Kolom Biz
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Swiss German University
Swiss German University (SGU)
Akademisi

Kanal konten edukasi Swiss German University yang inovatif dan menginspirasi, dengan fokus pada pengalaman belajar unggul, pembelajar global, dan transformasi karakter positif.

Ada Apa dengan Akuntansi dan Gen Z?

Kompas.com - 09/05/2024, 14:12 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh Anisa Naamin

Public Relation Coordinator Swiss German University


MEMASUKI zaman digital yang serbacepat, peluang kerja semakin melimpah. Siapa yang menyangka, sekadar membuat foto dan video berbekal ponsel, lalu diunggah ke media sosial, bisa menghasilkan banyak uang.

Kini, popularitas tak lagi harus dicari di televisi, koran, atau majalah. Cukup melalui media sosial, seseorang bisa terkenal di seluruh Indonesia.

Seiring dengan fenomena tersebut, anak muda zaman sekarang atau lebih tepatnya generasi Z (kelahiran 1997-2012), banyak yang memilih karier di bidang media, hiburan, teknologi, atau kewirausahaan.

Menurut Indonesia Gen Z Report 2022 yang dirilis oleh IDN Media dan Populix, lima bidang pekerjaan yang paling diminati gen Z adalah pemasaran, ilmu komputer, media, humas, dan transportasi.

Namun, di balik gemerlap profesi-profesi tersebut, bidang-bidang tradisional yang tumbuh sejak generasi baby boomer juga diprediksi akan tetap penting.

Salah satu bidang tersebut adalah akuntansi bisnis. Bidang ini dinilai bakal tetap relevan dan memiliki peran penting di masa depan selama bisnis masih ada di dunia.

Penting di setiap era

Bagi sebagian gen Z, akuntansi bisnis memiliki kesan membosankan, ketinggalan zaman, atau mengerikan karena berkutat dengan angka.

Meski demikian, masih ada sebagian gen Z yang berpendapat lain. Joe Ryan Swanto, misalnya. Mahasiswa Akuntansi Bisnis Swiss German University ini melihat akuntansi dari perspektif yang berbeda.

"Ilmu akuntansi bukan hanya tentang angka dan laporan keuangan, tetapi juga tentang memahami operasional bisnis, mengelola keuangan secara efektif, dan membuat keputusan strategis," katanya.

Dia melanjutkan, pemahaman dalam bidang akuntansi membuka peluang luas untuk berkarier di berbagai sektor, baik publik, swasta, maupun nirlaba.

Salah satu investor tersukses dan orang terkaya di dunia, Warren Buffett, menyatakan dalam buku The Tao of Warren Buffet (2008) bahwa akuntansi adalah bahasa universal bisnis. Bahkan, ketika ditanya oleh putri dari salah seorang rekan bisnisnya mengenai program studi apa yang sebaiknya diambil saat kuliah, beliau langsung menjawab akuntansi.

Menurut Buffet, salah satu key skill yang harus dimiliki dalam menjalankan bisnis adalah kemampuan untuk membaca laporan keuangan melalui akuntansi.

If you can’t read the scorecard, you can’t keep the score, which means you can’t tell the winners from the losers," kata Buffet.

Peran penting akuntansi juga bisa dilihat dari keberadaannya di dalam peradaban dunia yang sudah begitu lama.

Melansir Kompas.com, Rabu (19/7/2023), akuntansi pertama kali muncul di Mesir kuno, tepatnya pada 2920 SM. Pada dasarnya, akuntansi adalah seni mencatat berbagai transaksi keuangan. Akuntansi kemudian berkembang terus dari peradaban ke peradaban, dari Babilonia, China, Yunani, hingga Romawi seiring kemajuan perdagangan dan ekonomi.

Sementara itu, ilmu akuntansi sendiri muncul pada 1494. Seorang matematikawan Italia bernama Luca Pacioli menerbitkan buku berjudul Summa de Aritmatica, Geometria Proportioni et Propotionallia, yang mencakup sistem pembukuan berpasangan.

Ilmu itu lalu menyebar ke seluruh dunia melalui kolonialisme dan perdagangan, termasuk ke Hindia Belanda (Indonesia) pada 1642. Di Hindia Belanda, akuntansi ala Pacioli awalnya digunakan oleh perusahaan Belanda. Kemudian, ilmu ini juga diadopsi oleh perusahaan lokal.

Selepas kemerdekaan Indonesia, pendidikan tinggi tentang akuntansi dimulai pada 1952 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang kemudian diikuti oleh universitas lainnya. Ikatan Akuntansi Indonesia pun terbentuk pada 1957. Organisasi ini berperan penting dalam menyusun standar dan meningkatkan kualitas pendidikan akuntansi.

Sejak saat itu, akuntansi terus berkembang di Indonesia, beradaptasi dengan kebutuhan industri dan perkembangan zaman. Akuntansi manual, misalnya, yang kini telah hilang tergerus modernisasi. Kini, tersedia berbagai peranti lunak sebagai alat bantu akuntansi. Penerapan akuntansi standar keuangan nasional Indonesia yang diberlakukan juga mengacu pada standar internasional.

Mengingat pentingnya peran akuntansi dalam perdagangan dan ekonomi, wajar jika para lulusan akuntansi dari perguruan tinggi juga mendapatkan penghasilan yang layak.

Menurut data Department of Education United Kingdom pada 2018, lulusan jurusan akuntansi menerima gaji yang paling tinggi dibandingkan dengan jurusan lain, seperti teknik, ilmu komputer, dan kedokteran.

Setelah 5 tahun kelulusan, seorang lulusan akuntansi dapat memperoleh penghasilan rata-rata antara 55.200–61.000 pound sterling per tahun atau sekitar Rp 91–100 juta per bulan.

Sementara itu, menurut Laporan Gaji JobStreet 2022 yang diwartakan Kompas.com, Selasa (26/4/2022), pekerja bidang akuntansi dan keuangan menempati posisi ketiga dalam urusan gaji dengan rentang Rp 4,2 juta sampai Rp 32,5 juta per bulan, tergantung level kepegawaian.

Selain dari penghasilan, perkembangan karier seorang akuntan juga terbilang potensial. Bahkan, tak sedikit akuntan yang mampu menduduki jabatan tertinggi dalam sebuah perusahaan. Sebagai contoh, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dan mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Ignasius Jonan.

Terus beradaptasi

Sebagai bagian penting yang terus ada dalam peradaban dunia, akuntansi juga terus beradaptasi dalam era disrupsi yang didorong oleh bisnis digital dan kecerdasan buatan (AI). Demikian pula pendidikan tinggi yang mencetak para akuntan.

Berbagai upaya adaptasi akuntansi dengan era disrupsi dilakukan oleh berbagai universitas di Indonesia, termasuk Swiss German University.

Kurikulum akuntansi yang adaptif terhadap perkembangan industri tentu menjadi kunci. Berbagai kampus memperbarui mata kuliah di bidang akuntansi, misalnya Data Analytics dalam Akuntansi, Analisis Sistem dan Desain Akuntansi, ataupun Bisnis Digital dalam Konteks Akuntansi.

Beberapa mata kuliah tersebut memungkinan para mahasiswa memahami tren terbaru di industri, membuat visualisasi data yang lebih “wow” dengan berbagai aplikasi terkini, serta mempelajari penerapan aplikasi akuntansi daring, yakni teknologi blockchain dalam bisnis digital. Ini melengkapi mata kuliah yang sudah lama ada di jurusan Akuntansi Swiss German University.

Perubahan cepat di industri juga diantisipasi pihak kampus dengan menerapkan program magang ke industri, bahkan hingga dua kali. Langkah ini diambil untuk menerapkan ilmu di perkuliahan serta mendapatkan pengalaman bekerja langsung di industri yang dalam beberapa sampel, malah memberikan pengenalan kepada mahasiswa terhadap sistem aplikasi baru yang diterapkan di suatu perusahaan.

Dengan program magang seperti itu, mahasiswa diharapkan dapat lebih cepat beradaptasi dengan industri, serta meningkatkan kesempatan untuk masuk ke dalam proses rekrutmen kerja.

Penggunaan peranti lunak akuntansi terbaru dalam mata kuliah, seperti SAP dan Accurate, juga merupakan bentuk upaya kampus dalam mengikuti perkembangan industri. Mahasiswa juga diberikan beberapa level sertifikasi kompetensi profesi akuntan sebagai bentuk adaptasi yang dilakukan pendidikan tinggi jurusan akuntansi.

Upaya-upaya tersebut perlu dilakukan agar akuntansi semakin menarik bagi gen Z yang dikenal sebagai generasi yang kreatif, inovatif, dan melek teknologi. Mengesampingkan pentingnya akuntansi bisa menjadi penghambat bagi gen Z yang berusaha membangun karier dan meraih kesuksesan pada masa depan.

Sebab, akuntansi tidak hanya berkaitan dengan aspek angka semata, tetapi juga memperlihatkan keterlibatan dalam teknologi, kreativitas, inovasi, dan tren besar dunia. Seru bukan?


Komentar
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com