Kehidupan Para Pemungut Sampah di India yang Terancam Covid-19

Kompas.com - 24/07/2020, 20:20 WIB
Mansoor Khan, 44, seorang pemungut sampah, berjalan ketika ia membawa sekarung bahan yang dapat didaur ulang setelah menyelesaikan pekerjaan untuk hari itu di tempat pembuangan sampah, selama pandemi penyakit virus corona (COVID-19), di New Delhi, India, 9 Juli 2020 . REUTERS/Adnan AbidiMansoor Khan, 44, seorang pemungut sampah, berjalan ketika ia membawa sekarung bahan yang dapat didaur ulang setelah menyelesaikan pekerjaan untuk hari itu di tempat pembuangan sampah, selama pandemi penyakit virus corona (COVID-19), di New Delhi, India, 9 Juli 2020 .

"Bagaimana jika kita mati? Bagaimana jika kita terkena penyakit ini? Tetapi, rasa takut tidak akan memenuhi perut kita, itu sebabnya kita harus melakukan pekerjaan ini," kata Khan kepada Reuters, yang mengungkapkan sambil berdiri di luar rumah beton dua kamar di kaki gunung sampah.

Baca juga: Negara Bagian Termiskin India Lockdown Lagi, 125 Juta Orang Terkurung

Bibi, perempuan berusia 38 tahun, mengatakan bahwa dia khawatir membawa infeksi virus yang mematikan kepada anak-anaknya di rumah, yang berusia 16 tahun, 14 tahun, dan 11 tahun.

"Ketika saya kembali dari sana, saya merasa takut memasuki rumah saya karena saya punya anak di rumah. Kami sangat takut dengan penyakit ini (virus corona)," kata Bibi.

Seorang ahli dalam limbah biomedis di think tank Center for Science and Environment, yang berbasis di Delhi, Dinesh Raj Bandela, mengatakan protokol untuk pembuangan limbah biomedis tidak selalu diikuti selama pandemi virus corona.

Baca juga: Jumlah Kasus Covid-19 Mendekati 1 Juta, India Lockdown Lagi

Sehingga, membuat mereka yang mengais sampah di tempat pembuangan akhir berisiko.

Baik Perusahaan Kota Delhi Utara, sebagai pihak yang mengelola tempat pembuangan sampah, maupun Dewan Pengendalian Polusi Pusat India, belum memberikan repon terkait risiko ini.

Menurut Bandela, ibu kota India digunakan untuk menghasilkan hampir 600 ton limbah medis per hari, tetapi itu telah meningkat sebesar 100 ton sejak virus corona merebak di seluruh penjuru negeri.

Halaman:
Baca tentang

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X