untuk Gaza

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com