Editor's Letter untuk Kabar Baik dari Warga Biasa di Kelapa Gading, Jakarta

Kompas.com - 20/04/2020, 11:50 WIB
Menjelajah ruang-ruang yang sempit dan memasuki kedalaman di ruang-ruang yang ada di dalam diri sendiri untuk mendapati kesejatian dimungkinkan dalam situasi pandemi. ShutterstockMenjelajah ruang-ruang yang sempit dan memasuki kedalaman di ruang-ruang yang ada di dalam diri sendiri untuk mendapati kesejatian dimungkinkan dalam situasi pandemi.

KOMPAS.com - Saya menulis surat ini di dalam ruangan yang sebulan terakhir berubah fungsi menjadi ruang kerja. Sebelumnya, ruangan ini adalah ruang kriya, tempat saya mengerjakan hal-hal di luar pekerjaan di akhir pekan seperti merancang, memotong, dan menjahit.

Selama lebih dari sebulan bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah, saya yakin, banyak juga perubahan telah kamu lakukan.

Berubah adalah cara alamiah setiap makhuk beradaptasi untuk bertahan hidup.

Ketika keinginan keluar tidak dimungkinkan karena upaya baik memutus rantai penyebaran Covid-19, maka melihat ke dalam menjadi relevan. Dalam ruang-ruang sempit yang membatasi, keluasan jelajah ke dalam masih sangat dimungkinkan.

Sebulan terakhir, pengenalan kita pada hal-hal yang dekat yang selama ini kita abaikan justru makin baik.

Kita makin mengenal lingkungan sekitar, makin mengenal sudut-sudut tempat tinggal, makin mengenal anggota keluarga, makin mengenal anak-anak atau pasangan, dan makin mengenal diri kita sendiri.

Mendapati semua ini, saya jadi teringat "kemewahan" yang dirancang mereka yang sehari-hari sibuk untuk retret atau menarik diri dari keramaian beberapa hari untuk lebih mengenali diri sendiri.

Aktivitas yang belakangan terkenal dengan mindfulness juga berpotensi menaikkan imunitas tubuh. Karena situasi pandemi yang memaksa, sebagian dari kita mendapatkan "kemewahan" mindfulness ini secara massal.

Bersiasat dengan kebosanan

Jangka waktu yang panjang dan nyaris tanpa kepastian terkait pandemi ini menjadi tantangan yang tidak mudah. Bagaimana bersiasat dengan bosan?

IlustrasiShutterstock Ilustrasi
Pertanyaan ini mewakili pertanyaan semua orang. Beruntung kita dan terutama anak-anak kita mendapati pengalaman ini: Pengalaman bosan yang panjang dalam situasi tidak pasti. Secara mental, situasi ini akan membentuk siasat yang baik untuk bekal kehidupan mendatang.

Dalam situasi apa pun, bahkan dalam situasi ideal sekali pun, kita akan menghadapi rasa bosan. Kemampaun mengelola kebosanan yang dilatihkan oleh pengalaman hidup akan menjadi kecakapan hidup yang bermanfaat.

Kecakapan atau kemampuan mengelola kebosanan yang kerap disertai kekecewaan adalah awal dari tumbuhnya benih-benih kesetiaan. Sebuah nilai yang sangat dibutuhkan dalam hidup, meskipun kerap jadi bahan tertawaan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X