Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kutub Selatan Semakin Berubah, Bisakah Diperbaiki?

Kompas.com - 24/04/2024, 20:57 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Matahari tengah malam di Kutub Selatan tampak melayang di tempatnya, tidak pernah terbenam di bawah cakrawala selama berminggu-minggu antara bulan November dan Januari.

Keabadian Antartika hanyalah ilusi. Satu dekade yang lalu, pada malam musim panas di seberang pantai di Kutub Selatan, matahari akan meluncur sedikit di atas lautan, menyinari bongkahan esnya dengan cahaya keemasan.

Namun, saat ini, sebagian besar lautan es tersebut tidak terlihat lagi, dan para ilmuwan semakin khawatir bahwa kondisi ini mungkin tidak akan pernah seperti semula.

Menurut Ella Gilbert, ilmuwan iklim kutub di British Antarctic Survey, Antartika terasa sangat jauh, namun lautan es di sana sangat berarti bagi manusia karena Antartika adalah bagian yang sangat penting dari sistem iklim di Bumi.

Sampai saat ini, es laut Antartika berfluktuasi antara suhu minimum musim panas yang relatif stabil dan suhu maksimum musim dingin.

Baca juga: Apakah Beruang Kutub Berbahaya bagi Manusia?

Namun, setelah mencapai rekor minimum pada tahun 2016, segalanya mulai berubah. Dua rekor terendah segera menyusul, termasuk rekor terendah terkecil yang pernah terjadi pada Februari 2023, yaitu hanya 1,91 juta km persegi.

Ketika musim dingin dimulai pada bulan Maret 2023, para ilmuwan berharap lapisan es akan pulih kembali. Namun, apa yang terjadi justru mengejutkan mereka: es Antartika mengalami rekor terendah dalam enam bulan terakhir. Pada puncak musim dingin di bulan Juli, benua ini kehilangan bongkahan es yang lebih besar dari Eropa Barat.

Kini, pada tahun 2024, luas es laut telah mencapai rekor terendah, yakni hanya 1,985 juta km persegi pada 20 Februari 2024.

Pergeseran kondisi jelas telah terjadi di Antartika, dan para ilmuwan iklim berlomba untuk memahami apa yang akan terjadi selanjutnya.

Gilbert mengatakan, ketika bagian mana pun dari sistem iklim berubah, dampaknya akan dirasakan di seluruh dunia, tidak langsung, tapi bertahun-tahun ke depan.

Baca juga: Ahli Ungkap Penyebab Samudra Antartika Punya Udara Paling Bersih di Bumi

Apa yang terjadi selanjutnya?

Dampak langsung dari berkurangnya es laut Antartika sudah mulai terasa. Misalnya, penurunan suhu pada tahun 2022 menyebabkan kematian massal ribuan anak penguin kaisar di Antartika Barat, dan para ilmuwan memperkirakan akan menemukan lebih banyak lagi kematian serupa pada tahun 2023.

Juga pada tahun 2022, Antartika Timur mengalami gelombang panas terbesar yang pernah tercatat , dengan suhu yang meningkat hingga 40 C di atas normal.

Selain itu, arus laut dalam di sekitar Antartika, yang telah melambat sebesar 30 persen sejak tahun 1990an, diperkirakan akan melambat sebesar 40 persen lagi pada tahun 2050.

Meskipun adanya percepatan respons yang disebabkan oleh umpan balik albedo terbalik, para ilmuwan berhati-hati untuk tidak menyebut penurunan es laut Antartika sebagai titik kritis yang tidak dapat diubah.

Namun, ilmuwan juga mencatat bahwa kekhawatiran yang lebih besar adalah kurangnya es di laut dapat memicu titik kritis lainnya di kawasan ini.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com