Selain Sebabkan Kematian, Waspadai 4 Dampak Buruk Polusi Udara

Kompas.com - 23/10/2020, 12:30 WIB
Ilustrasi polusi ShutterstockIlustrasi polusi

KOMPAS.com - Laporan terbaru mencatat sebanyak 6,7 juta kematian di dunia terkait dengan polusi udara.

Sebuah studi global menemukan, pencemaran udara menjadi risiko kematian ke-4 tertinggi di seluruh dunia.

Hal itu disebutkan dalam laporan terbaru State of Global Air 2020 (SoGA 2020) oleh Health Effects Institute bekerja sama dengan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME2) di University of Washington, dan University of British Columbia.

Presiden Health Effects Institute (HEI), Dan Greenbaum dalam keterangan tertulisnya menyebutkan, polusi udara sekarang ini menjadi penyebab kematian dini ke-4 di antara semua risiko kesehatan, dan peringkat ini tepat di bawah kematian akibat merokok dan pola makan yang buruk. Demikian menurut laporan tahunan State of Global Air (SoGA) 2020.

Baca juga: Polusi Udara Rumah Tangga Penyebab Kematian Dini pada Bayi, Kok Bisa?

Secara keseluruhan, paparan polusi udara luar ruang dan rumah tangga dalam jangka panjang juga berkontribusi terhadap lebih dari 6,7 juta kematian tahunan akibat stroke, serangan jantung, diabetes, kanker paru-paru, penyakit paru-paru kronis, dan penyakit neonatal di seluruh dunia sepanjang tahun 2019.

Selain itu, berikut empat dampak polusi udara pada kesehatan yang harus diwaspadai:

1. Memperburuk epidemi penyakit tidak menular

Menurut vital strategies Dr Sumi Mehtan, tren polusi udara jelas terus meningkat di daerah-daerah yang mengalami urbanisasi dengan cepat , seperti di Asia dan Afrika Sub-Sahara.

"Itu akan semakin memperburuk epidemi penyakit tidak menular, termasuk penyakit pernapasan kronis dan penyakit kardiovaskular," kata Mehta.

Namun, di sisi lain, ia menyebutkan ada kabar baik, yaitu kita mengetahui bagaimana menangani semua sumber utama polusi.

"Data ini (SoGA) dengan jelas menunjukkan, bahwa kita memiliki kewajiban kesehatan masyarakat untuk segera menerapkan solusi udara bersih," ujarnya.

2. Berkontribusi terhadap penyakit kronis

Peneliti yang tergabung dalam pelaporan SoGA, yaitu Dr Katherine Walker dari HEI mengatakan, bahwa polusi udara telah dipelajari menjadi risiko lingkungan lainnya di dunia.

Penelitian ilmiah yang cermat selama puluhan tahun kini mendasari kesimpulan kuat tentang kontribusi utama polusi udara terhadap penyakit kronis dan kematian.

Namun sebenarnya, kata dia, itu adalah masalah yang kita tahu bagaimana cara menyelesaikannya.

"Sudah lama waktu yang kita buang dalam menunggu untuk kerjasama dan melakukan tindakan global yang lebih besar untuk masalah kesehatan masyarakat yang utama ini," ucap dia.

Ia menambahkan, seiring dengan rencana negara untuk pemulihan pasca Covid-19, penting agar polusi udara dianggap sebagai salah satu pilar utama dalam pembuatan kebijakan.

Baca juga: Polusi Udara Terbukti Sebabkan Gangguan Otak pada Anak dan Dewasa Muda

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X