IPB: "Food Estate" Perlu Pertimbangkan Aspek Keberlanjutan Ekologi dan Ekonomi

Kompas.com - 15/09/2020, 21:11 WIB
Lahan food estate Dok. Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPRLahan food estate

KOMPAS.com - Guru Besar Institut Pertanian Bogor ( IPB) University dari Fakultas Pertanian, Edi Santosa melihat kunci keberhasilan megaproyek food estate yang dijalankan pemerintah pusat ada pada keberlanjutan dari segala aspek, khususnya aspek ekonomi, sosial dan ekologi.

Rencananya food estate akan dibangun di Kalimantan Tengah, dengan menempati lahan seluas 1,4 juta hektar. Tujuan dari megaproyek ini untuk meningkatkan areal penanaman komoditas pertanian yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan kuantitas pangan nasional.

Baca juga: Bertemu Wapres, Prabowo Sebut 4 Negara Tertarik Investasi Program Food Estate

"Jangan sampai ketika Indonesia memperingati kemerdekaan ke-100 justru terperangkap oleh krisis pangan, karena proyek food estate tidak mempertimbangkan keberlanjutannya, baik keberlanjutan ekologi, sosial maupun ekonomi," tegas Edi dalam keterangannya, melansir laman IPB, Selasa (15/9/2020).

Maka dari itu, Edi menyarankan supaya proyek food estate dibangun dengan landasan kuat. Landasan dimaksud antara lain adalah menyelesaikan koordinasi antar lembaga, ketersediaan sarana dan prasarana yang tepat dan memadai serta kesiapan sumber daya manusia.

"Koordinasi antar lembaga ini penting dilakukan baik di pusat maupun daerah. Bila koordinasi tidak terlaksana, maka bisa menjadi penghalang dalam merealisasikan program food estate, seperti tumpang tindih peran dan tidak efisien dalam bekerja. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga harus diikutkan supaya bisa memberikan peran di dalamnya," jelas dia.

Program food estate harus didukung teknologi

Proyek food estate juga, sambung dia, harus didukung oleh teknologi yang memadai seperti transportasi dan teknologi operasional. Teknologi ini wajib didukung oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang memadai, sehingga penyelenggaraan proyek bisa efisien dan memiliki keberhasilan yang tinggi.

"SDM ini adalah komitmen jangka panjang, kita bisa mengirimkan pemuda terbaik setempat untuk belajar di perguruan tinggi terbaik di Indonesia, agar saatnya nanti mereka bisa menjadi agen perubahan, motivator sekaligus penggerak bagi komunitasnya," tutur Edi.

Dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura itu juga menjelaskan, program food estate tidak hanya difokuskan pada komoditas padi saja, melainkan dapat diterapkan untuk komoditas pangan yang lain seperti jagung, singkong, maupun sagu.

"Ada daerah yang genangannya terlalu dalam sehingga tidak memungkinkan ditanami padi, maka bisa dimanfaatkan untuk perikanan. Jangan dipaksakan padi, bila lebih cocok untuk peternakan, maka bisa digunakan untuk peternakan," ungkap dia.

Apapun pilihan komoditasnya, lanjut dia, apabila mempertimbangkan aspek ekologi dan dikerjakan dalam kondisi efisien, itu akan memberikan keberhasilan yang besar.

Baca juga: IPB Diminta Kembangkan Singkong dan Sagu di Lahan 32 Ribu Hektar

"Terkait ekologi, saya berharap supaya dilakukan rehabilitasi jaringan irigasi untuk lahan yang belum produktif bagi pertanian dan meningkatkan kesuburan tanah di daerah yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah," ungkap pria yang juga mengemban amanat sebagai Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, IPB University.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X