Bulu Beracun Mematikan, Tikus Jambul Afrika Ini bisa Bunuh Manusia

Kompas.com - 29/11/2020, 10:00 WIB
Tikus Jambul Afrika (Lophiomys imhausi). Bulunya mengandung racun yang berasal dari makanan yang mereka kunyah, lalu bercampur dengan air liur. Setelah makan, tikus akan menjilati bulunya dan membuat dirinya beracun bagi predator. Stephanie Higgins/LIVESCIENCETikus Jambul Afrika (Lophiomys imhausi). Bulunya mengandung racun yang berasal dari makanan yang mereka kunyah, lalu bercampur dengan air liur. Setelah makan, tikus akan menjilati bulunya dan membuat dirinya beracun bagi predator.


KOMPAS.com- Jangan terkecoh dengan penampilan tikus ini. Di balik fisiknya yang diselimuti bulu halus, serta muka yang cukup menggemaskan, Tikus Jambul Afrika (Lophiomys imhausi) ternyata memiliki bulu mengandung racun yang sangat mematikan.

Saking kuatnya, beberapa miligram saja cukup untuk membunuh manusia. Uniknya, tikus itu tidak menghasilkan racun itu sendiri.

Studi baru yang dipublikasikan di Journal of Mammalogy ini menunjukkan jika tikus mendapatkan racun saat mereka mengunyah kulit kayu dari pohon panah beracun (Acokanthera schimperi).

Hal ini membuat tikus jambul menjadi satu-satunya mamalia yang mendapatkan racunnya langsung dari tumbuhan.

Baca juga: Lemming, Tikus Lucu Penghuni Arktik yang Jadi Bukti Perubahan Iklim

 

Seperti dikutip dari Live Science, Sabtu (28/11/2020) kulit kayu yang dikunyah tikus ini akan bercampur dengan air liur, tikus kemudian akan menjilati tubuhnya. Racun pun akan berpindah ke bulu-bulu mereka.

Kulit kayu yang dikunyah tikus jambul Afrika tersebut mengandung cardenolida yang sangat beracun bagi kebanyakan mamalia.

Cardenolida dalam dosis kecil bisa digunakan dalam pengobatan jantung, seperti misalnya untuk memperbaiki aritmia.

Baca juga: Rekayasa Organ Hati Manusia Berhasil Ditransplantasikan ke Tikus, Kok Bisa?

 

Namun dalam jumlah yang tinggi, senyawa tersebut dapat menyebabkan muntah, kejang, kesulitan bernapas, dan serangan jantung. Tak heran jika melakukan kontak dengan tikus jambul ini dapat berakibat fatal.

Dalam studi baru ini, peneliti menangkap 25 tikus dan menempatkannya di penangkaran. Peneliti memasang kamera di kandang dan menganalisis perilaku tikus beracun ini selama hampir 1000 jam.

Menariknya, meski sangat beracun bagi hewan lain, peneliti menemukan saat tikus mengunyah kulit kayu, mereka tidak terpengaruh dengan racunnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Waspada Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Jabodetabek, Ini Daftar Wilayahnya

Waspada Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Jabodetabek, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Mengapa Hujan Seharian Bisa Menyebabkan Bencana Banjir?

Mengapa Hujan Seharian Bisa Menyebabkan Bencana Banjir?

Fenomena
Tidur Tengkurap Membuat Pasien Covid-19 Terhindar dari Ventilator, Kok Bisa?

Tidur Tengkurap Membuat Pasien Covid-19 Terhindar dari Ventilator, Kok Bisa?

Oh Begitu
Gempa Hari Ini: M 5, 1 Guncang Pandeglang Terasa hingga Malingping

Gempa Hari Ini: M 5, 1 Guncang Pandeglang Terasa hingga Malingping

Fenomena
Terlalu Banyak Makan Makanan Manis Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan, Kok Bisa?

Terlalu Banyak Makan Makanan Manis Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan, Kok Bisa?

Oh Begitu
Ahli Sebut 140.000 Virus Baru Ditemukan di Usus Manusia

Ahli Sebut 140.000 Virus Baru Ditemukan di Usus Manusia

Oh Begitu
Kamasutra Satwa: Hewan Bonobo Lakukan Hubungan Sesama Jenis

Kamasutra Satwa: Hewan Bonobo Lakukan Hubungan Sesama Jenis

Oh Begitu
3 Misteri Alam Semesta Berpotensi dapat Nobel Prize, Jika Terpecahkan

3 Misteri Alam Semesta Berpotensi dapat Nobel Prize, Jika Terpecahkan

Fenomena
Di Bawah Sinar UV, Bulu Hewan Ini Menyala Seperti Lampu Disko

Di Bawah Sinar UV, Bulu Hewan Ini Menyala Seperti Lampu Disko

Oh Begitu
Viral Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Peneliti Sebut karena Kelainan Genetis

Viral Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Peneliti Sebut karena Kelainan Genetis

Oh Begitu
Siapa yang Boleh Donor Terapi Plasma Konvalesen? Ini Syarat Lengkapnya

Siapa yang Boleh Donor Terapi Plasma Konvalesen? Ini Syarat Lengkapnya

Kita
Sekali Suntik, Vaksin Johnson & Johnson Efektif Kurangi Risiko Covid-19

Sekali Suntik, Vaksin Johnson & Johnson Efektif Kurangi Risiko Covid-19

Fenomena
Jangan Minum Obat Pereda Nyeri Sebelum Divaksin Covid-19, Begini Penjelasan Ahli

Jangan Minum Obat Pereda Nyeri Sebelum Divaksin Covid-19, Begini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Tingkat Imun Bisa Prediksikan Risiko Infeksi Covid-19 Gejala Berat

Tingkat Imun Bisa Prediksikan Risiko Infeksi Covid-19 Gejala Berat

Oh Begitu
Penemuan Kebetulan Microwave, Alat Masak Canggih di Akhir Perang Dunia

Penemuan Kebetulan Microwave, Alat Masak Canggih di Akhir Perang Dunia

Oh Begitu
komentar
Close Ads X