Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jadi Syarat Perjalanan, Ini Kelebihan dan Kekurangan Rapid Test Antigen

Kompas.com - 20/12/2020, 14:11 WIB
Bestari Kumala Dewi

Penulis


KOMPAS.com - Belakangan rapid test antigen menjadi topik ramai dibicarakan. Pasalnya, mulai 18 Desember 2020, pemerintah telah menetapkan rapid test antigen menjadi syarat melakukan perjalanan ke luar kota.

Aturan tersebut diberlakukan untuk mengantisipasi lonjakan kasus baru Covid-19 selama masa libur Natal dan Tahun Baru.

Melihat harga rapid test antigen lebih mahal dari rapid test antibodi, apakah rapid test antigen lebih bagus dan lebih akurat?

Dijelaskan dokter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Bekasi Timur, dr. Muhammad Irhamsyah, Sp.PK, M.Kes, rapid test antigen atau swab antigen dilakukan pada tubuh pasien dengan cara pengambilan melalui swab (usapan) orofaring dan nasofaring, yang harus dilakukan oleh petugas yang kompeten.

Baca juga: 6 Daerah yang Terapkan Wajib Dokumen Rapid Test Antigen, Mana Saja?

“Jika pada tubuh pasien terdapat antigen spesifik SARS-COV-2, maka antigen tersebut akan berikatan secara spesifik dengan antibodi yang tersedia di alat rapid, sehingga akan memunculkan warna pada garis tes (T) di alat rapid,” katanya melalui siaran pers yang diterima Kompas.com.

Pengerjaan tes ini sederhana dan cepat, hanya sekitar 15 – 30 menit.

Lebih lanjut dr. Irhamsyah mengatakan, kelebihan rapid test antigen atau swab antigen ini, antara lain mampu mendeteksi komponen virus corona secara langsung untuk deteksi dini.

“Tes ini tidak membutuhkan masa inkubasi terjadinya ikatan antigen antibodi untuk timbul hasil positif, tidak memerlukan alat pemeriksaan laboratorium khusus, serta tidak memerlukan keterampilan petugas secara khusus dalam pengerjaan rapid test antigen,”ungkapnya.

Meski demikian, rapid test antigen/ swab antigen ini juga memiliki kelemahan. Dr. Irhamsyah menyebut, setidaknya ada 3 kelemahan rapid swab antigen:

1. Berpotensi terjadi false negative dari hasil rapid test antigen. Karena hanya dapat mendeteksi dini. Sehingga, bisa jadi saat dikonfirmasi dengan tes PCR hasilnya positif.

2. Menggunakan sampel saluran napas atas (swab nasofaring/ orofaring), sehingga ketidakterampilan petugas dalam pengambilan specimen dapat memngaruhi hasil.

Baca juga: Epidemiolog Nilai Syarat Rapid Test Antigen Lebih Baik, tapi...

3. Membutuhkan APD level 3 untuk pengambilan specimen.

4. Terdapat perbedaan sensitivitas alat swab antigen, sehingga pemilihan alat harus dilakukan dengan tepat.

“Tingkat akurasi alat tes rapid swab antigen bervariasi dari masing-masing brand. Tingkat sensitivitas alat swab antigen adalah >80% dan spesifisitas alat swab antigen adalah >97%,” jelasnya.

5. Uji validari hasil swab masih terbatas, sehingga belum dapat menggantikan posisi rapid test PCR.

Menurut dr. Irhamsyah, program rapid test antigen atau rapid swab antigen yang diberlakukan pemerintah untuk perjalanan ke luar kota tidak 100% efektif, karena dari segi akurasi alat masih rendah jika dibandingkan dengan tes material genetik SARS CoV-2 (PCR).

Baca juga: Bagaimana Akurasi Rapid Test Antigen Dibanding Tes Covid-19 Lainnya?

Ilustrasi virus coronaSHUTTERSTOCK Ilustrasi virus corona

Sebelumnya dalam dunia pelayanan medis, penggunaan rapid test antigen direkomendasikan untuk wilayah-wilayah dengan ketersediaan alat tes PCR yang terbatas dan sulit ditemui.

Rapid test antigen atau swab antigen juga digunakan untuk memantau tren insidensi penyakit di masyarakat, terutama pada pekerja esensial dan tenaga kesehatan selama wabah atau di daerah dengan transmisi komunitas meluas.

Selain itu, rapid test antigen juga dapat digunakan untuk mendeteksi dan isolasi dini kasus positif di pelayanan kesehatan, serta untuk tracing kontak pasien yang terkonfirmasi positif.

Dr. Irhamsyah mengingatkan, meski didapatkan hasil negatif pada rapid test antigen, hal tersebut tidak dapat menyingkirkan kemungkinan terinfeksi SARS- CoV-2, karena hasil tersebut hanya mencerminkan kondisi pada saat itu. Sehingga, seseorang masih berisiko menularkan ke orang lain.

“Hasil negatif pada swab antigen dapat terjadi, jika kuantitas (jumlah) antigen pada spesimen di bawah kemampuan level deteksi alat tersebut,” ujarnya.

Maka dari itu, ia menekankan untuk melakukan tes ulang atau tes konfirmasi dengan PCR tes, karena probabilitas terinfeksi relatif tinggi, terutama bila pasien bergejala atau diketahui memiliki kontak dengan orang yang terkonfirmasi Covid-19.

Baca juga: FDA Peringatkan, Hasil Tes Antigen Covid-19 Bisa Positif Palsu

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com