Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hasil Perundingan Linggarjati dan Dampaknya

Kompas.com - 04/03/2024, 23:30 WIB
Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti,
Widya Lestari Ningsih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perundingan Linggarjati merupakan salah satu perjuangan diplomasi yang ditempuh Indonesia demi menjadi negara merdeka dan berdaulat seutuhnya.

Pasalnya, meski Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda masih berusaha menanamkan kembali kekuasaannya dan enggan untuk menyatakan pengakuannya atas kemerdekaan Indonesia.

Perundingan Linggarjati dilaksanakan di Linggarjati, Kuningan, Jawa Barat, pada 11-15 November 1946.

Lantas, apa yang dihasilkan dari Perjanjian Linggarjati?

Baca juga: Alasan Perjanjian Linggarjati Berdampak pada Lengsernya Sutan Sjahrir

Hasil Perundingan Linggarjati

Perundingan Linggarjati diadakan untuk menyelesaikan konflik antara Indonesia dan Belanda.

Indonesia, yang telah memproklamasikan kemerdekaan, mengalami hambatan dalam mendapatkan pengakuan kedaulatan karena Belanda masih menginginkan untuk menduduki Indonesia.

Oleh sebab itu, digelar Perundingan Linggarjati antara Indonesia dan Belanda, di mana Inggris bertindak sebagai penengah.

Tujuan Perjanjian Linggarjati adalah untuk memperoleh pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Belanda.

Dalam perundingan dibahas konsep kesepakatan yang telah disiapkan oleh Belanda, yang terdiri dari 17 pasal dan satu pasal penutup.

Agenda perundingan membahas pasal demi pasal, yang dipimpin secara bergantian oleh Komisi Jenderal Prof. Schermerhorn, selaku wakil Belanda, dan Perdana Menteri Indonesia, Sutan Sjahrir.

Baca juga: Perundingan Dayton: Latar Belakang, Isi, dan Tokoh

Dari perundingan yang dilakukan selama empat hari, akhirnya menghasilkan suatu keputusan perjanjian.

Berikut ini isi atau hasil dari Perundingan Linggarjati.

  • Belanda secara de facto mengakui Republik Indonesia yang meliputi wilayah Sumatera, Jawa, dan Madura. Belanda harus meninggalkan wilayah tersebut paling lambat pada tanggal 1 Januari 1949.
  • Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk negara Indonesia serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu bagiannya adalah Republik Indonesia.
  • Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai kepala negara.

Dampak Perjanjian Linggarjati

Isi Perjanjian Linggarjati memberikan dampak positif sekaligus negatif bagi Indonesia.

Banyak kalangan menganggap perundingan dan hasil Perjanjian Linggarjati merugikan Indonesia.

Baca juga: Perjanjian Oslo, Upaya Damai Israel dan Palestina yang Kandas

Beberapa dampak negatif Perjanjian Linggarjati di antaranya:

  • Wilayah kekuasaan Indonesia yang diakui dalam perjanjian sangat kecil dan terbatas, dengan hanya meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura, secara de facto. Hal ini dianggap tidak mencerminkan kedaulatan yang sesungguhnya bagi Indonesia.
  • Indonesia diharuskan bergabung menjadi negara persemakmuran di bawah Kerajaan Belanda, dengan Ratu Belanda sebagai kepala negara. Ini dianggap sebagai pengakuan terhadap dominasi Belanda atas Indonesia.
  • Perjanjian Linggarjati memberikan waktu bagi Belanda untuk menambah kekuatan militer mereka di Indonesia, yang bisa digunakan untuk melanggar ketentuan perjanjian tersebut.
  • Pelanggaran terhadap Perjanjian Linggarjati oleh Belanda merupakan salah satu contohnya, yang menambah ketidakpuasan terhadap hasil kesepakatan ini di kalangan masyarakat Indonesia.

Baca juga: Dampak Perundingan Hooge-Veluwe

Di samping kerugiannya, tidak dapat dimungkiri bahwa Perjanjian Linggarjati juga memberikan dampak positif, yaitu:

  • Mendapat pengakuan Belanda atas wilayah Jawa, Madura, dan Sumatera sebagai bangsa yang berdaulat.
  • Republik Indonesia mendapat pengakuan secara de facto dari negara-negara lain.
  • Meredam konflik Indonesia-Belanda yang memakan banyak korban.

 

Referensi:

  • Sari, D I, I Syah, dan Basri, M. (2014). Tinjauan Historis Implementasi Isi Perjanjian Linggarjati Indonesia dan Belanda Tahun 1946-1947. PESAGI (Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah), 2 (4).
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Abu Dujanah, Sahabat yang Membuat Nabi Muhammad Menangis

Abu Dujanah, Sahabat yang Membuat Nabi Muhammad Menangis

Stori
6 Peninggalan Kerajaan Ternate

6 Peninggalan Kerajaan Ternate

Stori
Alasan Umar bin Abdul Aziz Memerintahkan Pembukuan Hadis

Alasan Umar bin Abdul Aziz Memerintahkan Pembukuan Hadis

Stori
Pablo Picasso, Pelopor Karya Seni Rupa Kubisme

Pablo Picasso, Pelopor Karya Seni Rupa Kubisme

Stori
Perbedaan Presiden dan Pemimpin Tertinggi Iran

Perbedaan Presiden dan Pemimpin Tertinggi Iran

Stori
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional

Stori
4 Pahlawan Perempuan dari Jawa Tengah

4 Pahlawan Perempuan dari Jawa Tengah

Stori
Biografi Sitor Situmorang, Sastrawan Angkatan 45

Biografi Sitor Situmorang, Sastrawan Angkatan 45

Stori
Peran Sunan Ampel dalam Mengembangkan Islam di Indonesia

Peran Sunan Ampel dalam Mengembangkan Islam di Indonesia

Stori
Sejarah Pura Pucak Mangu di Kabupaten Badung

Sejarah Pura Pucak Mangu di Kabupaten Badung

Stori
Sejarah Penemuan Angka Romawi

Sejarah Penemuan Angka Romawi

Stori
7 Organisasi Persyarikatan Muhammadiyah

7 Organisasi Persyarikatan Muhammadiyah

Stori
Natipij, Organisasi Kepanduan Islam Era Hindia Belanda

Natipij, Organisasi Kepanduan Islam Era Hindia Belanda

Stori
7 Situs Sejarah di Kabupaten Kediri

7 Situs Sejarah di Kabupaten Kediri

Stori
Sejarah Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Sejarah Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com