Kompas.com - 05/06/2020, 18:02 WIB
makanan padang di Padang Petir rumah makan Padang milik Atta Halilintar Kompas.com / Gabriella Wijayamakanan padang di Padang Petir rumah makan Padang milik Atta Halilintar

JAKARTA, KOMPAS.com - Restoran khas Minang atau lebih dikenal restoran padang di Jakarta terkenal dengan penyajian hidang.

Puluhan piring dengan isian beraneka lauk disajikan di meja makan, sampai ada sebutan bahwa rumah makan khas Minang menyajikan prasmanan mini.

"Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama. Rumah makan padang kan pada dasarnya restoran cepat saji khas Indonesia," tutur Antropolog yang berkecimpung dalam bidang kuliner khas Minang, Nursyiwan Effendi kepada Kompas.com pada 2016.

Baca juga: Dilarang Sajikan Prasmanan, Rumah Makan Padang di Jakarta Atur Siasat

Dengan konsep seperti itu, Nusyirwan mengatakan staf restoran dituntut menyajikan banyak jenis masakan dalam waktu cepat.

"Jadi untuk mengantarkan makanan agar tidak bolak-balik, harus dalam satu waktu," kata Nursyiwan yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas. 

"Oleh karena itu tradisinya piring ditumpuk di lengan kiri, dengan tangan kanan untuk menyajikan," pungkasnya.

Butuh keahlian khusus membawa piring lauk

Rusdi, pemilik Rumah Makan Taman Selera di jalur pantura, Indramayu, Jawa Barat.KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Rusdi, pemilik Rumah Makan Taman Selera di jalur pantura, Indramayu, Jawa Barat.

Tradisi hidang terbilang istimewa karena untuk menyajikan lauk yang jumlahnya puluhan, staf restoran butuh keahlian khusus.

Staf restoran Padang Merdeka cabang Tebet, Santoso, bertugas mengambil lauk dan menyajikan makanan ke tamu.

Di restoran khas Minang, petugas yang bertugas mengambil lauk dan membungkus makanan disebut palung. Sementara yang menyajikan makanan disebut tukang saji.

Baca juga: Restoran dan Kafe di Jakarta Bersiap untuk Pembukaan Era New Normal pada 8 Juni 2020

Sekali membawa piring berisi lauk, Santoso dapat mengangkat sampai 14 piring dengan tangan kosong.

Ia membawa piring tersebut tanpa bantuan alat apapun, hanya disusun sedemikian rupa.

"Saya belajarnya (membawa piring) tiga minggu, sampai lancar tiga bulan," jelas Santoso.

Namun agaknya kamu tidak akan melihat atraksi dari Santoso dan staf restoran khas Minang lain untuk menyajikan hidang.

Sebab di masa pandemi, rumah makan khas Minang di Jakarta dilarang menyajikan hidang dan diganti dengan sistem ala carte. 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X