Ketika Pembiaran, Ketidakadilan dan Kepalsuan Dipertontonkan

Kompas.com - 16/11/2020, 09:16 WIB
Tanaman monstera sebagai dekorasi ruang tamu karya Hey Cheese www.home-designing.comTanaman monstera sebagai dekorasi ruang tamu karya Hey Cheese

Pengetahuan dan kesadaran akan gejala ringan hingga sedang ini bisa jadi pijakan tindakan agar penanganan bisa dilakukan lebih awal sebelum sesuatu yang tak baik datang.

Berdasarkan data yang diperoleh, para periset menarik kesimpulan ada beragam tanda yang kemudian diklasifikasi dalam tujuh kelompok gejala Covid-19.

1. Gejala seperti flu, ditandai dengan demam, meriang, kelelahan dan batuk-batuk.

2. Gejala pilek, ditandai dengan hidung tersumbat atau meler, bersin-bersin, dan tenggrokan kering.

3. Sakit persendian dan otot.

4. Radang selaput mata dan selaput lendir.

5. Masalah pada paru-paru, ditandai dengan peradangan atau sulit bernapas.

6. Masalah saluran pencernaan, ditandai dengan diare, mual atau sakit kepala.

7. Hilangnya indera penciuman dan pengecapan serta gejala lainnya.

Jika kamu mendapati gejala-gejala ini pada diri sendiri atau orang-orang terdekat, kewaspadaan perlu ditingkatkan dengan pemeriksaan lanjutan demi mencegah kekacauan yang mungkin ditimbulkan.

Soal hal-hal yang tak baik yang tak kita kehendaki, ada yang menarik untuk dipraktikkan sementara kamu di rumah saja karena pandemi. Misalnya, menggunakan micin atau penyedap rasa makanan sebagai penyubur tanaman-tanaman. Terasa aneh, tapi sebagai sebuah eksperimen, boleh saja dicoba.

Sekaligus sebagai informasi, sejak awal November 2020 lalu, Kompas.com membuat kanal khusus tentang segala hal yang kamu bisa lakukan di rumah. Kanal itu kami sebut Homey.

Di rumah saja selama delapan bulan pandemi pasti tambah mengasyikkan jika kita bisa mengoptimalkan semua aktivitas yang bisa dilakukan di rumah dan dari rumah. Karena pandemi, rumah menjadi terlihat kekuatannya.

Oya, pekan lalu, kita juga disadarkan kembali tentang banyaknya kepalsuan di sekitar kita. Setelah berproduksi sekitar satu tahun, diungkap bahwa hasil produksi "madu banten" yang dibuat di Jakarta ternyata palsu.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X