Eksploitasi Satwa Liar dapat Tingkatkan Transmisi Virus ke Manusia

Kompas.com - 08/04/2020, 18:31 WIB
Ilustrasi trenggiling yang diburu dan dijadikan bahan obat tradisional SHUTTERSTOCK/PATRICK FONSECAIlustrasi trenggiling yang diburu dan dijadikan bahan obat tradisional

KOMPAS.com- Penelitian baru mengungkapkan akibat ketidakharmonisan manusia dengan alam seperti eksploitasi satwa liar, dapat meningkatkan risiko transmisi virus hewan ke manusia.

Mungkin ini juga yang menjadi alasanya mewabahnya virus corona, sehingga menyebabkan pandemi Covid-19 di seluruh dunia. 

Studi yang dilakukan University of California menyebut eksploitasi melalui perburuan, perdagangan, degradasi habitat telah memfasilitasi kontak erat antara satwa liar dan manusia yang meningkatkan risiko penyebaran virus.

Baca juga: Kasus Pertama di Dunia, Harimau Terinfeksi Virus Corona

"Penyebaran virus dari hewan merupakan akibat langsung dari aktivitas manusia yang melibatkan satwa liar dan habitatnya," ungkap Christine Johnson, peneliti utama dari University of California.

Seperti dikutip dari Newsweek, Selasa (8/4/2020), Johnson menjelaskan jika virus melompat ke spesies lain ketika ada kontak yang cukup dekat, memungkinkan penularan antara hewan yang terinfeksi dengan orang yang retan.

Selanjutnya, hewan dalam kontak dekat tersebut dapat berbagi virus dengan manusia melalui percikan ludah atau kotoran, urin, atau darah.

Baca juga: Bukan Ular atau Kelelawar, Trenggiling Disebut Penyebar Virus Corona ke Manusia

Untuk penelitian ini, Johnson bersama tim menyelidiki penularan virus dari hewan ke manusia ini.

Dilansir dari Phys, penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data dari 142 virus yang diketahui telah menyebar ke manusia serta spesies hewan yang terlibat sebagai inang.

Selanjutnya, tim memeriksa populasi hewan tersebut, risiko kepunahan, dan faktor-faktor yang mungkin menyebabkan penurunan populasi hewan.

Joly Adrian saat melayani pembeli daging kelelawar di Pasar Pinasungkulan Karombasan, Kota Manado, Selasa (28/1/2020) pukul 08.23 WITAKOMPAS.com/SKIVO MARCELINO MANDEY Joly Adrian saat melayani pembeli daging kelelawar di Pasar Pinasungkulan Karombasan, Kota Manado, Selasa (28/1/2020) pukul 08.23 WITA

Hasil analisis juga mengungkapkan spesies hewan liar yang populasinya menurun akibat kegiatan manusia. Di antaranya seperti perburuan, perdagangan, dan penurunan kualitas habitat hewan liar.

Dampak dari kegiatan itu diperkirakan potensi inang bagi virus zoonosis dua kali lebih besar dibanding spesies lain.

Eksploitasi tersebut biasanya melibatkan kontak yang sangat dekat dan memfasilitasi penularan penyakit.

Baca juga: Waspada Penyebaran Virus Corona dari Satwa Liar

 

Peluang virus melompar dari satwa liar ke manusia

 

Hewan liar yang dijual di pasar juga akan becampur dengan kepadatan hewan serta manusia, sehingga ini peluang sempurna bagi virus untuk melompat ke berbagai spesies yang tak bakal terjadi di habitat aslinya.

"Kondisi ini telah mempercepat timbulnya penyakit dari satwa liar dan menempatkan manusia pada risiko pandemi," tambah Johnson.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X