Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Daftar 15 Jenis Obat Kandidat Terbaik untuk Melawan Corona

Kompas.com - 22/05/2020, 20:45 WIB
Jawahir Gustav Rizal,
Rizal Setyo Nugroho

Tim Redaksi

Sumber Nature

Saat ini, nitazoxanide masih menjalani uji klinis untuk membandingkan efektifitasnya dengan hidroksiklorokuin dan ivermectin.

Ivermectin

Ivermectin adalah makrolida lipofilik yang biasanya digunakan sebagai obat anti-parasit berspektrum luas yang juga mempengaruhi banyak invertebrata.

Pada parasit, ia bekerja dengan mengikat saluran ion glutamat yang berpagar glutamat, yang mengarah pada depolarisasi sel dan kelumpuhan atau kematian parasit.

Baca juga: Sejarah Heroin: Sebelum Jadi Narkoba, Awalnya Obat Batuk untuk Anak

Ketika diarahkan melawan Covid-19, diperkirakan bekerja dengan cara mengikat dan mendestabilisasi protein transpor sel yang digunakan untuk memasuki nukleus.

Kortikosteroid

Salah satu obat imunomodulator yang sedang dipelajari untuk pengobatan Covid-19 adalah kortikosteroid.

Obat ini bekerja di tingkat molekul dengan menghambat perkembangan gen yang dapat menimbulkan inflamasi.

Tocilizumab dan Sarilumab

Beberapa obat yang ditujukan untuk memblokir badai sitokin sedang diuji dalam uji klinis, termasuk tocilizumab dan sarilumab, keduanya antagonis antibodi monoklonal dari reseptor IL-6 yang biasanya digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis.

Bevacizumab

Bevacizumab adalah antibodi monoklonal yang berfungsi sebagai obat yang diarahkan melawan protein pensinyalan VEGF (faktor pertumbuhan endotel pembuluh darah) dalam berbagai perawatan kanker.

Obat ini menekan tumor dengan menghambat pertumbuhan pembuluh darah yang memberi makan tumor.

Baca juga: 2,3 Juta Orang Terinfeksi, Ini Kabar Terbaru soal Pengembangan Vaksin dan Obat Covid-19

Dengan menekan VEGF, obat ini juga berpotensi mengurangi permeabilitas pembuluh darah dan dengan demikian mengurangi jumlah cairan yang masuk ke paru-paru pasien Covid-19 yang menderita ARDS.

Fluvoxamine

Fluvoxamine adalah obat anti-depresan yang biasanya digunakan untuk mengobati gangguan obsesif-kompulsif.

Penelitian sebelumnya pada hewan menemukan bahwa inhibitor serotonin-reuptake selektif ini berikatan dengan reseptor sigma-1 untuk mematikan kaskade inflamasi dari retikulum endoplasma dalam sel.

Obat ini telah diujicobakan pada banyak pasien dan sejauh ini tidak ada efek samping yang berbahaya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Mengenal Como 1907, Klub Milik Orang Indonesia yang Sukses Promosi ke Serie A Italia

Mengenal Como 1907, Klub Milik Orang Indonesia yang Sukses Promosi ke Serie A Italia

Tren
Melihat Lokasi Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang, Jalur Rawan dan Mitos Tanjakan Emen

Melihat Lokasi Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang, Jalur Rawan dan Mitos Tanjakan Emen

Tren
Remaja di Jerman Tinggal di Kereta Tiap Hari karena Lebih Murah, Rela Bayar Rp 160 Juta per Tahun

Remaja di Jerman Tinggal di Kereta Tiap Hari karena Lebih Murah, Rela Bayar Rp 160 Juta per Tahun

Tren
Ilmuwan Ungkap Migrasi Setengah Juta Penghuni 'Atlantis yang Hilang' di Lepas Pantai Australia

Ilmuwan Ungkap Migrasi Setengah Juta Penghuni "Atlantis yang Hilang" di Lepas Pantai Australia

Tren
4 Fakta Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang, Lokasi di Jalur Rawan Kecelakaan

4 Fakta Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang, Lokasi di Jalur Rawan Kecelakaan

Tren
Dilema UKT dan Uang Pangkal Kampus, Semakin Beratkan Mahasiswa, tapi Dana Pemerintah Terbatas

Dilema UKT dan Uang Pangkal Kampus, Semakin Beratkan Mahasiswa, tapi Dana Pemerintah Terbatas

Tren
Kopi atau Teh, Pilihan Minuman Pagi Bisa Menentukan Kepribadian Seseorang

Kopi atau Teh, Pilihan Minuman Pagi Bisa Menentukan Kepribadian Seseorang

Tren
8 Latihan yang Meningkatkan Keseimbangan Tubuh, Salah Satunya Berdiri dengan Jari Kaki

8 Latihan yang Meningkatkan Keseimbangan Tubuh, Salah Satunya Berdiri dengan Jari Kaki

Tren
2 Suplemen yang Memiliki Efek Samping Menaikkan Berat Badan

2 Suplemen yang Memiliki Efek Samping Menaikkan Berat Badan

Tren
BMKG: Inilah Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir 12-13 Mei 2024

BMKG: Inilah Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir 12-13 Mei 2024

Tren
[POPULER TREN] Prakiraan Cuaca BMKG 11-12 Mei | Peserta BPJS Kesehatan Bisa Berobat Hanya dengan KTP

[POPULER TREN] Prakiraan Cuaca BMKG 11-12 Mei | Peserta BPJS Kesehatan Bisa Berobat Hanya dengan KTP

Tren
Kronologi Kecelakaan Bus di Subang, 9 Orang Tewas dan Puluhan Luka-luka

Kronologi Kecelakaan Bus di Subang, 9 Orang Tewas dan Puluhan Luka-luka

Tren
Warganet Pertanyakan Mengapa Aurora Tak Muncul di Langit Indonesia, Ini Penjelasan BRIN

Warganet Pertanyakan Mengapa Aurora Tak Muncul di Langit Indonesia, Ini Penjelasan BRIN

Tren
Saya Bukan Otak

Saya Bukan Otak

Tren
Pentingnya “Me Time” untuk Kesehatan Mental dan Ciri Anda Membutuhkannya

Pentingnya “Me Time” untuk Kesehatan Mental dan Ciri Anda Membutuhkannya

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com