Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Besar Melanda China, Hampir 60.000 Orang Dievakuasi

Kompas.com - 22/04/2024, 16:47 WIB
Albertus Adit

Penulis

Sumber BBC

BEIJING, KOMPAS.com - Banjir besar melanda Provinsi Guangdong China akibat hujan lebat selama berhari-hari. Pihak berwenang mengevakuasi hampir 60.000 orang dari rumahnya.

Sebagaimana diberitakan BBC pada Senin (22/4/2024), 11 orang hilang, dan sejauh ini tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Rekaman di media pemerintah menunjukkan sebagian besar wilayah terendam banjir dan tim penyelamat mengangkut orang-orang dengan sekoci di air setinggi pinggang.

Baca juga: AS Minta China Gunakan Pengaruhnya untuk Cegah Iran Serang Israel

Beberapa sungai besar meluap, dan pihak berwenang memantau dengan cermat ketinggian air yang cukup tinggi.

Pihak berwenang telah memperingatkan bahwa ketinggian air sungai di utara Guangdong bisa tinggi dan diperkirakan sekali dalam 100 tahun pada Senin pagi, meskipun hal ini belum terjadi pada siang hari.

Sebagian besar wilayah Guangdong merupakan bagian dari dataran rendah delta Sungai Mutiara, yang rentan terhadap banjir akibat kenaikan permukaan laut dan gelombang badai.

Delta ini merupakan basis manufaktur besar di China dan salah satu wilayah terpadat di negara tersebut, dengan Guangdong yang menjadi rumah bagi sekitar 127 juta orang.

Ibu kota provinsi, Guangzhou, serta kota-kota kecil Shaoguan dan Heyuan termasuk di antara yang paling parah terkena dampaknya.

Di seluruh provinsi, sekitar 1,16 juta rumah tangga kehilangan aliran listrik selama akhir pekan, tetapi 80 persen listriknya sudah pulih kembali pada Minggu malam.

Baca juga: Situasi Terkini Banjir yang Lumpuhkan Uni Emirat Arab

Sementara penerbangan telah dibatalkan dan ditunda di Bandara Internasional Baiyun di Guangzhou karena hujan yang terus menerus, sementara sekolah-sekolah diperintahkan ditutup di setidaknya tiga kota.

Akibat banjir, banyak rumah yang runtuh atau rusak parah. Pihak berwenang memperkirakan kerugian ekonomi hampir 140,6 juta yuan (Rp 3,1 triliun).

Seorang pengguna media sosial Weibo mengatakan bahwa keluarganya bergegas memindahkan furnitur dari lantai pertama rumah mereka ke lantai atas.

"Hujan deras telah membanjiri separuh lantai pertama rumah kami. Saya ingin tahu apakah lantai dua juga akan terendam banjir dalam semalam. Saya merasa tidak berdaya," tulis dia di Weibo pada Minggu malam.

Otoritas meteorologi China telah memperingatkan bahwa hujan lebat akan terus berlanjut di Guangdong dan wilayah pesisir Fujian hingga setidaknya Selasa.

Hujan dengan tingkat sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di wilayah lain di negara itu, termasuk Beijing, Tianjin, dan Heibei.

Juli lalu, di Beijing dan provinsi sekitarnya seperti Hebei dibanjiri hujan lebat dan banjir setelah serangkaian topan dari Samudera Pasifik menghantam negara tersebut.

Baca juga: China: Banyak yang Harus Dilakukan Sebelum Konferensi Damai Perang Rusia-Ukraina

Pada minggu itu, Beijing mengalami curah hujan terbanyak dalam 140 tahun.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

 Pertama Kali, Korea Utara Tampilkan Foto Kim Jong Un Beserta Ayah dan Kakeknya

Pertama Kali, Korea Utara Tampilkan Foto Kim Jong Un Beserta Ayah dan Kakeknya

Global
Penumpang Singapore Airlines Dirawat Intensif, 22 Cedera Tulang Belakang, 6 Cedera Tengkorak

Penumpang Singapore Airlines Dirawat Intensif, 22 Cedera Tulang Belakang, 6 Cedera Tengkorak

Global
Krisis Kemanusiaan Gaza Kian Memburuk, Operasi Kemanusiaan Hampir Gagal

Krisis Kemanusiaan Gaza Kian Memburuk, Operasi Kemanusiaan Hampir Gagal

Global
Nikki Haley, Saingan Paling Keras Trump Berbalik Arah Dukung Trump

Nikki Haley, Saingan Paling Keras Trump Berbalik Arah Dukung Trump

Global
Rusia Serang Kharkiv, Ukraina Evakuasi 10.980 Orang

Rusia Serang Kharkiv, Ukraina Evakuasi 10.980 Orang

Global
Menerka Masa Depan Politik Iran Setelah Kematian Presiden Raisi

Menerka Masa Depan Politik Iran Setelah Kematian Presiden Raisi

Global
Ongkos Perang Ukraina Mulai Bebani Negara Barat

Ongkos Perang Ukraina Mulai Bebani Negara Barat

Global
Israel Mulai Dikucilkan Negara-negara Eropa, Bisakah Perang Segera Berakhir?

Israel Mulai Dikucilkan Negara-negara Eropa, Bisakah Perang Segera Berakhir?

Global
Rangkuman Hari Ke-819 Serangan Rusia ke Ukraina: Pemulangan 6 Anak | Perebutan Desa Klischiivka

Rangkuman Hari Ke-819 Serangan Rusia ke Ukraina: Pemulangan 6 Anak | Perebutan Desa Klischiivka

Global
China 'Hukum' Taiwan yang Lantik Presiden Baru dengan Latihan Militer

China "Hukum" Taiwan yang Lantik Presiden Baru dengan Latihan Militer

Global
UPDATE Singapore Airlines Alami Turbulensi, 20 Orang Masuk ICU di RS Thailand

UPDATE Singapore Airlines Alami Turbulensi, 20 Orang Masuk ICU di RS Thailand

Global
Rusia Duduki Lagi Desa yang Direbut Balik Ukraina pada 2023

Rusia Duduki Lagi Desa yang Direbut Balik Ukraina pada 2023

Global
AS-Indonesia Gelar Lokakarya Energi Bersih untuk Perkuat Rantai Pasokan Baterai-ke-Kendaraan Listrik

AS-Indonesia Gelar Lokakarya Energi Bersih untuk Perkuat Rantai Pasokan Baterai-ke-Kendaraan Listrik

Global
Inggris Juga Klaim China Kirim Senjata ke Rusia untuk Perang di Ukraina

Inggris Juga Klaim China Kirim Senjata ke Rusia untuk Perang di Ukraina

Global
3 Negara Eropa Akan Akui Negara Palestina, Israel Marah

3 Negara Eropa Akan Akui Negara Palestina, Israel Marah

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com