Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saya Bukan Otak

Kompas.com - 11/05/2024, 21:03 WIB
Jaya Suprana,
Sandro Gatra

Tim Redaksi

SEBELUM Anda lanjut membaca naskah ini, terlebih dahulu kecurigaan bahwa judul naskah ini adalah buatan saya, perlu diluruskan sebab judul naskah ini adalah terjemahan ke bahasa Indonesia sebuah buku yang ditulis oleh seorang tokoh pemikir Jerman abad XXI bernama Markus Gabriel.

Menjelang akhir dasawarsa VIII abad XX, Komite Nasional untuk Penelitian Neurologis dan Komunikasi mengusulkan upaya skala besar untuk memanfaatkan kemajuan terkini guna melakukan penelitian lebih lanjut dan pengembangan klinis dalam ilmu saraf.

Menggeser peran psikologi dan psikiatri yang bahkan sempat dianggap sebagai sekadar pseudo-science alias sains gadungan.

Usulan untuk menetapkan dasawarsa yang dimulai pada Januari 1990, sebagai "Dekade Otak", disahkan oleh Kongres Amerika Serikat dalam resolusi bersama pada 8 Maret 1989.

Proklamasi resmi “Dekade Otak” dimaklumatkan oleh Presiden Amerika Serikat George Herbert Walker Bush pada tanggal 18 Juli 1990.

Seiring-sejalan dengan laju perkembangan sains dan teknologi, semesta filsafat juga terus-menerus secara berkelanjutan berkembang seolah tak kenal batas maksimal maupun minimal sekaligus vertikal maupun horizontal bahkan sentrifugal.

Pada tahun 2015, tokoh pemikir Jerman kontemporer pelanjut generasi Juergen Habermas, Markus Gabriel menulis buku dengan judul kontroversial menantang makna kesadaran atas kehidupan “Ich ist nicht Gehirn”, yang jika dialih-bahasakan ke Indonesia kira-kira menjadi “Saya bukan otak”.

Naga-naganya kodrat peran Markus Gabriel di semesta filsafat pada hakikatnya memang seorang kelirumolog sejati.

Terbukti pada eksperimen akrobat logika secara kelirumologis terhadap judul yang seharusnya dalam tata bahasa Jerman yang benar adalah “Ich bin nicht Gehirn” sengaja dipelintir demi dikelirukan oleh Markus Gabriel menjadi “Ich ist nicht Gehirn”.

Namun nahas tak tertolak di sisi lain, judul yang sengaja dikelirukan oleh Gabriel ternyata diterjemahkan ke dalam bahasa inggris bukan keliru sebagai “I is no Gehirn”, namun malah dibenarkan ke dalam bahasa Inggris yang benar, yaitu “I am no Brain”.

(Pada hakikatnya Gabriel senasib dengan saya dalam hal membidani kelahiran kelirumologi akibat kalimat yang sengaja dikelirukan ternyata dibenarkan oleh korektor harian Kompas di dalam naskah “Pengkaprahan” Kekeliruan 16 September 1989).

Mungkin pihak penerjemah tidak menangkap makna niat judul sengaja dikelirukan oleh Markus Gabriel yang sebenarnya memang sengaja ingin menyemooh euforia pemujaan otak secara berlebih oleh para neurosaintis yang bersemangat memberhalakan otak di atas segala-galanya dalam arus gerakan mensaintiskan segala-galanya di alam semesta bukan sak madyo, namun malah eksesif alias berlebihan.

Herr Markus Gabriel konsekuen dan konsisten berjuang maju tak gentar membela hak asasi kemerdekaan berpikir serta membebaskan harkat-martabat manusia dari belenggu angkara murka pemaksaan secara sistematis, terstruktur dan masif oleh apa yang disebut sebagai “wissenschaftlich-technischen Weltbildes” alias gambaran dunia secara terbatas mekanisme saintis-teknis akademis maka steril sentuhan rasa metafisikal apalagi spiritualisme.

Menurut sang kepala departemen Epistemology Modern & Contemporary Philosophy merangkap direktur International Centre for Philosophy Universitas Bonn, Jerman tersebut, manusia memang bukan sekadar sesosok kantung zat kimia atau kotak kabel-kabel elektronik.

Manusia adalah mahluk hidup yang memiliki perasaan dan sukma yang sama sekali tidak dimiliki robot dengan kadar kecerdasan artifisial yang paling cerdas maupun paling artifisial pun.

Terkesan bahwa alur arus gerak arah pemikiran Markus Gabriel an sich tidak ingin bergabung ke dalam kemelut gerakan pemberhalaan neurosentrisme yang asyik memberhalakan saintifikasi manusia pasti tidak disukai oleh kaum pemberhala fanatisme sains fundametalis.

Meski di sisi lain sebenarnya analog secara terbalik dengan pemikiran kaum pemberhala fundamentalisme atheis yang berlawanan arah makna dengan pemikiran kaum pemberhala fanatisme agama.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com