Kompas.com - 26/04/2021, 07:07 WIB
Ilustrasi terasi udang. shutterstock.com/foodiesIlustrasi terasi udang.


KOMPAS.com – Terasi adalah bumbu masak yang terbuat dari fermentasi ikan dan/atau udang rebon. Bentuknya biasanya menyerupai adonan pasta serta berwarna hitam-coklat.

Bumbu yang satu ini bisa digunakan untuk beragam jenis masakan. Mulai dari tumisan, sup, hingga sambal.

Baca juga: Apakah Terasi Aman Dikonsumsi Mentah?

Terasi bagian dari sejarah Cirebon

Travelling Chef Wira Hardiansyah mengatakan bahwa terasi hadir saat pemerintahan Sultan Cirebon I Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. 

“Pangeran Cakrabuana atau Mbah Kuwu Cirebon sering meluangkan waktu mencari udang atau rebon. Hasil tangkapan udang itu kemudian diolah menjadi terasi oleh Pangeran Cakrabuana,” kata Wira dalam berita Kompas.com.

Baca juga: Sejarah Terasi, dari Tangan Sultan Cirebon hingga Laksamana Cheng Ho

Ilustrasi udang rebon di atas sendok. SHUTTERSTOCK/IKA RAHMA H Ilustrasi udang rebon di atas sendok.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Nama kota Cirebon bahkan berasal dari kata ci (air) dan rebon (udang rebon). Udang rebon merupakan bahan penting dalam pembuatan terasi.

Hal tersebut tertera dalam buku “Makanan Tradisional Indonesia: Kelompok Makanan Fermentasi dan Makanan yang Populer di Masyarakat” (2016) karya Eni Harmayani, Umar Santoso, dan Murdijati Gardjito terbitan Gadjah Mada University Press.

Terasi jadi pendorong ekonomi Cirebon

Sejarah terasi memang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan sejarah kota Cirebon.

Diyakini terasi berperan cukup besar dalam perkembangan daerah Cirebon, khususnya dari segi ekonomi sejak ditemukan sekitar abad ke-14.

Tertera dalam buku “Pangeran Cakrabuana – Sang Perintis Kerajaan Cirebon” (2007) karya Besta Besuki Kertawibawa terbitan PT Dunia Pustaka Jaya, disebutkan bahwa ada sebuah desa yang terletak di tepi pantai bernama Cirebon.

Di sana terdapat banyak tumbuhan pohon kayu alang-alang dan rumput (semak belukar) laut. Di sungai yang ada di kawasan tersebut terdapat banyak ikan dan rebon (udang kecil).

Wilayah yang dialiri Sungai Cirebon itu yang sebelumnya dikenal sebagai Kebon Pasisir atau Tegal Alang-alang atau Lemah Wungkuk.

Ilustrasi ebi kering untuk sambal. SHUTTERSTOCK/RAMANTARA Ilustrasi ebi kering untuk sambal.

Pangeran Cakrabuana alias Raden Walangsungsang melihat potensi besar dari hasil alam di wilayah tersebut dan memutuskan untuk mengembangkannya.

Ia pun menciptakan lapangan kerja untuk penduduk setempat. Ia memulai industri pengolahan udang rebon di sekitar perairan, di antaranya dibuat menjadi petis dan terasi sebagai bumbu masakan.

Jumlah penduduk Cirebon pada masa itu, sekitar tahun 1447 Masehi, meningkat sampai 700 persen selama dua tahun.

Salah satu faktor penyebabnya diyakini karena adanya sentra produksi pembuatan makanan olahan, termasuk terasi. Banyak masyarakat sekitar yang kemudian mengadu nasib ke sana.

Baca juga: Cara Pilih Udang Rebon Segar, Jangan Ambil yang Bau Ikan

Halaman:
Baca tentang


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.