Kompas.com - 21/10/2021, 10:35 WIB
Penerapan pendidikan toleransi dilakukan oleh SMA Avicenna Jagakarsa dan SMA Kristen Ketapang 1 Jakarta yang justru menembus batas saling belajar keberagaman melalui tatap maya (daring) pada selasa (24/8/2021). DOK. PRIBADI/ALIFPenerapan pendidikan toleransi dilakukan oleh SMA Avicenna Jagakarsa dan SMA Kristen Ketapang 1 Jakarta yang justru menembus batas saling belajar keberagaman melalui tatap maya (daring) pada selasa (24/8/2021).

Oleh: Alif Fadillah Aryatama | SMA Avicenna Jagakarsa, DKI Jakarta | Finalis Festival Literasi Siswa Indonesia 2021

KOMPAS.com - “Tugas para fungsionaris, pemuka agama dan bahkan umat beragama adalah terus mensosialisasikan dan sekaligus mengaktualisasikan ajaran-ajaran agama tentang perdamaian dalam kehidupan sehari-hari”.

Itulah sebuah kutipan dari pernyataan mantan Presiden RI, Jusuf Kalla dalam buku Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian dari The Wahid Institue dan Soka Gakkai Indonesia.

Kutipan tersebut tentu lahir karena adanya harapan akan dampak positif dari keberagaman.

Namun dalam kacamata lainnya, keberagaman juga sangat rentan memicu konflik serta perpecahan. Bahkan hadirnya pandemi Covid saat ini tak membuat kasus intoleransi berkurang, namun justru tumbuh bersemai mengancam persatuan di tengah krisis pandemi.

Hal ini diperkuat oleh data yang dikeluarkan Setara Institute bahwa selama pandemi tahun 2020 saja terjadi 180 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan, dengan 422 tindakan yang berupa pelarangan pembangunan fasilitas ibadah, intimidasi kegiatan peribadatan, penodaan agama dan pelarangan ibadah dari kelompok tertentu ke kelompok lainnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Permasalahan intoleransi terhadap keberagaman tersebut tentu menjadi ancaman serius bagi Bumi Pertiwi. Upaya persuasif dan preventif perlu dilakukan secara terus menerus khususnya bagi generasi muda sebagai pemegang tongkat estafet bangsa.

Upaya menyemai benih toleransi ini bisa dilakukan melalui berbagai kegiatan.

Salah satu contoh baik penerapan pendidikan toleransi dilakukan oleh SMA Avicenna Jagakarsa dan SMA Kristen Ketapang 1 Jakarta yang justru menembus batas saling belajar keberagaman melalui tatap maya (daring) pada selasa (24/8/2021).

Baca juga: Sepotong Keharmonisan Multikultural di Pesengkongan...

Pembelajaran Jarak Jauh yang selama ini dianggap banyak orang kurang berdampak positif bagi siswa, nyatanya dapat diubah sudut pandangnya oleh kedua sekolah yang berhasil menciptakan pembelajaran menarik dan kaya nilai toleransi yang diberi nama Pembelajaran Lintas Sekolah: Belajar Keberagaman.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.