Bakteri dan Virus Penyebab Sakit Manusia, Apa Beda Keduanya?

Kompas.com - 30/06/2020, 10:03 WIB
Ilustrasi 3D virus corona yang menyebabkan Covid-19 SHUTTERSTOCK/CORONA BOREALIS STUDIOIlustrasi 3D virus corona yang menyebabkan Covid-19

KOMPAS.com - Bakteri dan virus adalah penyebab paling umum pada sakit manusia. Keduanya merupakan mikroba yang dengan mudah menyebar dan berkontak dengan manusia.

Ketika menyentuh permukaan benda, berjabat tangan, terkena bersin seseorang, kita sangat mungkin bersentuhan dengan bakteri dan virus.

Kemudian virus dan bakteri akan masuk ke tubuh saat kita menyentuh hidung, mulut, dan mata dengan tangan yang terkontaminasi.

Bakteri dan virus tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, ukurannya sangat kecil. Namun keduanya memiliki kemampuan untuk menyebabkan infeksi yang serius pada manusia.

Bakteri dan virus memang terkesan sama, tapi kedua mikroba tersebut sebenarnya berbeda. Berikut perbedaan keduanya seperti dilansir dari The Insider, Senin (29/6/2020).

Baca juga: Bakteri Listeria di Jamur Enoki, Ini 6 Anjuran Badan Ketahanan Pangan

Perbedaan Biologis

Bakteri adalah organisme bersel tunggal yang hidup di sekitar kita, termasuk di dalam usus. Sebagian besar bakteri tidak berbahaya, bahkan beberapa bersifat melindungi.

Meski begitu, tetap ada terdapat bakteri yang bisa berbahaya dan menyebabkan penyakit pada manusia

Sementara itu virus bersifat parasit, yang berarti mereka membutuhkan inang hidup untuk bertahan hidup. Virus menginfeksi sel-sel makhluk hidup, termasuk manusia. 

Bakteri Biasanya Tidak Berbahaya, Tapi Virus Berbahaya

Bakteri adalah organisme hidup. Mereka bereproduksi dengan membelah dua, dan beberapa dapat menggandakan jumlahnya setiap 20 menit.

Itu sebabnya, walaupun kecil, bakteri dapat berdampak besar bagi kesehatan kita.

Manusia memiliki triliunan bakteri di dalam tubuh. Kebanyakan dari bakteri menjaga kita tetap sehat dengan mendukung fungsi tubuh, seperti dalam sistem pencernaan.

Baca juga: Bukti Awal Tunjukkan, Virus Corona Ada di Spanyol Sejak Maret 2019

Namun sekitar 1 persen bakteri dapat menyebabkan penyakit. Seperti bakteri Staphylococcus aureus yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas.

Staphylococcus aureus, bakteri yang resisten terhadap antibiotik Methicillin (MRSA) Staphylococcus aureus, bakteri yang resisten terhadap antibiotik Methicillin (MRSA)

Bakteri Klebsiella pneumonia dan Streptococcus pneumoniae, yang dapat menyebabkan pneumonia. Serta E. coli dan Salmonella, ditemukan dalam daging yang kurang matang, dan dapat menyebabkan keracunan makanan.

Di sisi lain, virus tidak dianggap sebagai organisme hidup, karena mereka membutuhkan sel inang untuk bereproduksi. Mirip dengan bakteri, virus menyebar ketika mereka bersentuhan dengan inang.

Setelah manusia terinfeksi, virus itu langsung menyerang sel-sel sehat dalam tubuh, mereproduksi diri mereka dan menyebar ke seluruh tubuh.

Kendati demikian, tubuh memiliki sistem kekebalan yang berusaha menyerang sebagian besar virus berbahaya sebelum dapat berdampak.

Infeksi karena bakteri biasanya terbatas pada satu area tubuh, seperti infeksi telinga atau radang tenggorokan. Sedangkan infeksi virus cenderung menyebar lebih mudah dan mempengaruhi seluruh tubuh.

Ilustrasi rhinovirus, virus penyebab pilek yang paling sering menginfeksi manusia.SHUTTERSTOCK/KATERYNA KON Ilustrasi rhinovirus, virus penyebab pilek yang paling sering menginfeksi manusia.

Salah satu infeksi virus yang paling sering muncul adalah pilek, disebabkan oleh rhinovirus. Gejalanya berpusat di sekitar kepala, dada dan termasuk sakit tenggorokan, bersin, serta batuk.

Lalu flu yang disebabkan oleh virus influenza, gejalanya meliputi demam, batuk, dan nyeri.
Serta Covid-19 yang disebabkan virus SARS-CoV-2, dengan gejala demam, batuk, dan sesak napas.

Cara Mencegah Penyebaran Bakteri dan Virus

Terlepas dari perbedaan keduanya, bakteri dan virus sama-sama rentan terhadap sabun dan pembersih tangan.

Sabun dan air adalah pertahanan lini pertama. Tapi jika kamu tidak memiliki akses ke sabun dan air, gunakan pembersih tangan yang mengandung alkohol setidaknya 60 persen.

Penelitian telah membuktikan, bahwa mencuci tangan dengan tepat akan mengurangi jumlah bakteri dan virus karena dapat membunuh dan menghilangkan keduanya dari kulit.

Cuci tangan yang baik adalah menggunakan sabun selama 20 detik dan membislasnya di air mengalir. Sering-seirnglah cuci tangan setelah menyentuh permukaan benda, seperti ATM, tombol lift, dan pegangan tangga.

Baca juga: Ini Hasil Investigasi Kementan Terkait Bakteri Listeria di Jamur Enoki Korea Selatan

Setelah mencuci tangan, protokol kesehatan lainnya juga penting, seperti menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin. Karena tetesan cairan (droplet) yang keluar bisa mengandung virus dan bakteri.

Jika sedang sakit, tinggalah di rumah dan jauhi orang lain untuk menghindari potensi penularan virus atau bakteri. Selain itu, penting untuk tidak sering-sering menyentuh wajah.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksin AstraZeneca Tiba di Indonesia, BPOM Terbitkan Izin Penggunaan Darurat

Vaksin AstraZeneca Tiba di Indonesia, BPOM Terbitkan Izin Penggunaan Darurat

Fenomena
Serba-serbi Hewan: Bisakah Hewan Melahirkan Anak Kembar?

Serba-serbi Hewan: Bisakah Hewan Melahirkan Anak Kembar?

Oh Begitu
80 Persen Vaksin AstraZeneca dan Pfizer Efektif Cegah Covid-19 Parah

80 Persen Vaksin AstraZeneca dan Pfizer Efektif Cegah Covid-19 Parah

Oh Begitu
Serangga Ini Pura-pura Mati Hingga 1 Jam, Untuk Apa?

Serangga Ini Pura-pura Mati Hingga 1 Jam, Untuk Apa?

Fenomena
Vaksin AstraZeneca Terbuat dari Adenovirus Simpanse, Apa Itu?

Vaksin AstraZeneca Terbuat dari Adenovirus Simpanse, Apa Itu?

Oh Begitu
Untuk Pertama Kali, Astronom Temukan Aktivitas Tektonik di Eksoplanet

Untuk Pertama Kali, Astronom Temukan Aktivitas Tektonik di Eksoplanet

Oh Begitu
Foto Viral Kuda Nil Taman Safari Diberi Makan Botol Plastik, Ahli: Bisa Sebabkan Kematian

Foto Viral Kuda Nil Taman Safari Diberi Makan Botol Plastik, Ahli: Bisa Sebabkan Kematian

Oh Begitu
Nikmati Selagi Bisa, Tingkat Oksigen di Bumi Turun Drastis 1 Miliar Tahun Lagi

Nikmati Selagi Bisa, Tingkat Oksigen di Bumi Turun Drastis 1 Miliar Tahun Lagi

Oh Begitu
Baru Tiba di Indonesia, Ini 6 Perbedaan Vaksin AstraZeneca Vs Sinovac

Baru Tiba di Indonesia, Ini 6 Perbedaan Vaksin AstraZeneca Vs Sinovac

Oh Begitu
Penggundulan Hutan untuk Sawit Turun 58 Persen pada 2020, Kok Bisa?

Penggundulan Hutan untuk Sawit Turun 58 Persen pada 2020, Kok Bisa?

Fenomena
Terapi Ini bisa Bantu Pulihkan Anosmia Pasien Covid-19

Terapi Ini bisa Bantu Pulihkan Anosmia Pasien Covid-19

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Ghosting Disebut Psikolog Kurang Ajar | Nyeri Punggung Gejala Baru Covid-19

[POPULER SAINS] Ghosting Disebut Psikolog Kurang Ajar | Nyeri Punggung Gejala Baru Covid-19

Oh Begitu
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter, Ini Daftar Wilayahnya

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Waspadai Immunosenescence pada Lansia, Bisa Sebabkan Penurunan Respons pada Vaksinasi

Waspadai Immunosenescence pada Lansia, Bisa Sebabkan Penurunan Respons pada Vaksinasi

Oh Begitu
Fosil Anjing Purba di Jerman, Ungkap Asal Mula Domestikasi Serigala

Fosil Anjing Purba di Jerman, Ungkap Asal Mula Domestikasi Serigala

Fenomena
komentar
Close Ads X