Kompas.com - 07/03/2021, 19:30 WIB
Ilustrasi virus corona (Covid-19) KOMPAS.com/NURWAHIDAHIlustrasi virus corona (Covid-19)

KOMPAS.com - Meski SARS dan Covid-19 disebabkan oleh virus corona yang hampir serupa, SARS-CoV-2 menyebabkan ratusan juta orang di dunia jatuh sakit.

Kini sebuah studi baru menunjukkan satu alasan mengapa SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19, jauh lebih mudah menular daripada SARS-CoV-1, yang menyebabkan SARS.

Para peneliti studi berfokus pada protein lonjakan, struktur yang memungkinkan virus corona untuk mengikat dan memasuki sel manusia.

Baca juga: 2010, Virus Mirip SARS-CoV-2 Penyebab Covid-19 Sudah Ada di Kamboja

Sebelum saling berikatan, protein lonjakan berubah dari keadaan "tidak aktif" menjadi "aktif".

Melansir Live Science, simulasi molekuler dari kedua virus corona ini menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat lebih mudah bertahan dalam keadaan aktif dan mempertahankan posisi ini, sementara SARS-CoV-1 dengan cepat berganti-ganti antara dua kondisi, yang memberikan lebih sedikit waktu untuk mengikat ke sel.

"Kami menemukan dalam simulasi ini, SARS-CoV-1 dan SARS-CoV-2 memiliki cara yang sama sekali berbeda untuk mengubah bentuknya, dan pada skala waktu yang berbeda," kata penulis senior studi Mahmoud Moradi, asisten profesor kimia fisik dan biokimia di Universitas Arkansas, dalam sebuah pernyataan.

"SARS-CoV-1 bergerak lebih cepat, aktif dan nonaktif, yang tidak memberinya banyak waktu untuk menempel pada sel manusia, karena tidak stabil. Sedangkan SARS-CoV-2, di sisi lain, lebih stabil dan selalu siap menyerang," jelas Moradi.

Pada tahun sejak munculnya SARS-CoV-2, virus ini telah menginfeksi lebih dari 117 juta orang di seluruh dunia dan masih terus menyebar.

Sebaliknya, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), SARS menyebabkan lebih dari 8.000 penyakit selama wabah pada tahun 2003, tetapi dapat segera diatasi sebelum menyebar lebih jauh, dengan kasus terakhir dilaporkan pada tahun 2004.

Sementara banyak penelitian berfokus pada pengikatan protein lonjakan ke sel manusia, relatif sedikit yang melihat transisi protein lonjakan antara keadaan aktif dan tidak aktif.

“Berdasarkan hasil studi baru, kami berhipotesis bahwa kecenderungan protein lonjakan SARS-CoV-2 yang lebih besar untuk tetap dalam kondisi aktif berkontribusi pada penularan SARS-CoV-2 yang lebih tinggi dibandingkan dengan SARS-CoV-1," tulis para peneliti dalam makalah mereka.

Baca juga: 5 Hal yang Membuat Virus Corona SARS-CoV-2 Sangat Mematikan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X