Kompas.com - 24/09/2021, 22:17 WIB

KOMPAS.com - Angkringan cukup melekat dengan daerah Yogyakarta. Banyak masyarakat lokal bahkan wisatawan yang menjadikan angkringan sebagai tujuan di kala perut sedang lapar saat malam hari.

Selain di Yogyakarta, angkringan juga bisa kamu temui di beberapa daerah Indonesia lainnya seperti Solo dan Surabaya.

Baca juga:

Ketiganya memiliki perbedaan dari masakan, minuman, hingga jam buka angkringan. Berdasarkan pengamatan Kompas.com, berikut ini perbedaan dari ketiganya yang menarik untuk diketahui.

Sejarah angkringan

Desa Ngerangan, tempat asal Mbah Karso pencipta angkringanDok/Desa Cikal Bakal Angkringan Desa Ngerangan, tempat asal Mbah Karso pencipta angkringan

Melansir dari artikel Kompas.com yang tayang pada Minggu (09/08/2020), Gunadi dan Suwarna selaku founder ikon Desa Cikal Bakal Angkringan mengatakan bahwa angkringan diciptakan oleh warga Klaten bernama Eyang Karso Dikromo dari Desa Ngerangan.

Baca juga: Sejarah Angkringan dari Desa Ngerangan Klaten, Kini Populer di Yogyakarta

Pada tahun 1930-an, Mbah Karso merantau ke Solo. Di sana, Mbah Karso bertemu dengan Mbah Wiryo yang berjualan terikan dengan menggunkaan pikulan tumbu pada tahun 1943.

Keduanya bertukar pikiran dan menemukan inovasi pikulan jualannya.

Di solo, angkringan sering disebut dengan hik. Suwarna menyebutkan kalau hik berasal dari cara menjualnya yang bersautan hiyeek!.

Namun menurutnya, ada juga yang menyebut kalau hik itu dari pembeli yang sendawa. Menurutnya, tidak ada yang pasti asal kata hik itu sendiri.

Baca juga: Resep Sate Usus Ayam ala Angkringan, Bisa buat Jualan

Bentuk gerobak pertama angkringanDok/ Desa Cikal Bakal Angkringan Ngerangan Bentuk gerobak pertama angkringan

Masih dalam laman artikel Kompas.com yang sama, kata angkringan banyak digunakan di Yogyakarta. Pedagang angkringan yang awalnya dipikul menjadi gerobak pada tahun 1970-an.

"Itu karena kalau kesandung air panas tumpah ke kaki, salah satu penjual yang membuat ide menggunakan gerobak. Baru jadi gerobak seperti sekarang tahun 1980an," jelas founder ikon Desa Cikal Bakal Angkringan.

Kini, angkringan pun menyebar hingga ke berbagai daerah Indonesia. Bukan hanya berbagai daerah saja, tetapi juga Jepang, Amerika Serikat, dan Swedia seperti yang disebutkan oleh Gunadi dan Suwarna.

Baca juga: 15 Resep Wedang Hangat untuk Tingkatkan Imun Tubuh

 

Angkringan di Yogyakarta

Ilustrasi angkringan dari Yogyakarta.SHUTTERSTOCK/BAYU DWI Ilustrasi angkringan dari Yogyakarta.

Di Kota Pelajar ini, kamu bisa menjadikan angkringan sebagai tujuan tempat mengisi perut saat malam hari. Pasalnya, angkringan di Yogyakarta mayoritas buka dari sore hingga malam hari.

Angkringan di Yogyakarta menjual aneka minuman seperti teh dan kopi. Namun yang menjadikannya khas adalah kopi jos.

Salah satu angkringan di Yogyakarta yang bisa kamu kunjungi adalah Angkringan Lek Man, seperti yang disebutkan dalam buku “Shopping Dan Relaxing Murah Meriah - Jogja Dan Solo” oleh Gagas Ulung terbitan PT Gramedia Pustaka Utama.

Ada menu kopi jos yang bisa kamu cicipi di angkringan ini. Kopi jos adalah kopi panas yang disajikan dengan memasukkan arang yang masih membara ke dalam gelas.

Konon katanya, arang memiliki fungsi menetralisir kadar kafein dalam kopi.

Selain kopi jos, perbedaan di antara angkringan di Yogyakarta, Solo, dan Surabaya adalah nasi kuning. Tidak lengkap rasanya, kalau di angkringan tidak ada nasi kucing.

Nasi kucing di angkringan Yogyakarta biasanya berisikan nasi putih dengan sambal ikan teri yang dibungkus dalam porsi kecil. Kamu bisa menikmatinya dengan aneka gorengan dan sate yang dipanaskan dengan bara api.

Angkringan di Solo

Ilustrasi angkringan.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Ilustrasi angkringan.

Angkringan di Solo lebih banyak disebut dengan hik atau wedangan. Hik sendiri merupakan singkatan dari hidangan istimewa ala kampung.

Seperti sebutan lainnya, angkringan di Solo memiliki juga menjual aneka minuman. Namun yang menjadi khasnya, angkringan di Solo memiliki ciri khas pada minuman wedang.

Melansir dari laman Kompas.com yang tayang pada Rabu (02/08/2017), penjual wedangan bernama Sutarno di Jalan Brigjend Slamet Riyadi, Solo, menuturkan beberapa rahasia wedangan.

Baca juga: 5 Rahasia Para Penjual Wedangan Khas Solo

Salah satunya, wedang teh. Wedangan di Solo memiliki cita rasa teh yang berbeda tetapi rasanya mantap.

"Biasanya wedangan pakai tiga merek teh, diracik sendiri. Saya dulu berlatih dulu meracik teh (sebelum jualan). Tehnya juga diseduh saat ada yang pesan, jadi segar," kata Sutarno.

Selain dari minumannya, angkringan di Solo juga sama dengan angkringan di daerah lainnya yang juga menjual nasi kucing.

Baca juga: 4 Wedangan di Solo Sajikan Wedang Uwuh Seduh dan Kering

Melansir dari buku “Jajanan Kaki Lima Khas Solo” oleh Linda Carolina Brotodjojo terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, sego kucing di Solo juga disajikan dengan porsi sedikit seperti nasi kucing di angkringan Yogyakarta.

Hanya saja, nasi kucing di Solo memiliki lauk ikan bandeng goreng dan dilengkapi pula dengan sambal goreng.

Sebagai pendampinganya, ada tempe, tahu, bakwan, sate usus, hingga sate kerang yang mana beberapa di antara menu tersebut juga bisa dipesan di angkringan di Yogyakarta.

Baca juga: 4 Wedangan Modern di Solo, Ada Cangkir Blirik dan Wedangan Pendopo

 

Angkringan di Surabaya

Di Kota Pahlawan ini, kamu juga bisa menemui deretan angkringan yang kebanyakan buka mulai dari sore hingga malam hari.

Tak berbeda jauh dari angkringan di Yogyakarta dan Solo, angkringan di Surabaya juga menjual aneka minuman seperti kopi dan teh.

Baca juga: 7 Sate Ayam di Surabaya, Salah Satunya Dimasak Tanpa Bumbu

Selain itu, angkringan di Surabaya juga menjual aneka makanan yang mirip dengan yang di Yogyakarta dan Solo. Ada menu sate-satean, baceman, hingga gorengan.

Hanya saja, kebanyakan angkringan di Surabaya berada di sebuah kedai mirip dengan warung kopi atau kafe.

Penyajian menu makanannya juga mirip dengan yang ada di Yogyakarta dan Solo ditata di sebuah nampan berderet dan pengunjung bisa mengambil sendiri aneka menu tersebut.

Baca juga: 15 Tempat Makan di Surabaya yang Terkenal Enak

Buku “Shopping Dan Relaxing Murah Meriah - Jogja Dan Solo” oleh Gagas Ulung terbitan PT Gramedia Pustaka Utama bisa dibeli di Gramedia.com.

Buku “Jajanan Kaki Lima Khas Solo” oleh Linda Carolina Brotodjojo terbitan PT Gramedia Pustaka Utama bisa dibeli di Gramedia.com. 

 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Foodplace (@my.foodplace)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.