Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Songgo Buwono, Burger Tradisional dari Keraton Yogyakarta

Kompas.com - 22/04/2024, 09:09 WIB
Wisang Seto Pangaribowo,
Anggara Wikan Prasetya

Tim Redaksi

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tak hanya menyimpan keindahan alam berupa pantai dan pegunungan.

DIY juga memiliki daya tarik wisata kuliner beragam, mulai dari gudeg, sate kere di Pasar Beringharjo, oseng-oseng mercon, hingga kuliner khas Yogyakarta yang disajikan untuk raja Keraton Yogyakarta, salah satunya adalah Songgo Buwono.

Menurut Direktur Utama Bale Raos, Sumartoyo yang akrab disapa Toyo, Songgo Buwono merupakan salah satu santapan yang ada sejak akhir era bertahtanya Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VII. kuliner tersebut mulai banyak disajikan, khususnya pada era Sultan HB VIII.

Baca juga: Songgo Buwono, Kuliner Ningrat dari Keraton Yogyakarta yang Penuh Filosofi

“Pada era Sultan HB VIII, banyak tamu-tamu dan berbagai acara yang ada di Keraton Yogyakarta. Sultan HB VIII dalam menjamu tamu-tamunya, jadi dijamu dengan makanan-makanan yang tidak mesti harus mewah, steak dan sebagainya," kata Toyo dalam keterangan tertulis, Minggu (21/4/2024).

Kuliner untuk menyambut tamu itu, sambung dia, juga harus bisa diterima di lidah, baik itu orang Belanda maupun masyarakat lokal.

“Nah, songgo buwono ini ada perpaduan antara masakan atau kuliner Eropa. Kalau dilihat, bahan-bahannya, memang sebetulnya lebih banyak pengaruh dari makanan Eropa,” imbuh Toyo.

Burger tradisional Keraton Yogyakarta

Lanjut dia songgo buwono sebagai wujud akulturasi budaya di bidang kuliner, memiliki tiga susunan bahan utama, yaitu sous, ragout, dan saus mustard Jawa.

Sous dikenal sebagai roti di masyarakat Eropa berbahan dasar tepung terigu yang diolah bersama mentega, telur, dan bahan lainnya.

Baca juga: Langkah Pemkot Yogyakarta Hadapi Desentralisasi Sampah

Alih-alih diisi fla vanilla seperti sous pada umumnya, sous pada songgo buwono diisi ragout yang terbuat dari potongan-potongan aneka sayuran (kentang, wortel, bawang bombay, bawang putih), dan daging ayam yang dibumbui.

Dressing songgo buwono merupakan kreasi saus mustard Jawa, berbahan dasar mentega dan kuning yang telur rebus yang telah dihancurkan. Kemudian ditambahkan mustard, gula, dan garam yang diaduk rata.

Selanjutnya, ditambahkan susu yang diaduk dengan kekentalan yang diinginkan dan terakhir diberi perasan jeruk nipis.

Songgo Buwono, kuliner tradisional bangsawan Keraton Yogyakarta.Dok. KEMENSESNEG RI Songgo Buwono, kuliner tradisional bangsawan Keraton Yogyakarta.

Semua bahan kemudian disusun menjadi satu, mulai dari sous yang diisi ragout lalu disiram dengan saus mustard Jawa di atasnya. Songgo buwono pun semakin lengkap dengan tambahan garnish berupa acar timun, daun selada, tomat dan telur rebus.

“Jika dilihat dari segi kandungannya, memang sangat penuh ya. Jadi proteinnya ada, proteinnya komplet ,baik hewani dan nabati. Ada karbohidratnya dari tepung dan sebagainya plus sayuran," tutur Toyo.

Menurut dia, sebetulnya songgo buwono bukan junk food, melainkan makanan berkualitas dan memiliki nilai gizi cukup.

Baca juga: Usai Dipakai Mudik Tol Solo-Yogyakarta Ditutup Lagi

"Jadi generasi muda, nggak usah minder dengan kuliner kita. Kalau di barat ada burger, kita punya Songgo buwono yang itu hampir mirip,” ujar Toyo.

Toyo menyatakan, songgo buwono juga memiliki makna di balik namanya. Dalam bahasa Jawa, songgo berarti menyangga, sementara buwono adalah dunia. Dengan demikian, secara umum nama songgo buwono bermakna penyangga kehidupan.

“Jadi simbolisasi sebetulnya. Simbolisasi bahwa kita menghidangkan jamuan makan itu pada acara-acara tertentu, acara pernikahan, itu punya makna dan punya harapan. Bahwa ada songgo buwono di suatu pernikahan itu adalah untuk menyanggah kehidupan yang selanjutnya," ujar dia.

Baca juga: Pasar Terban Yogyakarta Direvitalisasi, Pedagang Pindah ke Shelter

Toyo melanjutkan, banyak makanan-makanan Jawa di Keraton dan sebagainya, punya nama yang mengandung makna.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com