Kemenangan Joe Biden Bakal Untungkan Negara Ini untuk Lawan China

Kompas.com - 14/11/2020, 15:31 WIB
Joe Biden saat pidato kemenangan di pilpres Amerika Serikat 2020. AP PHOTO/ANDREW HARNIK via DW INDONESIAJoe Biden saat pidato kemenangan di pilpres Amerika Serikat 2020.

WILMINGTON, KOMPAS.com - Presiden AS terpilih Joseph Biden akan memberi kekuatan bagi negara-negara Asia Tenggara yang berselisih dengan China yang jauh lebih kuat, terkait sengketa Laut China Selatan, dengan berpihak pada mereka tanpa mengundang konflik bersenjata, demikian yang diyakini para analis.

Mereka meninjau catatan pemerintahan mantan presiden AS Barack Obama, di mana Biden menjadi wakil presiden, untuk mendapatkan petunjuk mengenai apa yang mungkin dilakukan Biden di kawasan itu.

Obama mengupayakan apa yang disebut pemerintahnya sebagai “berporos ke Asia” sejak 2011 sewaktu kawasan ini menjadi lebih vital bagi kepentingan ekonomi AS.

Baca juga: Birukan Georgia, Joe Biden Menangi Pilpres AS dengan 306 Electoral Votes

Ia berupaya meningkatkan perjanjian militer dengan lima sekutu di Asia-Pasifik, memajukan perjanjian perdagangan bebas Kemitraan Trans-Pasifik yang dibatalkan Trump pada tahun 2017, dan meluncurkan program untuk generasi muda yang dimaksudkan untuk membangun hubungan antar warga.

Berdasarkan catatan tersebut, para ilmuwan berpendapat Biden dapat diharapkan memberi lebih banyak penekanan pada diplomasi, daripada langkah-langkah militer yang disukai Presiden Donald Trump, yang mencakup pelayaran kapal-kapal angkatan laut melalui perairan sengketa dan penjualan senjata ke lawan-lawan China di kawasan tersebut.

Pendekatan Trump telah membuat resah beberapa pemimpin Asia Tenggara, yang menginginkan hubungan yang stabil dengan kedua negara adidaya itu.

Brunei, Malaysia, Filipina dan Vietnam bersaing dengan China dalam sengketa kedaulatan maritim, sementara bergantung pada negara tetangganya yang komunis itu dalam soal bantuan ekonomi.

Negara-negara tersebut melalui ASEAN, sekarang dapat mengharapkan seorang pemimpin AS yang akan mendukung mereka dalam menyusun suatu pedoman perilaku maritim dengan China, kata Alan Chong dari S Rajaratnam School of International Studies di Singapura.

Baca juga: Di Hari Pelantikan Biden dan Harris Diperkirakan Bertambah Lebih dari 8 Juta Kasus dan 70.000 Kematian karena Covid-19

China dan ASEAN telah berusaha keras menyusun pedoman yang dimaksudkan untuk mencegah konflik tak diinginkan, sejak 2002. China telah bertahun-tahun menghentikan upayanya sebelum menghidupkan kembali gagasan itu pada tahun 2017.

Para pejabat AS “tidak perlu terlibat langsung dan memicu sensitivitas China,” jelas Chong. “Mereka hanya perlu diam-diam mendukung ASEAN dalam merundingkan pedoman perilaku. Tentu saja, rencana ASEAN akan selalu disesuaikan dengan Washington,” lanjutnya.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X