Kematian ABK di Kapal China, Kasus Nyata Perbudakan Modern di Laut

Kompas.com - 10/05/2020, 19:00 WIB
Mereka mengaku harus bekerja selama 18 jam per hari, beberapa di antaranya harus bekerja selama dua hari berturut-turut (BBC Korea Selatan) Mereka mengaku harus bekerja selama 18 jam per hari, beberapa di antaranya harus bekerja selama dua hari berturut-turut (BBC Korea Selatan)

KOMPAS.com - Kematian empat orang Anak Buah Kapal ( ABK) Indonesia di kapal ikan berbendera China masih menjadi sorotan pemberitaan media Indonesia.

Kasus ini secara tidak langsung membuktikan masih adalah perbudakan di era modern.

Menanggapi video ABK yang viral tersebut, juru kampanye laut Greenpeace Asia Tenggara, Arifsyah Nasution angkat bicara.

Menurutnya, kondisi yang ditampilkan dalam video menunjukkan bagaimana buruknya kondisi kerja di atas kapal ikan yang sebenarnya.

Baca juga: Realita Pahit Kondisi ABK di Indonesia

"Video tersebut menggambarkan suatu kondisi yang bisa saja dialami oleh ABK, karena buruknya kondisi kerja di atas kapal ikan," kata Arifsyah kepada Kompas.com, Jumat (8/5/2020).

Ironisnya, perlakuan tidak terpuji ini sudah terjadi sebelumnya dan saat ini kembali terulang dan terbongkar.

"Beredar juga (video) serupa di sosial media sebelumnya. Jadi terulangnya kejadian serupa ini sangat disesalkan," ungkap Arifsyah.

Kepada Kompas.com, Arifsyah mengatakan bahwa apa yang dialami ABK Indonesia di kapal ikan berbendera China merupakan contoh nyata perbudakan modern di laut.

Arifsyah menambahkan, Greenpeace pernah melakukan investigasi terkait persoalan ini, yang kemudian didapatkan pengakuan korban berdasarkan wawancara dan analisa kontrak kerja.

Dalam data yang dirilis Greenpeace pada 17 Maret 2020, ada enam perusahaan perekrutan dan penempatan ABK asal Indonesia (manning agency) ke kapal ikan luar negeri yang beroperasi jarak jauh, yang diduga kuat memunculkan korban kerja paksa dan perbudakan modern di kapal perikanan asing jarak jauh.

"Banyaknya pelanggaran terhadap Anak Buah Kapal Ikan dari Indonesia yang ditempatkan di kapal-kapal ikan luar negeri tersebut memiliki hubungan yang erat dengan perusahaan manning agency di Indonesia yang melakukan perekrutan dan penempatan di kapal ikan luar negeri," tulis Greenpeace dalam laporan berjudul Jeratan Bisnis Kotor Perbudakan Modern di Laut: Sebuah Laporan Investigasi.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X