Aparat Diduga Kecolongan, Bisakah Penembakan Masjid Selandia Baru Diprediksi?

Kompas.com - 08/12/2020, 15:42 WIB
Imam Masjid Al Noor Gamal Fouda (paling depan) memimpin Shalat Jumat pada 22 Maret 2019. Shalat Jumat itu terjadi sepekan setelah penembakan yang terjadi Al Noor dan Linwood pekan lalu (15/3/2019), dan menewaskan 50 jemaah. AFP/WILLIAM WESTImam Masjid Al Noor Gamal Fouda (paling depan) memimpin Shalat Jumat pada 22 Maret 2019. Shalat Jumat itu terjadi sepekan setelah penembakan yang terjadi Al Noor dan Linwood pekan lalu (15/3/2019), dan menewaskan 50 jemaah.

WELLINGTON, KOMPAS.com - Penyelidikan atas penembakan di masjid Christchurch, Selandia Baru, menemukan serangkaian kegagalan pengamanan menjelang serangan 2019, namun menyimpulkan bahwa tragedi itu tidak dapat dicegah.

Penyelidikan tersebut dilakukan setelah aksi teroris asal Australia, Brenton Tarrant, menewaskan 51 orang di dua masjid pada 15 Maret 2019.

Melansir BBC pada Selasa (08/12/20), hasil penyelidikan menemukan bahwa Tarrant telah mampu mengumpulkan banyak sekali senjata. Sementara pihak berwenang gagal menegakkan pemeriksaan pada lisensi senjata api.

Temuan selanjutnya juga melihat bahwa para pejabat terlalu fokus pada terorisme Islam.

Namun, mengoreksi kegagalan ini tidak akan menghentikan aksi warga negara Australia itu untuk melakukan serangan tersebut, katanya.

Brenton Tarrant dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat awal tahun ini.

Sejumlah petunjuk berhasil dikumpulkan polisi setelah pembantaian. Diantaranya termasuk adanya penyalahgunaan steroid, catatan rumah sakit setelah dia secara tidak sengaja menembak dirinya sendiri, dan kunjungan ke situs-situs sayap kanan.

Adapun bukti-bukti itu dinilai tidak akan cukup untuk dapat memprediksi serangan tersebut.

Baca juga: Penembakan di Masjid Selandia Baru, PM hingga Kepala Polisi Minta Maaf

"Komisi tidak menemukan kegagalan dalam badan pemerintah manapun yang memungkinkan perencanaan dan persiapan teroris terdeteksi," kata Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern setelah rilis laporan itu.

"Tapi mereka mengidentifikasi banyak pelajaran untuk dipelajari dan area signifikan yang membutuhkan perubahan."

Halaman:

Sumber BBC
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hormati Orang yang Puasa, Satpam Ini Balik Badan saat Makan

Hormati Orang yang Puasa, Satpam Ini Balik Badan saat Makan

Global
3 Negara Klub Pendiri ESL Kompak Lawan European Super League

3 Negara Klub Pendiri ESL Kompak Lawan European Super League

Global
Kasus Covid-19 Meningkat, Ibu Kota India Kembali Lockdown

Kasus Covid-19 Meningkat, Ibu Kota India Kembali Lockdown

Global
Rusia Akan Blokir Sebagian Laut Hitam, AS Kecam 'Eskalasi Tanpa Alasan'

Rusia Akan Blokir Sebagian Laut Hitam, AS Kecam "Eskalasi Tanpa Alasan"

Global
Balas Dendam, Ukraina Usir Diplomat Rusia dari Kiev

Balas Dendam, Ukraina Usir Diplomat Rusia dari Kiev

Global
Pangeran Harry Jalani Karantina Covid-19 dan Diperkirakan Segera Pulang ke California

Pangeran Harry Jalani Karantina Covid-19 dan Diperkirakan Segera Pulang ke California

Global
NASA Berhasil Terbangkan Drone dari Mars untuk Pertama Kalinya di Dunia

NASA Berhasil Terbangkan Drone dari Mars untuk Pertama Kalinya di Dunia

Global
PM Inggris Berjanji Bakal Gagalkan Peluncuran European Super League

PM Inggris Berjanji Bakal Gagalkan Peluncuran European Super League

Global
ISIS Eksekusi Penganut Kristen Koptik Mesir sebagai Peringatan agar Tak Dukung Militer

ISIS Eksekusi Penganut Kristen Koptik Mesir sebagai Peringatan agar Tak Dukung Militer

Global
Mobilisasi Pasukan Rusia di Perbatasan Ukraina Terbesar sejak 2014

Mobilisasi Pasukan Rusia di Perbatasan Ukraina Terbesar sejak 2014

Global
Hakim Kasus Kematian George Floyd Pastikan Hukuman untuk Derek Chauvin 'Benar-benar Adil'

Hakim Kasus Kematian George Floyd Pastikan Hukuman untuk Derek Chauvin "Benar-benar Adil"

Global
Publik Inggris Ingin Pangeran William Jadi Raja setelah Ratu Elizabeth II

Publik Inggris Ingin Pangeran William Jadi Raja setelah Ratu Elizabeth II

Global
[POPULER GLOBAL] Video Guru Dikejutkan di Kelas Virtual | Gelandangan 4 Tahun Makan Sekali Sehari

[POPULER GLOBAL] Video Guru Dikejutkan di Kelas Virtual | Gelandangan 4 Tahun Makan Sekali Sehari

Global
Beli Apel di Toko Online, Pria Ini Kaget yang Datang Apple iPhone

Beli Apel di Toko Online, Pria Ini Kaget yang Datang Apple iPhone

Global
[Biografi Tokoh Dunia] Ernesto Che Guevara, Simbol Pemberontakan Tanpa Akhir dari Amerika Latin

[Biografi Tokoh Dunia] Ernesto Che Guevara, Simbol Pemberontakan Tanpa Akhir dari Amerika Latin

Global
komentar
Close Ads X