Kompas.com - 17/01/2022, 19:02 WIB
Pasien COVID-19 berada di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pemerintah menerapkan situasi tanggap darurat untuk mencegah penyebaran COVID-19 varian Omicron salah satunya dengan menggencarkan Whole Genome Sequencing (WGS) untuk mendeteksi Omicron. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/rwa. ANTARA FOTO/Indrianto Eko SuwarsoPasien COVID-19 berada di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pemerintah menerapkan situasi tanggap darurat untuk mencegah penyebaran COVID-19 varian Omicron salah satunya dengan menggencarkan Whole Genome Sequencing (WGS) untuk mendeteksi Omicron. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/rwa.


KOMPAS.com - Penelitian yang dilakukan melalui data kasus Covid-19 di Amerika Serikat tahun 2021 lalu menunjukkan, bahwa penyakit ini memiliki siklus yang berlangsung selama dua bulan. Terutama pada varian Delta.

Seperti diberitakan Kompas.com, Rabu (6/10/2021), kasus Covid-19 dari awal pandemi tampaknya mengikuti satu pola di mana jumlahnya akan naik sekitar dua bulan, dan menurun selama dua bulan juga.

Pola ini terlihat pada varian Delta yang sebelumnya mendominasi di berbagai negara seperti Inggris, Thailand, Perancis, Spanyol dan Indonesia.

Lantas, apakah varian Omicron memiliki siklus Covid-19?

Baca juga: Benarkah Covid-19 Punya Siklus yang Berlangsung 2 Bulanan?

 

Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman menjelaskan, bahwa sebenarnya siklus Covid-19 yang berlangsung sekitar dua bulan ini bukan hanya terkait dengan varian virus.

Namun, erat kaitannya dengan penyakit Covid-19 itu sendiri.

"Siklus ini menunjukkan bahwa Covid-19 akan menjadi penyakit epidemi, artinya kita akan melihat bahwa penyakit ini akan menyebar, bersirkulasi di kelompok baik yang belum divaksinasi atau pada kelompok yang sudah divaksinasi," papar Dicky kepada Kompas.com, Senin (17/1/2022).

Di sisi lain, banyak penyakit serupa, tak hanya Covid-19 yang telah menjadi wabah termasuk pandemi dan memiliki siklus penyakit yang sama. Misalnya, penyakit campak yang masih menjadi epidemi di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Baca juga: Omicron Meluas, Covid-19 Dunia Capai Lebih 300 Juta Kasus

Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.