Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemendikbud Ungkap 3 Alasan Dibentuknya Kebijakan Merdeka Belajar

Kompas.com - 06/05/2024, 16:05 WIB
Sania Mashabi,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbud Ristek, Praptono mengungkap tiga alasan diadakannya kebijakan Merdeka Belajar.

Merdeka Belajar adalah suatu pendekatan yang dilakukan agar siswa dapat memilih pelajaran yang diminati. Serta dilakukan agar siswa bisa mengoptimalkan bakat dan kontribusi paling baik dalam berkarya untuk bangsa.

Menurut Praptono, alasan pertama kebijakan Merdeka Belajar diadakan karena angka literasi dan numerasi pelajar di Indonesia khususnya SD sampai SMA terbilang masih rendah.

"Kita semua tahu, anak kita sungguh sangat rendah kemampuan literasinya," kata Praptono di Global Islamic School 2 Serpong, Tangerang Selatan belum lama ini.

Baca juga: Hardiknas 2024, Nadiem Beberkan Capaian Program Merdeka Belajar

Alasan adanya program Merdeka Belajar

Menurut Praptono, rendahnya literasi pelajar Indonesia terlihat dari besaran skor Programme for International Student Assessment (PISA) yang terbilang masih perlu banyak perhatian.

Selain itu, rendahnya skor literasi pelajar Indonesia juga terlihat dari hasil asesmen nasional yang dilakukan oleh Kemendikbud Ristek.

"Bahkan di satuan-satuan pendidikan kita melihat anak-anak kita memiliki kemampuan litetasi yang menuntut pada kita semua bekerja keras untuk melakukan perbaikan," ujarnya.

Baca juga: Mendikbud Nadiem Akan Masukkan Kegiatan Pramuka ke Kurikulum Merdeka

Alasan selanjutnya, kata Praptono adalah, numerasi atau kemampuan berpikir pelajar Indonesia yang juga terbilang masih rendah karena skor literasi rendah.

"Bahkan karena literasinya buruk, maka numerasinya juga buruk. Ini tantangan awal yang menginspirasi Mas Menteri (Nadiem Makarim) untuk melakukan kebijakan Merdeka Belajar," lanjut dia.

Sementara alasan terakhir dibentuknya kebijakan Merdeka Belajar adalah untuk menumbuhkan kembali karakter Indonesia pada pelajar.

Sebab, karakter Indonesia pada pelajar Indonesia mengalami pengikisan karena dampak dari perkembangan teknologi yang pesat.

Baca juga: Hardiknas 2024, Nadiem Beberkan Capaian Program Merdeka Belajar

Dia menambahkan, kemajuan teknologi yang begitu pesat berdampak pada kehidupan tidak lagi bisa dibatasi. Ternyata anak-anak juga memiliki kerapuhan terhadap karakter Indonesia.

"Sehingga komplit bahwa dunia pendidikan kita itu sedang berada dalam situasi yang tidak bagus," jelas Praptono.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com