Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 23/10/2020, 07:00 WIB
Ellyvon Pranita,
Gloria Setyvani Putri

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah analisis komprehensif pertama tentang dampak polusi udara global menemukan bahwa materi partikulat dari polusi di luar ruangan dan rumah tangga berkontribusi pada kematian hampir 500.000 bayi di bulan pertama kehidupan mereka.

Hal itu disebutkan dalam laporan terbaru State of Global Air 2020 (SoGA 2020) oleh Health Effects Institute bekerja sama dengan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME2) di University of Washington, dan University of British Columbia.

Presiden Health Effects Institute (HEI), Dan Greenbaum dalam keterangan tertulisnya menyebutkan bahwa secara keseluruhan, polusi udara saat ini menjadi penyebab kematian dini keempat di antara semua risiko kesehatan. 

Peringkat ini tepat di bawah kematian akibat merokok dan pola makan yang buruk, menurut laporan tahunan State of Global Air (SoGA) 2020.

Baca juga: Polusi Udara Rumah Tangga Penyebab Kematian Dini pada Bayi, Kok Bisa?

“Kesehatan bayi sangat penting bagi masa depan setiap masyarakat, dan bukti terbaru ini menunjukkan risiko yang sangat tinggi untuk bayi yang lahir di Asia Selatan dan sub-Sahara Afrika,” kata Greenbaum.

Bagaimana mekanisme polusi udara menyebabkan kematian pada bayi?

Para peneliti mengingatkan bahwa bulan pertama kehidupan bayi adalah masa rentan. Sementara itu, 1.000 hari pertama kelahiran merupakan masa emas untuk mengoptimalkan organ tubuh bayi.

"Beberapa penelitian yang dilakukan dengan baik untuk polusi udara di dalam dan di luar ruangan menunjukkan bahwa polusi udara secara konsisten meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah," kata Dr Beate Ritz dari University of California.

Pernyataan ini telah banyak bukti ilmiahnya dari berbagai negara yang menunjukkan bahwa paparan partikulat polusi udara selama kehamilan akan berdampak pada berat lahir yang rendah dan kelahiran prematur.

Nah, untuk bayi dengan usia muda, sebagian besar kematian terjadi karena komplikasi akibat  berat badan lahir yang rendah dan kelahiran prematur itu.

Alhasil, dua kondisi tersebut juga dipastikan memicu komplikasi serius, yang kemudian tercatat menyebabkan sebagian besar kematian pada periode neonatal mencapai 1,8 juga pada tahun 2019.

Analsisis terbaru SoGA tahun ini memperkirakan bahwa sekitar 20 persen kematian bayi dalam periode tersebut disebabkan oleh polusi udara ambien dan rumah tangga.

Ilustrasi bayi prematurShutterstock Ilustrasi bayi prematur

Dalam laporan terbaru itu juga terungkap bahwa hampir dua pertiga dari kematian ratusan ribu bayi tersebut terkait dengan penggunaan bahan bakar padat seperti arang, kayu, dan kotoran hewan untuk memasak.

Menurut laporan ini, meski terjadi penurunan sebesar 11 persen selama dekade terakhir, 49 persen populasi dunia yaitu sekitar 3,8 miliar orang dipastikan masih terpapar polusi udara rumah tangga akibat memasak pada tahun 2019. 

Kebanyakan dari mereka adalah penduduk yang tinggal di 17 negara. Paparan udara kotor tersebut terkait erat dengan tingkat perkembangan sosio demografi dan ekonomi negara.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com