Kompas.com - 29/09/2022, 19:06 WIB

KOMPAS.com - Berawal dari kelompok anak muda yang kerap membagikan makanan pada masyarakat membutuhkan, Aksata Pangan kini tumbuh sebagai organisasi Food Bank resmi di Medan.

Hal itu diungkapkan Siti Suci Larasati, pendiri Aksata Pangan dalam program Inspirasi +62 Kompas.com, Senin (26/9/2022).

"Selama berjalan, kami sempat dapat donasi telur-telur kecil. Waktu itu, bapak distributor telurnya bilang ini harus dibuang karena bentuknya tidak profitable untuk dijual. Akhirnya kita menyadari bahwa potensi sampah makanan itu banyak, bukan hanya telur," kata perempuan yang akrab disapa Laras itu.

Usai mempelajari peran food bank di dunia, Laras kemudian mulai mendirikan organisasi berbasis hukum dengan label food bank.

Persis artinya, food bank secara umum berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan. Pangan ini nantinya akan dibagikan pada orang yang memenuhi kriteria.

Dua isu makanan yang menjadi fokus penting food bank secara umum juga disampaikan oleh Laras, yakni isu kerawanan pangan dan sampah makanan.

Solusi kerawanan pangan yang difokuskan pada perbantuan akses masyarakat pra sejahtera, serta produksi hingga konsumsi makanan yang memengaruhi sampah makanan, menjadi pusat perhatian food bank di dunia.

Baca juga:

Selamatkan 32 ton makanan

Berdasarkan dua isu besar tersebut, Aksata Pangan kemudian meluncurkan tiga program, yakni Food Stamps, Food Heroes, dan Food Pantry.

Meski terbagi menjadi tiga, setiap program memiliki tujuan yang sama untuk menyelamatkan makanan hampir terbuang.

"Food Stamps itu membagikan kupon setelah melakukan quick survey. Jadi harus survei dulu, kira-kira masyarakat dengan latar belakangnya pas gak sesuai target kita," kata Laras.

Kupon yang diterima masyarakat membutuhkan nantinya akan ditukar dengan bahan pangan maupun makanan, seperti sayur, susu, atau seleral.

Sementara Food Heroes merupakan program menyelamatkan makanan dari acara besar, seperti resepsi pernikahan.

Melalui program Food Heroes, Aksata Pangan kini juga bekerja sama dengan toko roti di Medan, menerima produk roti layak makan untuk disalurkan pada masyarakat membutuhkan.

Terakhir adalah Food Pantry. Saat menerima bahan makanan yang tidak bisa disalurkan langsung dalam bentuk utuh, dapur Aksata Pangan akan mengolahnya menjadi sajian, lalu dibagikan.

"Misalnya kita dapat pisang surplus, masih bisa dimakan, tetapi kalau udah sampai masyarakat jadi kematangan. Jadi kita olah menjadi nugget pisang, bolu pisang gitu," jelas Laras.

Menurut data Aksata Pangan selama 2021 lalu, organisasi ini berhasil menyelamatkan lebih dari 32.000 kilogram makanan berlebih dalam 100.000 porsi makanan di 14 Kecamatan di Medan.

Jumlah makanan tersebut disalurkan pada beberapa kelompok, yakni masyarakat pra sejahtera, lansia, panti asuhan, dan disabilitas.

"Load-nya mungkin bisa makin tinggi ketika kita menerima surplus jauh lebih banyak. Jadi 32 ton itu makanan yang kita selamatkan dari mitra-mitra kita yang mau bekerja sama untuk penyelamatan makanan itu," ujar Laras.

Baca juga:

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.