Kurva Covid-19 Disebut Melambat, Ahli: Rasio Test di Indonesia Rendah

Kompas.com - 11/05/2020, 07:03 WIB
RAPID TEST-Ratusan karyawan PT Digjaya Mulia Abadi (mitra PT HM Sampoerna) Madiun menjalani rapid test menyusul makin banyaknya pegawai PT HM Sampoerna di Surabaya yang dinyatakan positif Covid-19. KOMPAS.COM/MUHLIS AL ALAWIRAPID TEST-Ratusan karyawan PT Digjaya Mulia Abadi (mitra PT HM Sampoerna) Madiun menjalani rapid test menyusul makin banyaknya pegawai PT HM Sampoerna di Surabaya yang dinyatakan positif Covid-19.

Sementara Indonesia, rasio pemeriksaannya 0,4 orang per 1.000 penduduk. Intensitas pemeriksaan cukup landai, meningkat pada awal Mei 2020 meski tak signifikan.

Iqbal membandingkan data tersebut, antara Indonesia dengan Vietnam yang juga negara berkembang di Asia Tenggara namun dinilai sukses mengendalikan penularan Covid-19. Cakupan pemeriksaan Vietnam 10 kali lipat dari Indonesia.

Data lainnya, dari sekitar 8.000 orang yang diperiksa, Vietnam menemukan 1 kasus positif Covid-19. Sedangkan Indonesia, dari 7 orang diperiksa, 1 kasus positif langsung ditemukan.

Artinya, klaim bahwa kasus baru telah turun di Vietnam lebih meyakinkan karena mereka telah berusaha keras mencari satu kasus positif saja. Sedangkan di Indonesia, satu kasus positif ditemukan cukup dengan memeriksa 7 orang.

"Dengan kata lain, masih banyak orang yang terinfeksi tetapi belum diperiksa," katanya.

Baca juga: Di Tengah Pandemi Corona, Kapan Ibu Hamil Sebaiknya Kontrol Kandungan?

Oleh sebab itu, Iqbal menekankan untuk tidak terlalu terburu-buru dalam mengklaim penurunan kasus dalam kurva Covid-19. Lantaran, hal itu malah membuat publik menjadi skeptis, mempertanyakan angka dari klaim tersebut.

"Jangan terlalu terburu-buru, sabar dulu. Lihat dulu rasio pemeriksaan kita, kalau sudah yakin tinggi pemeriksaannya seperti Vietnam dan Malaysia, kita memang betul-betul mencari yang positif, baru kita boleh klaim terjadi penurunan kasus," ujarnya.

Kurva Covid-19 yang Dilaporkan Pemerintah Tak Sesuai Standar

Selain rasio test, Iqbal juga menyatakan kurva Covid-19 yang disampaikan pemerintah pada publik bukanlah kurva yang sesuai standar ilmu epidemiologi. Sehingga sulit untuk jadi tolok ukur dalam menilai perkembangan kasus yang sesungguhnya.

Dalam kurva, pemerintah hanya menampilkan sumbu Y (vertikal) yang menunjukkan jumlah kasus konfirmasi tambahan, sedangkan sumbu X (horisontal) mengenai tanggal pelaporan ke publik.

Standarnya, kurva epidemi terdiri dari sumbu Y yang menunjukkan jumlah kasus baru. Sedangkan sumbu X mengindikasikan patokan waktu analisis yang terkait dengan jumlah kasus baru, seperti tanggal orang terinfeksi, tanggal mulai bergejala, dan tanggal diperiksa.

Baca juga: Ahli: Mutasi Virus Corona Sesuatu yang Wajar, Ini Sebabnya

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X