Ketika Pembiaran, Ketidakadilan dan Kepalsuan Dipertontonkan

Kompas.com - 16/11/2020, 09:16 WIB
Mural menghiasi tembok tua di sisi timur Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Mural ini berisi ajakan kepara rakyat untuk terus bekerja di tengah kondisi negara yang tidak bisa diharapkan. Difoto tahun 2010, tembok tempat mural ini sudah dirobohkan. Kompas/Wisnu NugrohoMural menghiasi tembok tua di sisi timur Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Mural ini berisi ajakan kepara rakyat untuk terus bekerja di tengah kondisi negara yang tidak bisa diharapkan. Difoto tahun 2010, tembok tempat mural ini sudah dirobohkan.

KOMPAS.com - Hai, apa kabar? Semoga kabarmu baik dan tetap baik meskipun mendapati banyak realita yang bertentangan dengan yang seharusnya.

Lewat realita yang kita jumpai, kita makin yakin bahwa dalam menghadapi situasi-situasi tertentu, negara, otoritas, kepala daerah, aparat penegak hukum tidak berdaya.

Apa yang dipidatokan, apa yang dinyatakan lewat tindakan yang dipublikasikan, apa yang ditegaskan lewat penegakan aturan tidak dijalankan saat berhadapan dengan sejumlah kepentingan atau kekuasaan.

Selain pembiaran, kita juga menyaksikan bahwa aturan, penegakan atas aturan dilakukan secara tidak adil.

Antarlevel penegak hukum atau level kekuasaan bersikap berbeda dan terlihat bertentangan. Ada yang melarang tetapi tidak memberi tindakan. Ada yang melarang tetapi memfasilitasi pelanggaran. Sebuah pertunjukan kekuasaan yang melelahkan dan menguras emosi bagi warga kebanyakan.

Karena itu, mendapati realita ini, semoga kabarmu tetap baik. Beberapa teman saya tetap baik kabarnya lantaran sudah cukup lama tidak meletakkan harapan kepada negara dan aparatnya yang ada di mana-mana.

Tips tetap baik-baik saja ketika mendapati realita yang tidak sesuai dengan yang seharusnya memang tidak meletakkan harapan di sana.

Lebih dari 10 tahun lalu, mural di sisi timur Pasar Beringharjo Yogyakarta sudah "menubuatkan" sikap yang tepat ketika mendapati realita yang berulang ini, "Teruslah Bekerja, Jangan Berharap pada Negara."

Situasi yang gawat sebenarnya. Tingkat kepercayaan kepada negara, otoritas, dan aparatnya terus turun karena digerogoti dan dibiarkan digerogoti oleh mereka sendiri.

Apa akibatnya jika tingkat kepercayaan kepada negara dan otoritas merosot? Tidak akan ada organisasi. Rakyat akan berjalan sendiri-sendiri. Jika tak segera dikelola dengan baik, hal-hal yang tak baik sebagai akibatnya bisa datang.

Kewer-kewer kalau bahasa para seniman dan teman-teman saya di Yogyakarta.

Duo Libertaria, Marzuki Mohammad a.k.a Kill the DJ dan Balance.Dokumentasi Libertaria Duo Libertaria, Marzuki Mohammad a.k.a Kill the DJ dan Balance.
Kita berharap, negara yang sebenarnya tidak terlalu kita harapkan menyadari hal ini sebelum semua tidak terkendali. Kalau ternyata negara tidak menyadari dan tidak mengambil tindakan atas hal ini, relakan saja. Toh, harapan tidak kita letakkan di sana.

Kita antisipasi dan berdoa agar hal-hal yang tak baik tidak akan terjadi. Hal-hal tidak biasa di luar ekspektasi kadang baik juga untuk memunculkan kesadaran.

Soal kesadaran, terkait situasi pandemi karena Covid-19 yang belum bisa kita atasi, para ahli dan peneliti mengungkapkan tujuh gejala yang baik kita ketahui dan kemudian sadari.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X