Kenapa Batan Utamakan Produksi Radioisotop dari Radioaktif untuk Kesehatan?

Kompas.com - 23/10/2020, 10:02 WIB
Proses pembuatan Tc-99m, di Laboratorium Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Batan. DOK. BatanProses pembuatan Tc-99m, di Laboratorium Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Batan.


KOMPAS.com- Badan Tenaga Nuklir Nasional ( Batan) melalui Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) mengembangkan produksi radioisotop dan radiofarmaka untuk kesehatan.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Batan, Anhar Riza Antariksawan pada jumpa pers di Kawasan Nuklir Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (20/10/2020).

Untuk diketahui, radioisotop adalah pemanfaatan zat radioaktif atau energi nuklir yang berlebihan dan tidak stabil dari suatu isotop. 

Pancaran radiasi ini kemudian memiliki efek ionisasi dan dimanfaatkan dalam keilmuan kedokteran untuk berbagai keperluan tindakan medis. 

Baca juga: Kontaminasi Radioaktif di Serpong, Bagaimana Level Bahayanya?

 

Sementara, radiofarmaka adalah obat yang digunakan untuk melakukan diagnosis maupun terapi, dan mengandung radioisotop.

Lantas, untuk apa produksi radioisotop dan radiofarmaka bagi kesehatan ini?

Sebagai informasi, pengembangan produksi radioisotop dan radiofarmaka ini Batan bekerjasama dengan PT Kimia Farma, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan POM, Bapeten dan Universitas Padjajaran.

Produksi radioisotop dan radiofarmaka untuk kesehatan ini karena beberapa tujuan sebagai berikut.

Baca juga: Sisa Radioaktif Bom Nuklir Ditemukan di Palung Terdalam Lautan

 

1. Mengurangi produk impor 

Anhar menjelaskan, pengembangan produksi radioisotop dan radiofarmaka ini merupakan salah satu kegiatan dari penugasan Batan sebagai koordinator prioritas riset nasional (PRN) selama 2020-2024 oleh pemerintah.

Pengembangan itu dilakukan karena kebutuhan dalam negeri terhadap radioisotop dan radiofarmaka ini terus meningkat seiring dengan berkembangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir di berbagai bidang, khususnya di bidang kesehatan.

"Selama ini pasokan radioisotop dan radiofarmaka di dalam negeri dipenuhi oleh produk impor yang mencapai hingga di atas 90 persen," kata Anhar.

Hal ini sangat disayangkan karena sebenarnya Indonesia mempunyai reaktor riset yang dapat digunakan untuk memproduksi radioisotop dan radiofarmaka.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X