Eksploitasi Pekerja di Sektor Perikanan Bukan Hal Baru di Indonesia

Kompas.com - 10/05/2020, 19:30 WIB
Ilustrasi: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali menangkap kapal ikan asing (KIA) yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI).  Dok. PSDKP KKPIlustrasi: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali menangkap kapal ikan asing (KIA) yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI).

KOMPAS.com – Dibandingkan dengan perdagangan manusia pada sektor lain, eksploitasi pekerja pada sektor perikanan adalah yang paling parah.

Hal itu disebutkan dalam penelitian yang dilakukan oleh International Labour Organization (ILO) pada 2006.

“Pekerja dalam sektor perikanan adalah yang paling rentan eksploitasi dibandingkan dengan sektor migran lainnya. Kondisi bekerja pada kapal penangkap ikan bahkan lebih buruk dalam hal penangkapan ikan. Pemaksaan untuk terus bekerja bukanlah hal baru di kapal penangkap ikan,” tulis laporan tersebut.

Baca juga: Realita Pahit Kondisi ABK di Indonesia

Tak terkecuali di Indonesia, yang faktanya menjadi salah satu pusat perdagangan manusia sekaligus destinasi dan transit bagi korban baik asal dalam maupun luar negeri.

Hal itu diungkapkan dalam laporan berjudul “Report on Human Trafficking, Forced Labour and Fisheries Crime in the Indonesian Fishing Industry”. Laporan tersebut dipublikasikan pada 2016, dibuat oleh International Organization for Migration (IMO) bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Conventry University.

Pada 2015 saja, lebih dari 1.000 nelayan dari Myanmar, Kamboja, Thailand, dan Laos ditemukan terjebak di Ambon dan Benjina. Mereka diperdagangkan dari negara asalnya, dipaksa untuk bekerja 20 jam dalam sehari di atas kapal.

Tak hanya pria dewasa

Perdagangan dan eksploitasi manusia dalam sektor perikanan di Indonesia bukanlah hal baru. Pada 1999, International Labour Organization (ILO) melakukan studi terhadap pekerja anak-anak dalam sebuah instalasi penangkapan ikan yang disebut jermal.

Jermal adalah alat penangkap ikan yang berbentuk pagar dari pancang kayu. Terdapat sebuah pintu dan di belakangnya diberi jala untuk dapat diangkat setelah mendapatkan ikan. Jermal dipasang sekitar tiga hingga enam mil dari tepi pantai.

Para Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia menceritakan pengalaman mereka selama berada di kapal China.KFEM via BBC Para Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia menceritakan pengalaman mereka selama berada di kapal China.

Hampir semua pekerja di jermal merupakan anak laki-laki di bawah usia 14 tahun.

Mereka biasa direkrut dari desa nelayan terdekat dengan kontrak kerja selama tiga bulan, dan gaji yang menggiurkan. Namun, perekrut biasanya tidak menjelaskan kondisi pekerjaan itu dengan jelas.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X