Kompas.com - 24/11/2021, 13:09 WIB
Webinar Road to DUDI Awards 2021 'Peran Strategi Industri Dalam pembanguann SDM Vokasi', Selasa (23/11/2021). Tangkap layar YouTube Ditjen Vokasi Kemendikbud RistekWebinar Road to DUDI Awards 2021 'Peran Strategi Industri Dalam pembanguann SDM Vokasi', Selasa (23/11/2021).
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Wikan Sakarinto mengatakan, hal paling penting yang dibutuhkan industri yakni lulusan vokasi dengan soft skill.

Selain soft skill, industri juga paling membutuhkan karakter atau attitude dari lulusan pendidikan vokasi.

Di dunia industri, lanjut Wikan, hard skill tidak terlalu diutamakan karena kemampuan hard skill tumbuh sepanjang masa seiring teknologi yang akan terus berkembang.

"Yang menjadi catatan, bagaimana menciptakan soft skill ke anak-anak. Soft skill diciptakan dengan terpadu pada proses pembelajaran. Tidak ada mata kuliah soft skill tetapi melalui proyek based learning sejak semester 1," ungkap Wikan dalam acara Webinar Road To DUDI Awards 2021 'Peran Strategi Industri Dalam pembanguann SDM Vokasi', Selasa (23/11/2021).

Baca juga: Komisi X DPR Perjuangkan Kesetaraan Hak Guru Formal dan Non-Formal

Pentingnya soft skill di pendidikan vokasi

Wikan menekankan, hal tersebut menjadi catatan dan kritik pada diri pendidikan vokasi itu sendiri.

Wikan menilai di politeknik, sekolah vokasi hingga SMK bisa dikatakan sudah percaya diri karena telah memasukkan unsur soft skill ke pembelajaran.

Namun menurut Wikan, hal tersebut belum sesuai dengan yang dia bayangkan.

"Selalu bilang praktik, praktik, praktik. Sebanyak 60 persen praktik dan teori 40 persen. Di dalam praktik seolah-olah mengerjakan proyek, tetapi bukan proyek based learning tapi lebih ke proyek-proyekan based learning," ungkap Wikan.

Baca juga: Pakar IPB Ungkap Kandungan Daun Pohpohan dan Kenikir di Lalapan

Wikan memberi contoh, pada mata kuliah pengelasan logam di Teknik Mesin, mahasiswa selama 90 jam dalam satu semester belajar ngelas. Tetapi yang di las bukan pesanan real dari industri.

"Yang dikerjakan hanya simulasi, setelah pengelasan selesai kemudian dibuang," imbuhnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.